Share

Cerita Puan tentang Bung Karno Lolos dari Bidikan Penembak Jitu saat Sholat Idul Adha

Antara, · Sabtu 14 Mei 2022 21:33 WIB
https: img.okezone.com content 2022 05 14 337 2594285 cerita-puan-tentang-bung-karno-lolos-dari-bidikan-penembak-jitu-saat-sholat-idul-adha-f51huzAZJq.jpg Puan Maharani (Foto: Antara)

JAKARTA - Ketua DPR RI Puan Maharani yang juga cucu Presiden Soekarno menceritakan kembali kisah lolosnya sang ayah dari percobaan pembunuhan saat Hari Raya Idul Adha pada 14 Mei 1962.

"Saat itu, Bung Karno sedang Sholat Idul Adha di Istana Jakarta, pas memasuki rakaat kedua tiba-tiba saja ada tembakan," kata Puan dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Sabtu (14/5/2022).

BACA JUGA:Sarinah, Bukan Wanita Biasa di Mata Bung Karno 

Tembakan itu berasal dari empat orang yang ada di barisan atau shaf ke empat. Namun, para penembak kesulitan membidik sasaran.

"Mereka kesulitan karena melihat dua orang yang mirip dengan Bung Karno," kata Puan.

Alhasil, Sang Proklamator pun lolos dari maut. Namun, nasib nahas dialami dua anggota Detasemen Kawal Pribadi (DKP) Presiden, yaitu, Soedrajat dan Soesilo.

"Mereka terluka dalam peristiwa itu," kata Puan.

BACA JUGA:Asal Usul Nama Bung Karno yang Artinya Telinga 

Ketua DPR KH Zainul Arifin juga ikut terluka. Sebuah peluru menyerempet bahu tokoh Nahdlatul Ulama (NU) itu.

Menurut catatan, pada Sholat Idul Adha waktu itu, Ketua PBNU KH Idham Chalid bertindak sebagai imam, sementara khatibnya adalah Wakil Menteri Pertama Bidang Pertahanan dan Keamanan/KSAD Abdul Harris Nasution.

Ketika melaksanakan Sholat Id, Soekarno berada di barisan terdepan jamaah. Di sebelah kirinya ada Abdul Harris Nasution. Di samping Nasution ada KH Zainul Arifin. Di samping Kiai Zainul ada KH Saifuddin Zuhri.

Puan mengatakan, empat penembak Bung Karno itu belakangan divonis hukuman mati. Mereka adalah Sanusi Firkat, Djajapermana, Kamil, dan Napdi.

Akan tetapi ketika disodorkan dokumen untuk membubuhkan tandatangan eksekusi, Bung Karno tidak sampai hati.

"Karena kakek saya waktu itu meyakini bahwa pembunuh yang sesungguhnya adalah orang-orang yang menjadi dalang perbuatan itu," kata mantan Menko PMK ini.

Peristiwa itu menjadi percobaan pembunuhan ke sekian kali terhadap Bung Karno setelah peristiwa Cikini 1957.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini