Share

Kisah Tragis Dusun Sodom di Banjarnegara yang Lenyap dalam Semalam

Agregasi Sindonews.com, · Kamis 12 Mei 2022 12:41 WIB
https: img.okezone.com content 2022 05 12 337 2592957 kisah-tragis-dusun-sodom-di-banjarnegara-yang-lenyap-dalam-semalam-ISy6dM9wWp.jpg Tugu Dusun Legetang/ MPI

JAKARTA - Mendengar nama kaum Sodom dan Gomorah tentunya teringat kisah di zaman Nabi Luth mengenai dua kota yang hilang ditelan bumi. Dalam bahasa Ibrani, Sodom berarti terbakar sementara Gomorah adalah terkubur. Memang itu yang terjadi pada kota itu, terbakar dan terkubur.

(Baca juga: Deddy Corbuzier Hapus Konten LGBT dan Minta Maaf, Ketua PBNU: Mengaku Salah Lebih Terhormat)

Kedua kota tersebut hancur karena penduduknya kerap melakukan maksiat seperti mabuk-mabukan, berzina, dan berjudi.

Kisah mengenai kota atau daerah yang hancur akibat penduduknya kerap berbuat maksiat juga terdapat di Dieng, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Daerah yang hilang akibat bencana tanah longsor yaitu Dusun Legetang yang terletak di Desa Pekasiran, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Jateng.

Masyarakat di sekitar memperoleh cerita mengenai kisah tragis hilangnya Dusun Lagetang secara turun-temurun dari kakek-nenek maupun orangtuanya. Diceritakan Dusun Lagetang tersebut hilang akibat tertimbun longsor secara tiba-tiba yang terjadi pada 16 April 1955.

Kisah tersebut sampai sekarang masih terdengar di masyarakat sekitar. Bahkan, untuk mencari bekas Dusun Legetang yang hilang dalam waktu semalam sangat mudah. Jika anda dari Wonosobo, perjalanan menuju Dieng berbatasan Wonosobo dengan Banjarnegara hanya ditempuh dalam waktu satu jam, kalau menggunakan sepeda motor dan tidak terjebak kemacetan.

Untuk menuju ke Dusun Legetang yang hilang pada 1955 tersebut, bisa bertanya dengan tukang ojek yang mangkal di kawasan Dieng, Wonosobo. Mereka mengetahui rute menuju Dusun Legetang, Desa Pekasiran, Kecamatan Batur.

Mantan Kepala Dusun (Kadus) Pesantren, Yahya (60) warga Kasiran RT 04 RW 01, Desa Pekasiran, mengatakan, dulunya warga Dusun Legetang, keadaan ekonominya makmur dari hasil pertanian. Namun, mereka kebanyakan warganya, melakukan perjudian, perselingkuhan dan minim dengan agama.

โ€œSebelum kejadian itu, warga telah tahu kalau Gunung Pengamun-amun retak, kemudian mereka membuat lubang besar dengan lebar 25 meter dan panjang 50 meter. Harapannya kalau terjadi longsor, masuk di lubang yang dibuat,โ€ ujar Yahya memperoleh cerita dari almarhum ayahnya, Ahmad Yusuf, mantan Kadus, juga.

Dari peristiwa tersebut kata Yahya, hanya satu orang yang selamat. Orang yang selamat tersebut istri tertua dari bau (kepala dusun) Legetang Rana, yang asli Karangtengah.

โ€œBu Rana, hanyut bersama kursinya,โ€ ujar Yahya, sambil menghisap rokok lintingan klembak menyan sebagaimana kehidupan warga setempat.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini