Share

Kerajaan Pajajaran Tamat Berkat 3 Serangan Mematikan Kesultanan Banten

Avirista Midaada, Okezone · Jum'at 03 Juni 2022 06:02 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 03 337 2604699 kerajaan-pajajaran-tamat-berkat-3-serangan-mematikan-kesultanan-banten-dUhlDBVFfS.jpg Ilustrasi (Foto : Istimewa)

SERANGKAIAN serangan dari Kerajaan Banten ke Pajajaran buat menyerah. Konon ada tiga serangan mematikan Kerajaan Banten yang buat Pajajaran melemah hingga akhirnya berhasil dikuasai.

Kerajaan Banten sendiri melancarkan serangannya berkat koalisi dukungan dari Kesultanan Demak dan Cirebon. Dimana saat itu Banten berhasil dikuasai pasukan Demak dan Cirebon, atas petunjuk Syarif Hidayatullah akhirnya memindahkan pusat pemerintahan Banten Girang ke pelabuhan Banten dari pedalaman.

Pada akhirnya Kerajaan Banten merupakan satu kerajaan islam di Jawa yang masih satu frekuensi dengan Demak dan Cirebon. Di sisi lain, berdirinya Kerajaan Banten membuat Kerajaan Pajajaran kian terusik. Dikisahkan pada buku "Hitam Putih Pajajaran : Dari Kejayaan Hingga Keruntuhan Kerajaan Pajajaran" dari tulisan Fery Taufiq El Jaquenne, Pajajaran tak memiliki kedekatan dengan Banten, apalagi sebelumnya merupakan daerah kekuasannya.

Masih ada keinginan kembali dari Pajajaran untuk menguasai Banten lagi. Saat itu Pajajaran dipimpin oleh Surawisesa, pasca rajanya Prabu Siliwangi mangkat. Di saat itulah, beberapa kali terjadi pergolakan di wilayah - wilayah kerajaan kecil di sekitar Pakuan yang awalnya kerajaan bawahan. Tetapi oleh Surawisesa berhasil ditangani dengan susah payah.

Di sisi lain Banten begitu mempersiapkan dirinya untuk menyerang Pajajaran, pasukan sudah dilatih sedemikian rupa untuk menghadapi serangan sewaktu-waktu. Bahkan serangan Banten ke ibu kota Pakuan benar-benar dilakukan. Tetapi kuatnya benteng pertahanan Pajajaran yang dibangun sejak Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi membuat pasukan Banten kembali dan mundur.

Tetapi serangan itu menyisakan duka bagi Kerajaan Pajajaran yang saat itu dipimpin oleh Ratu Dewata, pasca raja Surawisesa mangkat. Sebab dua punggawa terkenal dan disegani di Pajajaran yakni Tohaan Ratu Sarendet dan Tohaan Ratu Sangiang gugur di medan peperangan.

Perlahan tapi pasti, dukungan kerajaan kecil di bawah kekuasaan Pajajaran mulai hilang. Hal ini menjadi kesempatan lagi bagi Banten untuk kembali menyerang Pakuan. Apalagi ini diperkuat saat raja sudah dihiraukan lagi oleh masyarakat sebab tidak ada kepedulian dalam menyejahterakan rakyatnya.

Baca Juga: KKP Pastikan Proses Hukum Pelaku Perdagangan Sirip Hiu Ilegal di Sulawesi Tenggara

Catatan sejarah menuliskan ada tiga kali gelombang serangan Banten ke Pakuan, ibu kota Pajajaran. Serangan ini dilakukan saat masa pemerintahan Ratu Dewata, atau setelah Surawisesa lengser. Diperkirakan dari catatan sejarah serangan ini terjadi sekitar 1535 Masehi hingga 1543 Masehi yang membuat dua punggawa kerajaan gugur.

Serangan kedua terjadi saat pemerintahan Prabu Nilakendra sekitar tahun 1551 Masehi hingga 1567 Masehi. Dimana dikisahkan dalam suatu naskah "Alah prengrang mangka tan nitih ring kadat-wan" yang artinya kalah perang, karena itu tidak tinggal di keraton. Dimana saat itu berkat serangan dari pasukan Banten, Raja Nilakendra terpaksa melarikan diri dari istana ke sebuah wilayah di Sukabumi selatan.

Adapun serangan ketiga yang dinilai benar-benar membuat riwayat Kerajaan Pajajaran tamat saat Pajajaran dipimpin oleh Ragamulya. Dimana ia merupakan raja terakhir dari Pajajaran yang memerintah sekitar tahun 1567 hingga 1579 Masehi. Namun ia memindahkan pusat pemerintahan ke Pulasari, Pandeglang, bukan lagi di ibu kota Pakuan Pajajaran, yang berhasil dihancurkan Banten di serangan keduanya.

Tetapi pada akhirnya serangan Maulana Yusuf dari Kesultanan Banten membuat Kerajaan Pajajaran benar-benar luluh lantak. Sang Raja Prabu Ragamulya Suryakancana berhasil dibunuh oleh prajurit Banten di Pulasari, Pandeglang.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini