Share

Mengenal Islam Abangan, Cara Sunan Kalijaga Rangkul Warga saat Berdakwah

Avirista Midaada, Okezone · Senin 23 Mei 2022 06:33 WIB
https: img.okezone.com content 2022 05 23 337 2598506 mengenal-islam-abangan-cara-sunan-kalijaga-rangkul-warga-saat-kenalkan-islam-wpEaw5PnQR.jpeg Sunan Kalijaga. (Foto: Dok Ist)

BERBEDA dengan Islam putihan yang dicetuskan Sunan Giri, Sunan Kalijaga justru mengembangkan Islam abangan. Islam abangan ini bertolak belakang dengan ajaran Islam yang disebarkan Sunan Giri. 

Sunan Kalijaga pulalah yang memimpin aliran abangan yang juga dinamakan aliran Tuban, karena sang Wali Songo ini berasal dari Tuban. Golongan Islam abangan atau kaum moderat dipimpin oleh Sunan Kalijaga itu didukung oleh Sunan Bonang, Sunan Muria, Sunan Kudus, dan Sunan Gunung Jati. 

Sebagaimana dikutip dari buku "Sunan Giri" dari Umar Hasyim, ada lima ajaran yang coba disebarkan Sunan Kalijaga dan golongannya. Pertama membiarkan dahulu adat - adat yang sukar diubah dan adat - adat kepercayaan lama itu sangat berat untuk diubah dengan kekerasan dan tergesa-gesa atau radikal. 

Baca juga: Sunan Kalijaga Gelar Pentas Wayang, Tiketnya Baca Syahadat!

Kedua, bagian adat yang tidak sesuai dengan ajaran agama Islam agak mudah diubah maka segera dihilangkan. Sunan Kalijaga dan empat Wali Songo lainnya mencoba memberikan teladan dari belakang terhadap kelakuan dan adat rakyat atau dengan istilah tut wuri handayani. 

Tetapi diusahakan untuk dapat mempengaruhi sedikit demi sedikit. Serta tut wuri handayani hangiseni artinya mengikuti dari belakang sambil mengisi kepercayaan atau ajaran agama Islam.

Islam abangan yang digagas Sunan Kalijaga ini juga menghindari konfrontasi secara langsung atau secara keras dengan masyarakat di dalam pasal menyiarkan agama Islam itu. Hal ini dimaksudkan berusaha untuk mengambil ikannya, tetapi tidak mengeruhkan airnya sehingga kotor. 

Dari sanalah semua itu boleh diubah merubah adat dan kepercayaan masyarakat yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Tetapi Sunan Kalijaga menjaga prinsip tidak boleh menghalau masyarakat dari umat islam. 

Masyarakat harus mau dan senang atau bersedia datang atau bersedia datang berkumpul mendekati, dan setelah berkumpul barulah masyarakat diajak dan diberi pengertian tentang ajaran Islam, sedikit demi sedikit. 

Karena bila tidak dengan jalan demikian, maka mereka akan lari sewaktu diundang. Jangankan mendekat untuk memeluk Islam, mendekat saja mereka tidak mau. Lantas Sunan Kalijaga beranggapan bagaimana bisa memberi pengertian tentang ajaran dan keluhuran atau kebenaran agama Islam, sedangkan masyarakat tersebut tak mau mendekat. 

Agaknya kedua pendapat itu memang sama-sama dapat dipahami, karena aliran Islam putihan yang digagas Sunan Giri khawatir bila terjadi penyelewengan dalam agama. Di sisi lain, aliran Islam abangan ingin cepat berdakwah dan semua rakyat bisa menerima ajaran Islam. Namun aliran Tuban justru sangat berliku-liku, sementara aliran Sunan Giri cepat melintas jalan lurus.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini