Share

Jalan Jaksa, Dulu Primadona Turis Mancanegara, Kini Sepi Merana

Rizky Syahrial, MNC Media · Selasa 24 Mei 2022 20:47 WIB
https: img.okezone.com content 2022 05 24 337 2599705 jalan-jaksa-dulu-primadona-turis-mancanegara-kini-sepi-merana-SH137LBnfj.jpg Jalan Jaksa, Jakarta Pusat (Foto: Rizky Syahrial)

JAKARTA - Jalan Jaksa yang dulunya merupakan kawasan primadona bagi para turis asing, kini sudah berubah menjadi sepi. Kawasan yang terletak di Jakarta Pusat ini dulunya sangat terkenal di kalangan bule yang singgah ke Ibu Kota.

Dulu Jalan Jaksa kerap dipenuhi turis dan warga lokal. Kini, hanya menjadi kenangan dengan banyaknya bangunan sebagai saksi bisu sejarah. Apalagi, setelah Covid-19 melanda.

Kafe-kafe serta hotel sebagian sudah tutup, meski masih ada yang buka di sekitaran kawasan ini. Salah satu kafe yang masih bertahan hingga kini yaitu Cafe Memories.

BACA JUGA:Anies: Tak Ada Kota Besar di Dunia yang Miliki Kawasan Kepulauan seperti Jakarta 

Kafe tersebut sangat terkenal di kalangan turis baik mancanegara maupun lokal. Tulisan 'dijual' yang tertera di depan kafe merupakan bukti kawasan ini tidak seramai pada era Orde Baru. Sisa-sisa memori yang ada di kafe ini melekat setelah adanya seorang turis yang mengunjungi tempat ini.

Helmi (65), pemilik Cafe Memories terus membuka tempat khususnya untuk para turis. Ia bercerita, Jalan Jaksa sempat mendapat julukan 'Kutanya Jakarta' pada zaman itu.

"Turis itu kalau di Jakarta tahunya Jalan Jaksa. Karena dulu ramai banget bule yang datang," tuturnya kepada MPI Selasa (24/5/2022).

BACA JUGA:Anies: PPKM di Jakarta Level 1 Jadi Babak Baru 

Ia mengatakan, Jalan Jaksa sendiri sudah tidak bisa seperti dahulu lagi. Apalagi, banyak warga yang sudah tidak menetap di sekitar kawasan ini.

"Turis lebih suka untuk Homestay di rumah warga daripada di hotel. Bukan soal tidak punya uang, mereka suka berbaur dengan warga dan ikuti tradisi sini," pungkasnya.

Saking dekatnya emosional turis dengan warga, ia mengaku sempat ada turis asal Belanda yang pekerjaannya dokter menjadi relawan saat terjadi banjir di Manggarai.

"Dia ikut menjadi relawan bersama PMI, dia bilang tolong antarkan saya ke sana. Saya antar ke sana dan saya bilang, ini orang Belanda dia dokter. Kebetulan mau jadi relawan di sini," tuturnya.

Pria paruh baya asli Padang ini merasakan, lepasnya masa jaya kafe ini setelah kejadian reformasi tahun 1998. Hal itu dikarenakan omzet dari kafe ini semakin menurun.

"Setelah itu, sudah beda rasanya. Omzet makin menurun ya hingga sekarang. Untuk naik lagi sampai sekarang sudah susah," katanya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini