Share

Racuni Sungai Brantas, Strategi Kerajaan Mataram Kuasai Surabaya

Avirista Midaada, Okezone · Jum'at 13 Mei 2022 06:35 WIB
https: img.okezone.com content 2022 05 13 337 2593382 racuni-sungai-brantas-strategi-kerajaan-mataram-kuasai-surabaya-vLtmOW9g38.jpg Sungai Brantas (foto: dok Okezone)

DI TANGAN Sultan Agung Kerajaan Mataram kembali berhasil menguasai Surabaya. Sebelumnya semasa pemerintahan Raja Pangeran Hanyakrowati, Surabaya yang sebelumnya masuk kekuasaan Mataram lepas. Konon Surabaya berhasil ditaklukkan Mataram di bawah Sultan Agung setelah meracuni aliran Sungai Brantas yang mengalir ke Surabaya.

Kisah penyerangan Surabaya dimulai pada 1614 Masehi, saat itu Sultan Agung memulai ekspansi ke wilayah Jawa bagian timur yang sebelumnya lepas dari kekuasaan, sebagaimana dikutip dari "Tuah Bumi Mataram : Dari Panembahan Senopati hingga Amangkurat II" karya Peri Mardiyono. Beberapa strategi ia jalankan untuk menaklukkan wilayah - wilayah seperti tapal kuda timur, Malang, dan Pasuruan. Rata - rata wilayah itu adalah kekuasaan Surabaya, yang akhirnya berhasil ditaklukkan.

 BACA JUGA:Kegagalan Misi Mataram Sebarkan Islam di Bekas Wilayah Majapahit

Serangan balik Surabaya yang berusaha mempertahankan wilayahnya berhasil ditangkas. Beberapa wilayah kekuasaan dan sekutu Surabaya seperti Lasem, Tuban, Lamongan, berhasil ditaklukkan oleh Sultan Agung. Alhasil Surabaya menjadi satu - satunya daerah di timur Jawa dengan kekuatan besar, yang belum berhasil ditaklukkan Mataram.

Pengepungan pun dilakukan oleh Mataram, tetapi hal ini tak mudah. Sebab wilayah Surabaya termasuk istana kadipaten terletak di antara cabang-cabang Sungai Brantas. Banyak bagian - bagiannya jiga dikelilingi oleh rawa - rawa, yang membentuk benteng alami dan menyebabkan resiko kesehatan bagi para pengepungnya.

 BACA JUGA:Ketika Airlangga Balas Dendam Atas Kematian Mertuanya Sang Raja MataramSelain itu

Surabaya juga dikelilingi oleh tembok yang kokoh dengan diperkuat meriam - meriam. Posisi Surabaya sebagai kota pelabuhan juga membuat Mataram perlu memblokade Surabaya melalui jalur darat dan laut. Pemblokadean dua jalur ini tentu membuat Mataram mengeluarkan tenaga dan energi yang semakin banyak.

Pengepungan oleh pasukan Mataram pun dilakukan dengan mengirimkan lima ekspedisi di masa Sultan Agung. Pertama pada tahun 1620 dengan melibatkan 70 ribu melawan 30 ribu pasukan Surabaya. Pengepungan pertama ini gagal karena persediaan bagi pasukan Mataram yang tidak cukup.

Keberhasilan penaklukan Surabaya terjadi pada pengepungan kelima pada tahun 1625, dimana pasukan Mataram dipimpin langsung oleh Tumenggung Mangun Oneng dibantu oleh Tumenggung Yuda Prasena, dan Tumenggung Ketawangan, mengepung Surabaya. Sultan Agung kemudian menyusun taktik untuk membendung Sungai Brantas.

Tak cukup di situ pasukan Mataram membatasi pasukan air ke kota dan meracuni sisa pasokan air dengan menggunakan bangkai binatang. Pengepungan di darat juga turut dilakukan, hal ini membuat Surabaya kekurangan makanan dan perlengkapan hidup lainnya. Tercatat hanya rute laut ke Makassar yang terbuka dan bisa dimanfaatkan untuk menyalurkan logistik dan keperluan hidup lainnya.

Pengepungan ini konon membuat efek besar bagi Surabaya dan masyarakatnya. Kelaparan akut konon terjadi di Surabaya, maka Jayalengkara Adipati Surabaya saat itu memanggil dewan bangsawan kota. Saat Surabaya tidak bisa lagi bergerak akibat pengepungan Mataram yang sedemikian rapatnya, maka Adipati Jayalengkara akhirnya terpaksa menyerah. Sultan Agung pun berhasil menaklukkan Surabaya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini