Share

Epidemiolog: Masker Senjata Penting Hadapi Wabah Apapun Status Negara

Antara, · Kamis 26 Mei 2022 00:01 WIB
https: img.okezone.com content 2022 05 25 337 2600414 epidemiolog-masker-senjata-penting-hadapi-wabah-apapun-status-negara-EiRVIFOr5K.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Epidemiolog Griffith University Australia Dicky Budiman menekankan bahwa penggunaan masker tetap menjadi senjata penting yang didampingi oleh vaksinasi dalam menghadapi wabah apapun status kondisi suatu negara.

“Masker adalah senjata atau perlindungan kita dalam menghadapi wabah sebetulnya. Dalam hal ini, masih dalam status pandemi Covid-19, penggunaan masker jadi sangat jelas karena masker dan vaksin adalah senjata yang sangat jelas dalam menekan kasus,” kata Dicky, Rabu (26/5/2022).

Dicky menuturkan bahwa meskipun pemerintah Indonesia sudah melakukan pelonggaran atas pemakaian masker di ruang terbuka, lebih baik bila masker terus digunakan karena dapat mengurangi potensi seseorang terpapar suatu penyakit yang menular melalui udara seperti Covid-19.

Walaupun kondisi pandemi di Indonesia sudah dapat dikatakan terkendali dan kasus mengalami pelandaian, status vaksinasi yang saat ini dicapai bukanlah kunci satu-satunya untuk mengakhiri sebuah pandemi.

Baca juga: Epidemiolog Sebut Kekebalan Komunal Picu Turunnya Kasus Covid-19

Tingginya cakupan vaksinasi, harus tetap diimbangi dengan kombinasi protokol kesehatan lainnya seperti penggunaan masker tepat di area hidung, rajin mencuci tangan dengan sabun di bawah air mengalir, menjaga jarak dan tak lupa untuk menerapkan pola hidup bersih di manapun.

Baca juga: Epidemiolog: Penguatan Prokes Kunci Menuju Endemi Covid-19

Dicky turut menekankan bahwa tidak ada satupun negara yang benar-benar siap untuk melepaskan masker di tengah pandemi karena penularan masih akan terus terjadi di tengah masyarakat, meskipun laju penularannya cenderung lebih mengecil.

“Sebagai epidemiolog, saya katakan penggunaan masker itu masih sangat penting. Sehingga transisi tanggung jawab yang tadinya bersifat mandatory menjadi voluntery, perannya sekarang ada di masing-masing individu dan keluarga dalam melindungi komunitas,” ucap Dicky.

Sebab penularan sekecil apapun di ruang terbuka, tetap berpotensi meningkatkan fatalitas di fasilitas kesehatan, utamanya pada kelompok rentan seperti lansia, penderita komorbid dan anak-anak yang belum bisa mengikuti kegiatan vaksinasi Covid-19.

Dicky juga menjelaskan bahwa pemakaian masker adalah untuk siapa saja tanpa terkecuali. Tidak boleh ada pihak yang lengah oleh landainya kondisi pandemi agar gelombang ataupun wabah baru tidak terjadi lagi baik di Indonesia maupun dunia.

“Apalagi dengan ancaman-ancaman yang ada seperti hepatitis akut pada anak ya, tetap ini perilaku hidup sehat tetap jadi andalan. Kemudian yang harus disiapkan oleh pemerintah saat ini adalah dengan cakupan vaksinasi yang lebih baik ditingkatkan supaya fatalitas (seperti kematian) lebih turun,” kata dia.

Baca juga: Masih Ada 15 Persen Masyarakat Belum Terinfeksi dan Terima Vaksin Covid-19

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini