Share

Deretan Fenomena Banjir Rob Paling Parah yang Pernah Terjadi di Indonesia

Tim Litbang MPI, MNC Portal · Jum'at 27 Mei 2022 06:10 WIB
https: img.okezone.com content 2022 05 26 337 2600703 deretan-fenomena-banjir-rob-paling-parah-yang-pernah-terjadi-di-indonesia-F8mT0t9bvw.jpg Banjir rob di Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang, Jawa Tengah (Foto: Antara)

BANJIR rob adalah fenomena tahunan yang selalu muncul di wilayah yang dekat dengan pantai. Mengutip dari Kanal Kebencanaan Geografi Universitas Gajah Mada (UGM), banjir rob atau banjir pasang surut air laut merupakan pola fluktuasi muka air laut yang dipengaruhi oleh gaya tarik benda-benda angkasa, terutama oleh bulan dan matahari terhadap massa air laut di bumi.

Penyebab banjir rob berasal dari alam, yakni kenaikan muka air laut yang disebabkan oleh pasang surut air laut, ditambah faktor eksternal lainnya, seperti dorongan air, angin, badai di laut, serta pencairan es kutub karena pemanasan global.

Selain itu, banjir rob juga terjadi akibat ulah manusia, misalnya pemompaan air tanah berlebihan, pengerukan alur pelayaran, dan reklamasi pantai. Tren banjir rob di Indonesia meningkat dari tahun 2008 hingga saat ini. Akibatnya, banyak daerah di Indonesia yang mengalami banjir rob.

Berikut ini fenomena banjir rob paling parah yang pernah terjadi di Indonesia: 

1. Banjir Rob di Pulau Pari

Pulau Pari yang terletak di Kepulauan Seribu merupakan salah satu daerah wisata di Jakarta. Pada 2021, Kelurahan Pulau Pari mengalami 5 kali banjir rob.

Terakhir, sebanyak 6 lokasi terdampak banjir rob, dengan ketinggian air mencapai 50 cm hingga 1,3 meter. Di tahun sebelumnya, Pulau Pari juga diterjang banjir rob.

Baca Juga: Dukung Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, Kabupaten Morowali Hibahkan Tanah ke KKP

Pada Juli 2020 banjir rob yang terjadi bahkan merupakan kedua kalinya dalam setahun. Fenomena banjir rob kala itu berbeda dengan banjir-banjir sebelumnya.

Seorang warga sepuh di Pulau Pari, Rohani, yang sudah 65 tahun tinggal di sana, mengatakan bahwa baru pada tahun 2020 banjir rob ini sampai ke darat. Biasanya banjir rob hanya sampai di bibir pantai saja.

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jakarta mengatakan, fenomena banjir rob ini tidak terlepas dari dampak perubahan iklim secara global. Tidak hanya banjir rob, di sebelah timur Pulau Pari juga terjadi abrasi pantai yang menyebabkan kalender musim tidak menentu dan jumlah iklan semakin menurun.

Akibat dari kejadian tersebut, tujuh warung warga tenggelam dan sumur salah satu warga menjadi asin dan tidak dapat digunakan lagi.

2. Banjir Rob di Manado 

Pada awal tahun 2021, sederet bencana alam terjadi di Indonesia menyebabkan banyak korban jiwa dan pengungsi. Bencana yang terjadi ini didominasi oleh banjir sebanyak 232 kejadian. Pada 17 Januari 2021, banjir rob melanda pesisir Manado, Sulawesi Utara.

Banjir rob terjadi dengan air pasang yang disertai gelombang tinggi sekitar empat meter menerjang kampung nelayan di sekitar kawasan niaga Megamas, Manado. Kejadian ini menyebabkan delapan perahu nelayan hancur dan dua belas lainnya rusak ringan.

Data BMKG menunjukkan, tinggi gelombang yang terjadi melebihi angka-angka harian setinggi 1,7-2 meter. Tinggi gelombang pada saat itu mencapai 2,5 meter hingga 4 meter. 

3. Banjir Rob di Pesisir Pantai Utara Jawa Tengah

Banjir rob terjadi di pesisir Kota Semarang, tepatnya di kawasan sekitar Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang, pada 23 Mei 2022. Selain menerjang wilayah tersebut, banjir rob juga meluas ke beberapa kabupaten lain di kawasan pantai utara Jawa Tengah.

Dikabarkan, Demak dan Pekalongan terdampak banjir rob. Koordinator Observasi dan Informasi Stasiun Meteorologi Maritim Tanjung Emas Semarang Ganisa Erutjahjo mengungkapkan, pertengahan Mei hingga Juni ini terjadi fenomena alam puncak pasang tertinggi karena posisi jarak bumi dan bulan yang dekat.

Fenomena ini juga diiringi dengan tinggi gelombang laut yang berkisar 1,25 meter hingga 2 meter. Faktor lain yang menjadikan banjir rob kali ini lebih parah dibanding sebelumnya adalah jebolnya tanggul penahan air di kawasan Pelabuhan Tanjung Emas. Hal ini mengakibatkan limpasan air lebih banyak ke daratan.

Sementara itu, Kepala Stasiun Meteorologi Maritim Tanjung Emas Semarang, Retno Widyaningsih mengatakan bahwa tingginya banjir rob ini terjadi karena jarak bumi dan bulan ada di posisi terdekat, atau biasanya disebut dengan fenomena Perigee.

Diiringi juga dengan tinggi gelombang perairan utara Jawa Tengah yang mencapai 1,25-2,5 meter. Akibat banjir rob ini, sejumlah wilayah terendam, dengan ketinggian hingga 2 meter di kawasan yang terdampak paling parah.

Diolah dari berbagai sumber/Septi Kurnia/Litbang MPI

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini