Share

Ketika Bung Karno Blusukan, Ubah Penampilan hingga Dikerubungi Rakyat

Tim Okezone, Okezone · Kamis 26 Mei 2022 07:12 WIB
https: img.okezone.com content 2022 05 26 337 2600478 ketika-bung-karno-blusukan-ubah-penampilan-hingga-dikerubungi-rakyat-MBUD22Yuve.jpg Bung Karno (Foto: Ist)

JAKARTA - Presiden Soekarno kerap merasa badannya lemas dan tak bernafsu jika dirinya tak bisa keluar dan bersatu bersama rakyat-rakyat jelata. Dia harus blusukan berputar-putar keliling kota.

Hanya dengan seorang ajudan berpakaian preman. Pakaian seragam dan peci hitam merupakan tanda pengenal Bung Karno. Namun, adakalanya pada malam hari, dirinya menukar pakaian, pakai sandal, pantalon dan kalau hari terlalu panas hanya memakai kemeja.

BACA JUGA:4 Tokoh Dunia yang Pernah Dipenjara, Ada Bung Karno! 

Kemudian, dengan memakai kacamata bingkai tanduk, penampilan Bung Karno membuat orang pangling. Dirinya pun bisa berkeliaran tanpa dikenal orang.

Bung Karno melakukan hal tersebut karena ingin melihat kehidupan. Dirinya adalah kepunyaan rakyat dan harus melihat, mendengarkan dan bersentuhan dengan mereka.

Perasaan Bung Karno akan tenteram kalau berada di antara rakyat. Baginya, rakyat adalah roti-kehidupan. Dirinya mendengarkan percakapkan mereka, mendengarkan mereka berdebat, berkelakar dan bercumbu kasih.

Dengan begitu, Bung Karno merasakan kekuatan hidup mengalir ke seluruh batang tubuhnya. Naik mobil kecil tanpa tanda pengenal, kadang Bung Karno berhenti dan membeli sate di pinggiran jalan. Duduk seorang diri di pinggir trotoar dan menikmati jajanannya dari bungkus daun pisang.

BACA JUGA:Guncang Ribuan Massa di Kota Singa, Pekik Merdeka Bung Karno Bikin Singapura Meradang 

Baca Juga: KKP Pastikan Proses Hukum Pelaku Perdagangan Sirip Hiu Ilegal di Sulawesi Tenggara

Hal itu adalah saat-saat menyenangkan baginya. Kendati, rakyat segera mengenalinya apabila mendengar suaranya. Seperti pada suatu malam Bung Karno pergi ke Senen, di sekitar gudang kereta api, dengan seorang Komisaris Polisi.

Bung Karno berputar-putar di tengah-tengah rakyat dan tak seorang pun memperhatikan mereka. Hingga akhirnya, untuk sekadar berbicara Bung Karno bertanya kepada seorang laki-laki, dari mana diambil batubata ini dan bahan konstruksi yang sudah dipanjangkan ini ?"

Sebelum ia dapat memberikan jawaban, terdengar teriakan, Hee," teriak suara perempuan, Itu suara Bapak Ya suara Elapak Hee, orang-orang, ini Bapak Bapak. 

Dalam beberapa detik ratusan kemudian ribuan rakyat datang berlari-lari dari segala penjuru. Dengan cepat Komisaris itu membawa Bung Karno keluar dari situ, masuk mobil dan menghilang.

Bagi Bung Karno, bila dilihat secara keseluruhan maka jabatan Presiden tak ubahnya seperti suatu pengasingan yang terpencil.

Kisah ini disadur dari Buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia karya Cindy Adams

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini