Share

Kerap Jadi Lokasi Bunuh Diri, Ini Sosok Misterius 'Penarik' Jembatan Kaliketek Bojonegoro

Avirista Midaada, Okezone · Senin 16 Mei 2022 11:02 WIB
https: img.okezone.com content 2022 05 15 337 2594669 kerap-jadi-lokasi-bunuh-diri-ini-sosok-misterius-penarik-jembatan-kaliketek-bojonegoro-QfiYPJCKNu.jpg Jembatan Kaliketek Bojonegoro yang terkenal angker (foto: MPI/Avirista)

MALANG – Aura mistis tampak terasa bila anda melintasi Jembatan Kaliketek Bojonegoro ini. Terlebih ketika malam kian larut, kesan mistis kian terasa kuat.

Jembatan Kaliketek sendiri merupakan jalur provinsi yang menghubungkan antara Kabupaten Tuban dan Kabupaten Bojonegoro. Jembatan ini membentang di atas sungai terpanjang di Pulau Jawa yakni Sungai Bengawan Solo.

Ada dua jembatan yang membentang yang menghubungkan dua desa yakni Desa Banjarejo, Kecamatan Bojonegoro Kota dengan Desa Banjarsari, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Bojonegoro. Jembatan sisi barat merupakan jembatan baru yang dibangun setelah Jembatan Kaliketek sisi timur.

Jembatan ini baru dibangun karena secara konstruksi dan ruas Jembatan Kaliketek yang kurang lebar. Sementara Jembatan Kaliketek sisi timur sendiri merupakan salah satu peninggalan era kolonial Belanda yang dibangun pada tahun 1914.

Konon nama Jembatan Kaliketek lantaran wilayah yang berada di seberang sungai yang konon dahulu banyak terdapat β€˜ketek’ atau kera. Hal ini yan membuat orang-orang sekitar menyebut Jembatan Kaliketek, dan nama itu yang populer dipakai hingga kini.

Β BACA JUGA:4 Kisah Mistis di Stasiun atau Perlintasan Kereta Api

Pantauan Okezone di lokasi, di jembatan sisi barat ini memang sering dilintasi kendaraan - kendaraan besar seperti truk, bus, dan mobil pribadi lainnya. Jalur ini memang terlihat ramai karena merupakan jalur utama penghubung dua provinsi.

Baca Juga: Dukung Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, Kabupaten Morowali Hibahkan Tanah ke KKP

Jalurnya lebar bisa dilalui kendaraan besar di kedua lajurnya. Masing-masing lajur memiliki kurang lebih lebar 6 meter, dengan total lebar lajur sekitar 12 meter. Sementara panjang jembatan baru sisi barat diperkirakan sekitar panjang 800 meter.

Sedangkan Jembatan Kaliketek sisi timur atau jembatan peninggalan Belanda memiliki lebar lebih sempit. Kurang lebih lebarnya sekitar 6 meter, itu pun di tengah lajur jembatan dulunya terdapat rel kereta api yang menghubungkan antara Bojonegoro dengan Tuban.

Kini rel kereta api itu sudah tak terpakai lagi, layaknya Jembatan Kaliketek sisi timur yang terbengkalai. Bahkan jembatan lama aspal - aspalnya pun sudah tak lagi tampak, tinggal rangkai baja dan besi yang masih tersisa. Seluruh lalu lintas jembatan dialihkan ke Jembatan Kaliketek baru di sisi barat dari jembatan lama.

Kendati sudah ada jembatan baru, suasana mistis dan menyeramkan masih terlihat di lokasi. Apalagi saat malam tiba, dengan suasana gelap dan penerangan sekitar jembatan kurang. Belum lagi tiupan angin dan suara arus Sungai Bengawan Solo yang ada di bawah jembatan membuat bulu gidik merinding.

Perasaan menakutkan kian terasa saat kendaraan besar seperti truk dan bus besar melintas, yang membuat jembatan bergetar karena getaran beban kendaraan yang melintas.

Penelusuran di lokasi sejumlah makhluk tak kasat mata memang menghuni lokasi sekitar jembatan. Banyaknya tanaman liar yang tumbuh kian membuat jembatan ini tampak mistis di malam hari.

Apalagi residu energi jembatan di masa penjajahan Belanda kian terasa. Pengamatan tak kasat mata, sejumlah teriakan dan suara rintihan yang menjadi residual energi di masa lalu, masih terasa.

Konon di masa lalu Jembatan Kaliketek memakan tumbal akibat pembangunan di masa Belanda. Saat itu Belanda membangun Jembatan Kaliketek guna mengangkut hasil rempah dari Bojonegoro dan sekitarnya ke area utara di pelabuhan.

Jembatan Kaliketek ini konon juga menjadi saksi bisu sejumlah pembantaian saat peperangan antara pasukan Belanda dengan masyarakat Bojonegoro yang dikomandoi Lettu Suyitno di masa Agresi Militer usai kemerdekaan. Saat masa revolusi tragedi pembantaian orang – orang yang diduga ikut PKI di tahun 1965 lantas dibuang di Sungai Bengawan Solo, konon juga menjadi bagian dari residual energi yang kuat.

Sosok yang melegenda tentu saja siluman buaya putih yang konon kerap kali menarik manusia untuk masuk ke Sungai Bengawan Solo. Sosok ini kerap kali muncul di sungai yang konon beberapa kali sempat terlihat oleh warga setempat.

Selain itu, sosok perempuan berpakaian putih kerap kali menampakkan diri di Jembatan Kaliketek sisi timur. Tak jarang makhluk tak kasat mata ini juga kerap kali mengaburkan pandangan pengendara jalan sehingga membuat kecelakaan.

Sosok siluman makhluk tak kasat mata juga terlihat di atas jembatan yang membuat energi jembatan kian kuat. Tak jarang suara sosok ini terdengar seperti suara eraman yang membuat bulu gidik merinding. Sosok ini menjadi penguasa dan yang mendominasi di sekitar area jembatan.

Pemerhati sejarah Bojonegoro R. Ngastasio Kertonegoro mengakui banyaknya residu energi dari makhluk tak kasat mata yang ada di area Jembatan Kaliketek. Dimana sosok yang muncul salah satunya buaya putih yang berada di bawah Jembatan Kaliketek sisi timur.

"Di atas jembatan seperti kayak jin wujudnya binatang bermain di atas jembatan. Sungainya lebih banyak aktivitas bangsa jin dari jembatan yang sebelah timur, terus ada sudut sebelah barat di dekat sirkuit dulu," kata Ngastasio.

Residu kuat juga terasa di sisi utara bagian barat, tepat di bekas lokasi yang pernah digunakan sebagai sirkuit motorcross yang kini dimanfaatkan menjadi tempat pemakaman umum.

"Aktivitas bangsa jin, di bawah jembatan peristiwa masa lampau, bumi mengandung suatu energi. Ketika beraktivitas diserap oleh bumi sehingga timbul energi metafisik," ujar dia.

Hal ini yang diduga kuat menjadi 'daya tarik' seseorang memilih bunuh diri di Jembatan Kaliketek. Tercatat memang di sepanjang 2022 saja sudah ada tiga upaya bunuh diri yang terjadi di Jembatan Kaliketek.

Pertama saat Jumat 4 Februari 2022 dimana seorang ibu yang menggendong bayi berupaya melompat dari Jembatan Kaliketek di sisi selatan. Kedua pada Minggu sore 13 Februari 2022 dimana seorang bocah sekolah dasar (SD) yang berupaya melompat ke arah Sungai Bengawan Solo. Beruntung keduanya berhasil digagalkan pengendara jalan yang melintas yang langsung menariknya dari sisi jalan di jembatan.

Terakhir pada 30 April 2022 lalu dimana ada seorang bidan perempuan yang nekat melompat ke Sungai Bengawan Solo dari Jembatan Kaliketek. Wanita yang tengah hamil 8 bulan ini sempat terseret derasnya arus Sungai Bengawan Solo, namun aksi cepat penambang pasir yang ada di sekitar jembatan membuat nyawanya selamat kendati akhirnya harus menjalani perawatan intensif di RSUD dr. Sosodoro Djatikoesoemo.

Tetapi Ngastasio menegaskan, selama melintasi jembatan dengan berhati-hati dan berdoa. Hal ini mampu mencegah adanya kecelakaan dan kejadian yang tidak diinginkan.

"Memang sangat banyak aktivitas dari bangsa jin kita harus berhati-hati, pada diri sendiri dan jangan lupa berdoa untuk diri kita dan orang-orang yang meninggal di sekitaran Jembatan Kaliketek," tukasnya.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini