Share

Keterikatan Kerajaan Majapahit dengan Etnis Tionghoa

Avirista Midaada, Okezone · Kamis 02 Juni 2022 06:16 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 02 337 2603984 keterikatan-kerajaan-majapahit-dengan-etnis-tionghoa-wJL7VtWw8V.jpg Ilustrasi (Foto : Istimewa)

KERAJAAN Majapahit konon sejak lama memiliki hubungan dengan etnis Tionghoa. Bahkan sebuah dokumen dari kelenteng Sama Po Kong menyebut Kerajaan Majapahit konon pernah diperintah oleh seorang keturunan Tionghoa. Penguasa bernama Njoo Lay Wa ini diangkat sebagai bupati di Majapahit menggantikan Raja Kertabhumi yang ditahan dan dibawa ke Demak.

Sayang pengangkatan Njoo Lay Wa sebagai penguasa di Majapahit ditentang oleh rakyat Majapahit. Sebagaimana dikutip dari buku "Runtuhnya Kerajaan Hindu Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara" karangan Prof. Slamet Muljana, mengisahkan saat itu rakyat Majapahit menentang pemerintahan Njoo Lay Wa.

Bahkan pemberontakan pun terjadi dan terkesan layaknya ajang balas dendam orang-orang Jawa atau Majapahit terhadap orang-orang Tionghoa. Penguasa Njoo konon terbunuh di pusat Majapahit pada tahun 1485.

Setelah itu, Panembahan Jimbun mengangkat iparnya yang pada berita Tionghoa disebut Pa Bu Ta La. Identifikasi tokoh Pa Bu Ta La ini merupakan Prabu Girindrawardhana. Nama Girindrawardhana sendiri tercantum pada prasasti Jiyu dari tahun Saka 1408 atau tahun Masehi 1486, dengan nama Dyah Ranawijaya.

Raja Majapahit juga konon menikah dengan seorang keturunan Tionghoa yang kemudian menghasilkan seorang anak bernama Raden Kusen. Sang anak ini konij memiliki ketekunan dan keuletan kerja, tidak takut pada kesusahan, dan tidak kenal lelah saat bekerja.

Raden Kusen pulalah yang akhirnya juga turut membantu meruntuhkan kerajaan sang ayahnya. Ia bersama Jin Bun yang saat itu berusia 23 tahun melakukan penyerbuan ke Kerajaan Majapahit. Sementara Kin San alias Raden Kusen berhasil menyelundup ke dalam keraton Majapahit, sebagai spion dalam usia hampir sama dengan Jin Bun.

Kedua tokoh itu lantas berhasil merongrong kekuatan Majapahit dari dalam. Kemudian membangun pelabuhan Semarang dan membuat meriam-meriam besar yang digunakan untuk menyerang Kota Malaka.

Baca Juga: Dukung Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, Kabupaten Morowali Hibahkan Tanah ke KKP

Dokumen dari Klenteng Sam Po Kong sendiri merupakan sumber sejarah baru, yang dapat dibandingkan dengan Babad Tanah Jawi dan Serat Kanda yang dianggap seperti dongengan dengan banyak mengandung fantasi. Dokumen kronik dari Klenteng Sam Po Kong di Semarang sendiri menggunakan tarikh tahun kelenteng itu sendiri.

Klenteng Sam Po Kong didirikan pada tahun 9 masa pemerintahan kaisar Yung Lo, sama dengan tarikh Hijriyah 814 atau tahun Masehi 1411. Segala macam kejadian yang termuat pada kronik Tionghoa tersebut selalu disertai dengan tarikh tahun kelenteng.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini