Share

Mengenal 16 Pasukan Bhayangkara, Prajurit Elite Pengawal Raja Majapahit

Avirista Midaada, Okezone · Jum'at 13 Mei 2022 07:04 WIB
https: img.okezone.com content 2022 05 13 337 2593386 mengenal-16-pasukan-bhayangkara-prajurit-elite-pengawal-raja-majapahit-SuN2ieydZB.jpg Raja Jayanagara (foto: wikipedia)

SEBUTAN korps Bhayangkara di kepolisian diilhami dari sejumlah prajurit elite pengawal Raja Majapahit. Saat itu Gajah Mada menjadi salah satu sosok dari belasan pasukan pengawalan Raja Jayanagara, raja kedua Majapahit.

Di masa Jayanagara inilah awal mula pemberontakan terjadi di internal Kerajaan Majapahit. Ketidakpuasan terhadap cara kepemimpinan Jayanagara yang bergelar Sri Maharaja Wiralandagopala Sri Sundarapandya Dewa Adhiswara, melandasi pemberontakan pertama yang dilakukan oleh Ra Kuti, yang notabene adalah pejabat Kerajaan Majapahit.

Dikutip dari buku "Gajah Mada Sistem Politik dan Kepemimpinan" dari Enung Nurhayati, Jayanagara terpaksa diungsikan di suatu malam karena adanya pemberontakan. Tak ada seorang pun yang tahu kalau Jayanagara telah keluar ibukota kerajaan menuju Badander.

Sang raja disertai oleh 15 orang pasukan Bhayangkara, yang memiliki kewajiban menjaga keselamatan sang raja malam itu. Dari sinilah awal mula nama Gajah Mada muncul dalam peristiwa pemberontakan Ra Kuti dan berperan sebagai kepala pasukan Bhayangkara yang sedang bertugas pada malam itu.

 BACA JUGA:Aturan Ketat Pernikahan, Istilah Wulanjar Gadis Rasa Janda Mencuat di Masa Kerajaan Majapahit

Saat itu penduduk Majapahit semuanya tidur dengan nyenyak, Gajah Mada memimpin pasukan Bhayangkara menjaga raja dalam pelarian hingga Desa Badander. Dikisahkan dari Serat Pararaton, "Sah ring wengi tan ananing wruh, anghing wong Bhayangkara angiring, sakehe kang katuju akemit duk abhatara lungha, hana wong lima welas. Sira Gajah Mada ambekel ing Bhayangkara samangka, katuju kemitane, sangkane angiring bhatara duk nimba"

Dimana artinya Ia pergi pada waktu malam, tak ada orang yang tahu, hanya orang-orang Bhayangkara mengawalnya, semua yang kebetulan mendapat giliran menjaga pada waktu raja pergi itu, banyaknya 15 orang, pada waktu itu Gajah Mada menjadi Kepala Bhayangkara dan kebetulan juga sedang menerima giliran menjaga, itulah sebabnya ia mengawal raja pada waktu pergi dengan menyamar itu.

Sejarawan Agus Aris Munandar menyebut, perihal jumlah pasukan Bhayangkara yang menjadi pengawal raja pada malam saat raja menuju ke Badander yang hanya berjumlah 15 orang itu. Jika ditambahkan dengan Gajah, maka jumlahnya menjadi 16 orang.

Jumlah itu merupakan kelipatan dua dari delapan. Pada ajaran Hindu diperoleh konsep Astadikpalaka atau Asta-Lokapala atau delapan dewa penjaga mata angin. Jumlah pasukan Bhayangkara yang mengawal Jayanagara sebenarnya disesuaikan dengan jumlah Astadikpalaka dan Raja Jayanagara berada di tengahnya, sebagai tokoh yang harus diabadikan, adalah ikon dari Mahameru dan dewata tertinggi yang tinggal di puncaknya.

Dari kitab Pararaton, diperoleh keterangan Raja Jayanagara dan pengiringnya cukup lama tinggal di tempat pengungsian di rumah ketua Desa Badander. Selain prajurit Bhayangkara, saat mengungsi diiringi oleh kaum pengalasan atau para pelayan raja.

Demi menjaga keamanan Jayanagara, Gajah Mada melarang seorang pengalasan yang akan meminta kembali ke Majapahit. Alasannya cukup jelas dicatat dalam kitab Pararaton bahwa Gajah Mada khawatir pengalasan membocorkan rahasia keberadaan raja ke pihak Ra Kuti.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini