Share

Ketika Bung Hatta Kecil 'Mematung' di Bawah Pohon saat Dihukum karena Pulang Telat

Tim Okezone, Okezone · Senin 16 Mei 2022 08:09 WIB
https: img.okezone.com content 2022 05 15 337 2594364 ketika-bung-hatta-kecil-mematung-di-bawah-pohon-saat-dihukum-karena-pulang-telat-cbrtJotzFA.jpg Bung Hatta (Foto: Perpusnas)

MOHAMMAD Hatta kecil bersama sahabat kecilnya Rasjid Manggis akan melayarkan kapal mainan di sebuah tebat. Lalu, Hatta mengambil sabut kelapa dan menyiramkan sedikit minyak tanah.

"Mana korek apinya?"

Rasjid pun memberikan korek dan Hatta membakar sabut hingga mengepul asap dari corong kapal mainan. Ketika sabut kelapa terbakar, Rasjid langsung bergegas menuju pinggiran tebat membawa kapal tersebut.

"Cepat, Rasjid!"

Kapal tersebut pun melaju di tebat. Keduanya gembira bersorak-sorak kegirangan.

Usai bermain kapal. Rasjid mengajak Hatta ke tanah lapang, di mana teman-teman dari kampung sebelah tengah bermain sepak bola.

Hatta pun menggangguk. "Mana bolaku," tanya Hatta. 

Rasjid berlari ke bawah pohon mengambil bola milik Hatta. Mereka baru selesai main sepak bola pada sore hari dan pulang ke rumah. 

Baru tiba di halaman, Pak Gaek, kakeknya sudah melotot sambil bertolak pinggang depan pintu. "Atttaa...!

Hatta yang terkejut tak berani menatap wajah Pak Gaek. Dia berjalan menunduk sambil memegang bola.

"Tidak baik, Atta, membuat orang lain cemas menunggumu pulang. Dari mana saja kau?"

BACA JUGA:Ketika Kiai Wahab Cetuskan Istilah Halalbihalal kepada Bung Karno 

Baca Juga: Lifebuoy x MNC Peduli Ajak Masyarakat Berbagi Kebaikan dengan Donasi Rambut, Catat Tanggalnya!

Setengah takut dia menjawab, "main bola, Pak Gaek," 

"Kau harus dihukum. Ayo letakkan bolamu di situ. Dan segeralah berdiri tegak di bawah pohon jambak itu,"

Perlahan Hatta menaruh bolanya. "Segera!"

Dia pun melangkah ke arah pohon jambak. "Jangan berhenti sebelum Pak Gaek perintahan berhenti,"

Hatta pun menurut dan berdiri tegak di bawah pohon. Pak Gaek membuat garis melingkari tempat Hatta berdiri. Lalu, dia meminta Hatta untuk tidak keluar dari garis batas tersebut. 

Pak Gaek mengawasinya. Ini pertama kali Pak Gaek benar-benar marah.

Hatta pun hanya bisa terdiam. Bahkan, hampir sejam Hatta berdiri mematung di bawah pohon jambak. 

Menjelang Magrib, ibunya, Siti Saleha muncul dari dalam rumah dan terkejut melihat anaknya tengah dihukum. Dia pun langsung membujuk Hatta masuk ke dalam rumah.

"Atta...ayo masuk Nak!"

Namun, Hatta hanya diam mematung. Kendati dalam hati dirinya bertanya ke mana Pak Gaek, apakah dia terlupa pada hukuman ini?

"Ayolah Atta, langit sudah gelap. Sebentar lagi kau akan berangkat ke sura,"

Tiba-tiba Pak Gaek muncul dan langsung menegur Siti Saleha. "Tak baik dibiasakan pulang terlambat ke rumah. Dia harus belajar disiplin dan tepat waktu untuk perkara apa pun." 

Sementara sang ibu membela Atta karena sepak bola merupakan kesukaan Atta. Pak Gaek pun mendelik dan menegaskan," Setiap orang punya kesukaan. Tapi kalau kesukaan itu sudah melebihi takaran, itu hanya akan mencelakakan."

Pak Gaek pun berjalan ke arah Hatta," Belajar untuk disiplin dalam setiap perkara. Dengan begitu, oang bisa menempatkan kesukaan pada tempatnya yang benar. Kalau kesukaan sudah melupakan orang pada tanggung jawab, itu sudah tidak benar."

Sebentar lagi gelap, Pak Gaek pun meminta Hatta untuk masuk ke rumah. Namun, dia kembali mengingatkan Hatta agar tak mengulangi perbuatannya.

Bagi Hatta, setiap perbuatan memiliki risiko sendiri-sendiri. Dan sore itu, Hatta mendapatkan latihan tentang keberanian menghadapi risiko.

Cerita ini disadur dari Novel Hatta 'Aku Datang karena Sejarah' karya Sergius Sutanto

 

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini