Share

Lemhannas Siapkan Metodologi Penghitungan Kapasitas Geopolitik

Tim Okezone, Okezone · Jum'at 20 Mei 2022 14:22 WIB
https: img.okezone.com content 2022 05 20 337 2597375 lemhannas-siapkan-metodologi-penghitungan-kapasitas-geopolitik-X9Fcokvl7N.jpg Gubernur Lemhanas, Andi Widjajanto (foto: dok Sindo)

JAKARTA - Gubernur Lemhannas RI, Andi Widjajanto mengatakan, Lemhannas RI tengah mengembangkan metodologi penghitungan kapasitas geopolitik. Metodologi penghitungan kapasitas geopolitik ini merupakan upaya Lemhannas untuk melakukan proyeksi geopolitik Indonesia.

"Proyeksi tersebut dilakukan dengan dua metode. Pertama, mengembangkan metodologi perhitungan kapasitas geopolitik untuk membandingkan posisi Indonesia dengan negara-negara lain. Kedua, melakukan komparasi posisi Indonesia di lima topik strategis yaitu konsolidasi demokrasi, ekonomi hijau, ekonomi biru, transformasi digital, dan ketahanan Ibu Kota Nusantara," kata Andi saat orasi ilmiah “Geo V” sebagai rangkaian peringatan HUT ke-57 Lemhannas RI.

 BACA JUGA:HUT Ke-57 Lemhannas, Andi Widjajanto Paparkan Narasi Geopolitik 5.0

Kata dia, metodologi penghitungan politik yang pertama dilakukan dengan menciptakan indeks kapasitas politik yang dibentuk dari penggabungan 3 kapasitas geopolitik, yaitu geografis fisik, geografi insani, dan instrumen geografi.

"Skor kapasitas geografi fisik dihitung dengan menggabungkan tiga indeks utama yaitu kualitas infrastruktur, kerawanan ekologis, dan keamanan energi. Skor kapasitas geografi insani dihitung dengan menjumlahkan enam ukuran, yaitu indeks perdamaian, PDB per kapita, indeks pembangunan manusia, indeks persepsi anti korupsi, indeks kerawanan pangan, dan indeks demokrasi. Terakhir, skor kapasitas instrumen geografi diukur dengan memadukan tiga indikator yaitu proporsi anggaran pertahanan, indeks keamanan siber, dan kendali pengindraan satelit," bebernya.

 BACA JUGA:Tak Ada Pemenang dalam Perang, Gubernur Lemhannas Kutip Lagu Russians Milik Sting

Secara agregat, kata dia, Indonesia memiliki kapasitas geopolitik sedang. Untuk memaksimalkan kapasitas Geopolitik, isu spesifik yang perlu diperbaiki antara lain: pertama, Geografi fisik terus mendorong pembangunan berkelanjutan, seperti transisi energi untuk meningkatkan ekologi Indonesia mendukung kehidupan manusia di masa mendatang. Kedua, Geografi Insani, meningkatkan taraf hidup masyarakat di berbagai lini pendidikan, ekonomi, kesejahteraan, dan keamanan, serta meningkatkan kematangan institusional pemerintahan. Terakhir ketiga yaitu instrumen geografi, meningkatkan kemampuan relatif pertahanan Indonesia di semua matra dan mengintensifkan penguasaan teknologi khususnya di bidang cyber dan pemanfaatan ruang angkasa.

Untuk meningkatkan kapasitas geopolitik Indonesia, Lemhannas akan fokus melakukan kajian di lima topik utama yaitu konsolidasi demokrasi, ekonomi hijau, ekonomi biru, transformasi digital, dan ketahanan ibukota Nusantara.

Andi menyebutkan, proyeksi geopolitik ini diperlukan untuk memposisikan Indonesia sebagai kekuatan regional pada 2045. Ia berharap Indonesia dapat menjadi bangsa pemenang di tahun 2045 nanti.

“Geopolitik 5.0 atau ‘Geo V’, dibaca five tapi juga dibaca V yang bermakna ‘victory’. Victory atau kemenangan untuk memastikan kemenangan kita menuju 2045,” sambungnya.

“Narasi Geo V dirumuskan dengan satu tujuan yakni menegaskan lompatan strategis yang harus dilakukan Indonesia di lima ranah pertarungan, yaitu demokrasi, ekonomi hijau, ekonomi biru, transformasi digital, serta pembangunan Ibu Kota Nusantara,” jelas Andi.

Lompatan ini penting dilakukan agar kapasitas Indonesia untuk melakukan proyeksi geopolitik bisa meningkat tajam dari kapasitas yang ada saat ini menuju kapasitas Geo V yang menempatkan Indonesia menjadi kekuatan regional di tahun 2045.

Memperingati hari jadi ke-57, Lemhannas RI mengangkat tema “Transformasi Lemhannas RI: Ketahanan Nasional Era Geopolitik 5.0”. Tema ini sangat relevan apabila dikaitkan dengan perkembangan lingkungan strategis, yang ditandai dengan adanya persaingan yang semakin ketat disertai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin maju yang mau tidak mau menuntut sebuah negara untuk beradaptasi sesuai dengan tuntutan zamannya.

“Krisis ini juga memaksa banyak pihak mengkalibrasi hubungan internasionalnya. Namun di saat yang bersamaan dengan semakin besarnya pengaruh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi ketiadaan interaksi fisik cenderung mendisrupsi cara hidup termasuk geopolitik suatu negara,” kata Wakil Gubernur Lemhannas RI, Mayjen TNI MS Fadhilah.

Lemhannas RI sebagai organisasi yang menganut manajemen modern mengembangkan kepemimpinan strategis berbasis ketahanan nasional menuju era geopolitik 5.0.

Untuk itu diperlukan kepemimpinan ideal di dalam menyongsong kehidupan di era baru kepemimpinan negara yang ideal adalah kepemimpinan negara yang mencerminkan adanya universal yang memperjuangkan segala hak rakyatnya, demokrasi dan berkeadilan sosial.

"Dengan adanya kepemimpinan strategis berbasis ketahanan nasional diharapkan Indonesia memiliki visi bersama untuk sama-sama mewujudkan Indonesia yang jauh lebih baik di tahun 2045," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini