Share

Rugikan Negara Rp11 Miliar, Eks PNS Kemen-ESDM Dituntut 4 Tahun 3 Bulan Penjara

Arie Dwi Satrio, Okezone · Selasa 24 Mei 2022 16:03 WIB
https: img.okezone.com content 2022 05 24 337 2599520 rugikan-negara-rp11-miliar-eks-pns-kemen-esdm-dituntut-4-tahun-3-bulan-penjara-183gtmk05w.jpg Ilustrasi (Foto: Dok Okezone)

JAKARTA - Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mantan Kepala Bidang Pemindahtanganan, Penghapusan, dan Pemanfaatan Barang Milik Negara (P3BMN) pada Pusat Pengelolaan Barang Milik Negara Sekretaris Jenderal (Setjen) Kementerian ESDM, Sri Utami dituntut empat tahun tiga bulan penjara.

Sri Utami juga dituntut membayar denda Rp250 juta subsidair tiga bulan kurungan. Jaksa meyakini Sri Utami bersalah karena terlibat secara bersama-sama melakukan tindak pidana korupsi. Sri Utami diyakini terlibat korupsi terkait sejumlah kegiatan fiktif di Kementerian ESDM yang merugikan keuangan negara sekira Rp11 miliar.

"Menuntut agar supaya majelis hakim yang memeriksa dan mengadili perkara ini memutuskan, menyatakan terdakwa Sri Utami terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana korupsi," kata Jaksa KPK saat membacakan surat tuntutan di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Selasa (24/5/2022).

"Menjatuhkan pidana penjara empat tahun tiga bulan dan pidana denda Rp250 juta subsidair tiga bulan kurungan," sambungnya.

BACA JUGA:3 Tersangka Korupsi Dana Covid-19 Sebesar Rp61 Miliar Diserahkan ke Kejati 

Tak hanya pidana bui dan denda, Sri juga dituntut oleh tim jaksa untuk membayar uang pengganti sebesar Rp2,39 miliar. Dengan syarat, jika Sri tidak membayar uang pengganti dalam waktu satu bulan setelah putusan berkekuatan hukum tetap, maka akan diganti dengan pidana penjara selama satu tahun.

"Mengembalikan uang pengganti sebesar Rp2,39 miliar kepada negara dalam waktu satu bulan setelah putusan berkekuatan hukum tetap, apabila tidak mencukupi dipenjara satu tahun," kata jaksa.

BACA JUGA:Tersangka Korupsi Helikopter AW-101 Diperiksa KPK, Bakal Ditahan? 

Jaksa mempertimbangkan hal-hal yang memberatkan dan meringankan dalam menjatuhkan tuntutan terhadap Sri Utami. Adapun, hal yang memberatkan yakni perbuatan Sri Utami tidak mendukung program pemerintah dalam pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). Sri juga dinilai kurang terbuka dalam memberikan keterangan di persidangan.

"Keadaan meringankan memiliki tanggungan keluarga, sopan dan menghargai persidangan, belum pernah dihukum," sambungnya.

Atas perbuatannya, Sri Utami diyakini terbukti bersalah melanggar Pasal 3 jo Pasal 18 Undang-undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (UU Tipikor) jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP jo Pasal 65 Ayat 1 KUHP.

Sekadar informasi, Sri Utami didakwa telah melakukan perbuatan korupsi terkait kegiatan fiktif bersama-sama dengan Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM saat itu, Waryono Karno.

Sri melakukan pengumpulan dana atas permintaan Waryono untuk membiayai kegiatan pada Sekretariat Jenderal Kementerian ESDM yang tidak dibiayai APBN.

Kegiatan dimaksud yakni sosialisasi sektor ESDM Bahan Bakar Minyak Bersubsidi tahun 2012, kegiatan sepeda sehat dalam rangka sosialisasi hemat energi tahun 2012, dan perawatan gedung kantor Sekretariat ESDM Tahun Anggaran 2012.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini