Share

Kolonel Priyanto Ngaku Panik saat Buang Handi-Salsabila, Oditur Militer: Bertolak Belakang!

Riezky Maulana, iNews · Selasa 17 Mei 2022 14:46 WIB
https: img.okezone.com content 2022 05 17 337 2595457 kolonel-priyanto-ngaku-panik-saat-buang-handi-salsabila-oditur-militer-bertolak-belakang-dBcyq7BLQG.jpg Kolonel Priyanto (Foto : MPI)

JAKARTA - Oditur Militer Tinggi Kolonel Sus Wirdel Boy membacakan replik atas pleidoi Kolonel Inf Priyanto dalam kasus pembunuhan berencana sejoli di Nagreg, Jawa Barat. Wirdel membantah ungkapan panik yang disampaikan Priyanto dalam pleidoi.

Sebab, terdapat unsur-unsur dalam pribadi Kolonel Priyanto yang tidak masuk ke dalam kategori panik. Dalam beberapa literatur disampaikan bahwa seseorang yang merasakan panik akan ada gejala fisik yang mencolok.

Di antaranya adalah jantung berdebar kencang, kesemutan, tangan mati rasa, berkeringat, lemas, pusing, hingga merasakan nyeri di bagian dada.

"Kondisi ini bertolak belakang dengan kondisi kejiwaan terdakwa pada saat kejadian perkara sampai pada ditangkapnya terdakwa," ucap Wirdel di Pengadilan Militer II Tinggi Jakarta, Selasa (17/5/2022).

Wirdel menuturkan, bagaimana bisa seseorang mengaku panik tapi bisa melakukan beberapa kegiatan. Dalam beberapa agenda sidang, sambung Wirdel, diketahui Kolonel Priyanto sempat menggantikan salah satu anak buahnya sebagai pengemudi.

Dia menjelaskan, terdakwa juga bisa mengambil keputusan untuk membuang kedua jasad tersebut di Sungai Serayu, Jawa Tengah.

"Dibuktikan dengan beberapa tindakan terdakwa, seperti mampu menggantikan saksi dua sebagai pengemudi kendaraan. Lalu, bisa menentukan lokasi pembuangan korban, di sebuah sungai di daerah Jawa Tengah," ungkapnya.

Lebih jauh, Kolonel Priyanto juga sempat mengajak dua anak buahnya (Koptu Ahmad Sholeh dan Kopda Andreas Dwi) agar merahasiakan insiden yang dialaminya.

Fakta lain terungkap bahwa Kolonel Priyanto sempat memerintahkan anak buahnya supaya mengganti warna dasar dari Mobil Isuzu Panther yang menabrak Handi-Salsabila. Lalu, kata Wirdel, hingga waktu yang cukup lama, terdakwa tak melaporkan kejadian tersebut kepada atasan atau pihak berwenang.

"Tindakan di atas sama sekali tidak menggambarkan situasi panik seperti yang digambarkan dalam nota pembelaan tim penasehat hukum terdakwa," ujarnya.

Sebagaimana diketahui, Kolonel Inf Priyanto enggan menuruti saran anak buahnya untuk menyelamatkan nyawa Handi Saputra dan Salsabila, dua sejoli korban tabrak lari. Saat itu, Kolonel Priyanto dilanda kepanikan karena ocehan dua anak buahnya.

"Karena saksi dua dan saksi tiga terus berbicara kepada terdakwa maka terdakwa secara spontan mengatakan, ‘Kamu jangan cengeng, nanti kita buang saja mayatnya ke sungai’,” kata Penasihat Hukum Kolonel Priyanto, Letda Chk Aleksander Sitepu, pada pembacaan pleidoi.

"Dalam suasana tidak tenang atau dengan kata lain suasana batin terdakwa dalam keadaan panik, tegang, dan kalut, diiringi pula perasaan takut dan khawatir karena akan nasib kedua anggotanya," imbuhnya.

Dalam kasus ini Priyanto dituntut penjara seumur hidup. Priyanto juga dituntut pidana tambahan berupa pemecatan dari dinas kemiliterannya di TNI.

Priyanto dinilai telah melanggar Pasal Primer 340 KUHP tentang Pembunuhan Berencana jo Pasal 55 ayat (1) KUHP tentang Penyertaan Pidana, Subsider Pasal 338 KUHP tentang Pembunuhan, jo Pasal 55 ayat (1) KUHP.

Subsider pertama Pasal 328 KUHP tentang Penculikan juncto Pasal 55 ayat (1 ) KUHP, subsider kedua Pasal 333 KUHP Kejahatan Terhadap Kemerdekaan Orang juncto Pasal 55 ayat (1) KUHP.

Subsider ketiga Pasal 181 KUHP tentang Mengubur, Menyembunyikan, Membawa Lari, atau Menghilangkan Mayat dengan Maksud Menyembunyikan Kematian jo Pasal 55 ayat (1) KUHP.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini