Share

Cerita Heroik Letnan Amir Hamzah Tewas Terkena Mortir Usai Berperang 5 Hari Lawan Tentara Inggris

Tim Okezone, Okezone · Senin 16 Mei 2022 09:30 WIB
https: img.okezone.com content 2022 05 14 337 2594241 cerita-heroik-letnan-amir-hamzah-tewas-terkena-mortir-usai-berperang-5-hari-lawan-tentara-inggris-MIoTCQ5qVd.jpg Ilustrasi perang melawan penajajah (Foto: Arsip Belanda)

JAKARTA - Bangunan tua di Jalan M.P Mangkunegara persis di samping SPBU simpang Kenten tampak masih terpelihara dengan rapih. Gedung Museum ini menyimpan banyak kenangan tentang sosok Jenderal dr A.K Gani dan para prajuritnya saat berperang melawan penjajah.

Gedung museum tersebut adalah museum A.K Gani.

Kedatangan Saifudin Aswari Riva'i ke museum tersebut untuk menyerahkan bukti dan peninggalan Letnan (Anumerta) Amir Hamzah, prajurit perang asuhan Jenderal A.K Gani yang gugur saat perang lima hari lima malam karena terkena mortir saat melawan tentara Inggris di Palembang pada tahun 1946.

Letnan satu (Lettu) Amir Hamzah, merupakan pahlawan Indonesia dari Manggul, Kabupaten Lahat, yang merupakan keluarga biologis dari Bupati Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan dua periode itu.

"Letnan Amir Hamzah gugur dalam peperangan melawan Inggris dalam pertempuran 5 hari 5 malam terkena pecahan mortir, meninggalkan seorang istri bernama Zaudah (Ibu kandung Aswari Riva'i) dengan anak yang masih di kandungan seumur 6 bulan," ucap Aswari Riva'i.

Baca juga: 4 Negara Paling Lama Dijajah, Indonesia Sejak Tahun 1512

"Anak tersebut lahir diberi nama Mira Rela Perwira. Zaudah menikah lagi dengan Maulana Riva’i , Maulana Rivai adalah adik kandung Letnan Amir Hamzah.

Baca juga: 5 Negara yang Dikenal sebagai Penjajah, Nomor 2 Sejak Tahun 1492

Dari pernikahan tersebut Zaudah dan Maulana Riva'i mendapatkan 7 keturunan, salah satu yang bungsu bernama Saifudin Aswari Rivai. Tepat 10 hari yang lalu data-data tentang Letnan Amir Hamzah berhasil kami temukan untuk diserahkan ke Museum A.K Gani," lanjut Aswari.

Bukti otentik yang ditemukan oleh Aswari Riva'i dan keluarganya bertepatan 100 tahun usia Letnan Amir Hamzah. Barang peninggalan yang masih disimpan keluarga Aswari Riva'i di Desa Manggul berupa pakaian yang dikenakan oleh Letnan Amir Hamzah saat gugur melawan tentara Inggris.

Ada topi, baret, sarung tangan,tulisan barang milik Letnan Amir Hamzah yang diserahkan oleh pihak tentara untuk keluarga Letnan Amir Hamzah serta silsilah keluarga ini.

Gugur di medan perang untuk memerdekakan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Letnan Amir Hamzah kemudian dimakamkan di taman makam pahlawan Kabupaten Lahat. Untuk menghormati jasa Letnan perang ini, pemerintah mengabadikan nama Letnan Amir Hamzah sebagai jalan utama di Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan.

Dalam dokumen yang ditemukan, ada juga surat tugas dari Belanda diberikan kepada Madjatin, bapak kandung Letnan Amir Hamzah dan Maulana Riva'i untuk ikut andil membangun rel kereta api dari Kota Lubuk Linggau hingga kota Palembang surat tugas tersebut berbahasa Belanda.

"Alhamdulillah syukur, kami selama ini sering sekali menyebut nama Letnan Amir Hamzah tetapi di Museum kami belum ada bukti dan peninggalan beliau yang bisa kami pajang. Sudah tiga tahun kami berkomunikasi dengan bapak Aswari Riva'i untuk menemukan bukti otentik tentang Letnan Amir Hamzah, Alhamdulillah hari ini semuanya sudah terbukti," ucap Yanti A.K Gani, pengurus museum A.K Gani Palembang.

"Dari obrolan ini juga ternyata masih berkaitan dengan suatu pajangan yang ada di museum A.K Gani yakni desain Rel kereta api dari Lubuk Linggau hingga Palembang yang ternyata masih berkaitan dengan keluarga ini. Madjatin salah satu orang yang membangun rel kereta api tersebut merupakan kakek kandung dari bapak Saifudin Aswari Riva'i," ungkap Yanti.

Aswari menambahkan, dengan bukti-bukti ini dia berharap cerita tentang para pejuang Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia tidak terlupakan. Hal tersebut penting untuk membangkitkan semangat para generasi muda untuk menjadi pejuang bagi bangsa dan negara.

"Kedepan cita-cita supaya cerita tentang kepahlawan, cerita tentang pertempuran 5 hari 5 malam ini semestinya harus di sebarluaskan ke generasi muda supaya ada semangat berjuang. Ternyata Palembang bukan hanya Sriwijaya adalah kota pejuang, masyarakat Sumatera Selatan adalag pejuang. Nah, pejuang harus memiliki karakter yang jujur, karakter yang sportif menjaga nama baik orang tua itu yang paling pokok dari inti perjuangan," tutup Aswari.

Baca juga: 4 Perang Terbesar di Indonesia, Terakhir Hasilkan Pengakuan Kedaulatan Negara

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini