Share

TGB: Menerima Keragaman dalam Islam Itu Otentik Bukan Siasat

Tim Okezone, Okezone · Selasa 31 Mei 2022 15:28 WIB
https: img.okezone.com content 2022 05 31 337 2603260 tgb-menerima-keragaman-dalam-islam-itu-otentik-bukan-siasat-u1JIqZITai.jpg TGB (Foto: MNC Portal)

MATARAM – Keragaman yang dimiliki oleh bangsa Indonesia adalah anugerah. Keragaman ini pun harus disyukuri dan diterima dengan baik.

Ketua Organisasi Internasional Alumni Al Azhar (OIAA) Indonesia TGB HM Zainul Majdi mengatakan, menerima keragaman dalam Islam sesuatu yang otentik, bukan siasat maupun strategi.

“Menghormati keragaman ini bukan hanya sebagai bangsa supaya aman dan damai,” katanya, dalam silaturahmi TGB Center di Mataram, Senin (30/5/2022).

Ia menjelaskan, toleransi itu otentik dan genuine dalam Islam. Sehingga toleransi bukan sesuatu yang pragmatis, hari ini dilakukan karena ada kebutuhan, kemudian di lain kesempatan tak butuh lagi toleransi.

“Bukan seperti itu. Sikap toleran itu bagian yang diajarkan oleh Baginda Nabi Muhammad,” sambungnya.

Baca juga: Buya Syafii Maarif Wafat, TGB: Selamat Jalan Guruku Teladanmu Selalu Bersama Kami

Doktor Ahli Tafsir Alquran ini melanjutkan, Nabi Muhammad begitu menghormati keragaman. Bicara prilaku sosial dalam keputusan nabi tak sekadar baik dan adil, ada afirmasi sebagai peneguhan.

“Misalnya, orang Yahudi tinggal bersama rasul. Sirah mencatat katib (sekretaris) beliau itu Yahudi. Ya, kalau Nabi Presiden, Sesnegnya Yahudi,” bebernya.

Baca juga: Peringatan Harkitnas, TGB: Mari Kita Perbanyak Perjumpaan

Hal lain yang dilakukan nabi mempersilahkan Kristen Najran menggelar misa di Masjid Nabawi. Dikisahkan, umat Kristen Najran saat itu ingin berjumpa Nabi Muhammad, kemudian mereka tiba di waktu Ashar dan harus beribadah.

Baca Juga: Peringati Hari Lahir Pancasila, Pengawas KKP Lakukan Upacara Bawah Laut

“Memang tak dapat diambil harfiah, tentu situasinya berbeda. Tapi ini menunjukkan, toleransi itu otentik, toleransi kebebasan beragam kuat dijaga dalam Islam,” ucapnya.

“Kalau ada umat Islam membakar gereja, itu siapa nabinya,” sambung TGB.

TGB mengingatkan, jangan sampai karena urusan pribadinya terganggu, dianggap yang nonmuslim menyakiti. Kemudian dibawa hawa nafsu dan dendamnya hingga pada soal agama.

“Urusan pribadi lalu kita seret-seret soal agama. Padahal sebenarnya tak ada urusan dengan itu (agama),” tutupnya.

Baca juga: Halalbihalal MNC Group, TGB: Saling Memaafkan Itu Tidak Lagi Bertanya Siapa yang Bersalah

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini