Share

Mengenang Akhlak Terpuji KH Dimyati Rois, Simak di Sini Kisah Ketua Bidang Keagamaan DPP Partai Perindo

Tim Okezone, Okezone · Jum'at 10 Juni 2022 21:31 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 10 337 2609566 mengenang-akhlak-terpuji-kh-dimyati-rois-simak-di-sini-kisah-ketua-bidang-keagamaan-dpp-partai-perindo-MNXmNqFRM2.jpg Ketua Umum Partai Perindo, Hary Tanoesoedibjo, KH Dimyati Rois, dan Abdul Khaliq Ahmad (foto: dok pribadi)

JAKARTA - Ketua Bidang Keagamaan DPP Partai Persatuan Indonesia (Perindo), Abdul Khaliq Ahmad turut berbelasungkawa atas wafatnya Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Al Fadhlu Wal Fadhilah di Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah, KH Dimyati Rois atau Mbah Dim.

Bagi Khaliq, KH Dimyati Rois merupakan sosok ulama yang visioner, kharismatik, alim dan berwawasan politik yang sangat luas.

"Oleh karena itu, Mbah Dim lebih dikenal sebagai "Kiyai Politik" di lingkungan Nahdlatul Ulama," kata Khaliq dalam keterangan resminya, Jumat (10/6/2022).

 BACA JUGA:KH. Dimyati Rois Wafat, Sekjen: Partai Perindo Berbelasungkawa, Kita Kehilangan Ulama Moderat

Pandangan dan sikap politik Mbah Dim, kata Khaliq, tidak saja didasarkan pada fenomena politik aktual. Namun juga, kata Khaliq, pada sikap dan perilaku politik tokoh yang dianggap layak sebagai patron.

Ini dilihat, baik dari aspek kompetensi dan intelektualitas maupun keberanian Mbah Dim dalam bersikap, meski berbeda dengan politik arus utama (mainstream) pada zamannya.

"Dalam konteks itu, tokoh politik yang sangat dikagumi oleh Mbah Dim adalah KH Wahab Chasbullah dan H Subhan ZE. Kedua tokoh tersebut dianggap piawai dan sangat mumpuni dalam strategi politik," ungkapnya.

 BACA JUGA:Profil KH Dimyati Rois: Ulama Tawadhu, Bersahaja, dan Ahli Sejarah

Referensi politik Mbah Dim lainnya, lanjut Khaliq, adalah kecuali kisah Nabi-nabi yang termaktub dalam Alquran, dan perangai Nabi Muhammad SAW beserta sahabat-sahabatnya, juga kitab-kitab klasik karangan ulama terkemuka.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut bersama Lifebuoy x MNC Peduli Tengah Berlangsung!

Menurutnya, Mbah Dim memiliki akhlak terpuji sebagai pribadi yang bersahaja, mandiri dan independen. Guna membiayai kebutuhan pondok pesantren yang diasuhnya, lanjut Khaliq, diperoleh dari hasil tambak dan sawah yang cukup luas.

"Sehingga, tidak ada ketergantungan Mbah Dim pada pihak manapun," pungkas Khaliq.

Khaliq mengaku interaksi dirinya dengan Mbah Dim terjadi cukup lama dan intens pada kurun waktu tahun 1992-2003.

Ini dimulai saat keduanya sama-sama dilantik sebagai Anggota MPR-RI pada 1992-1997 dan masuk ke dalam Fraksi yang sama, yaitu PPP.

"Meski Mbah Dim berasal dari unsur Utusan Daerah Jawa Tengah, tetapi dalam pengelompokan politik masuk di dalam Fraksi PPP bersama saya yang mewakili perimbangan partai politik," ujar Khaliq.

Pertemuan dengan Mbah Dim semakin intensif menjelang Muktamar PPP tahun 1994. Ini ketika H Matori Abdul Djalil, Sekjen PPP, dijagokan sebagai calon Ketua Umum PPP untuk menggantikan Buya Ismail Hasan Metarium. Demikian pula, saat H Matori Abdul Djalil menjadi Ketua Umum PKB dan Menteri Pertahanan.

"Pertemuan dengan Mbah Dim kerap dilakukan dan saya selalu hadir dalam pertemuan kedua tokoh tersebut," ungkapnya.

Pertemuan intensif berikutnya dengan Mbah Dim, sambung Khaliq, terjadi pada peristiwa menjelang Reformasi 1998, pendirian PKB, Pemilu 1999, Sidang Istimewa MPR 2001, dan persiapan menjelang Pemilu 2004.

"Saat beliau menjadi Ketua Dewan Syuro Partai Kejayaan Demokrasi (PEKADE), Pak Matori Abdul Djalil sebagai Ketua Umum dan saya sebagai Sekjen," tuturnya.

Mendengar kabar Mbah Dim wafat, Khaliq begitu merasa sedih dan kehilangan sosok ulama panutan. Bukan hanya di bidang agama, tetapi juga di bidang politik.

"Semoga Allah SWT memberikan maghfirah dan rahmat-Nya, mengelompokkan beliau dalam barisan orang-orang shaleh dan surga sebagai tempat kembalinya. Aamiin," tutup Khaliq.

Diketahui, Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Dimyati Rois wafat pada Jumat (10/6/2022) dini hari.

KH Dimyati Rois atau biasa dipanggil Mbah Dim dimakamkan di Pondok Pesantren Al Fadlu 2 Srogo Desa Sidorejo Brangsong Kabupaten Kendal yang dilangsungkan seusai salat Jumat.

KH Dimyati Rois wafat di usia 77 tahun sekira pukul 01.13 WIB saat menjalani perawatan di RS Tlogorejo Kota Semarang. Mbah Dim lahir di Tegal Glagah Bulakamba, Brebes, pada 5 Juni 1945.

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini