Share

Usai Perang Bubat Hayam Wuruk Nikahi Wanita Cantik dari Wengker

Avirista Midaada, Okezone · Kamis 12 Mei 2022 07:19 WIB
https: img.okezone.com content 2022 05 12 337 2592763 usai-perang-bubat-hayam-wuruk-nikahi-wanita-cantik-dari-wengker-yZWIgRSZA2.jpg Ilustrasi Hayam Wuruk (Foto : MPI/Istimewa)

PERISTIWA Perang Bubat membuat hancurnya Kerajaan Sunda dan hati Hayam Wuruk. Bagaimana tidak, lamaran dan prosesi pernikahan antara Hayam Wuruk Raja Majapahit dengan putri Maharaja Linggabuana Wisesa Raja Sunda gagal terealisasikan.

Sang putri Raja Sunda Dyah Pitaloka Citraresmi yang sedianya dinikahkan dengan Hayam Wuruk, yang sudah dimabuk cinta akan kecantikan putri Sunda sirna. Gajah Mada mencoba mempolitisasi pernikahan yang didasari dengan cinta.

Pada akhirnya peperangan pun terjadi. Peperangan berat sebelah ini mengakibatkan seluruh rombongan pengiring pengantin dari Kerajaan Sunda gugur. Konon dari pejabat Sunda - hingga pasukannya, termasuk sang raja sendiri hanya satu perwira yang berhasil melarikan diri yakni Pitar, karena berpura-pura gugur.

Sementara sang putri Sunda Dyah Pitaloka Citraresmi memilih mengakhiri hidupnya sendiri melihat ayah ibunya gugur di tangan pasukan Bhayangkara yang dikomandoi Gajah Mada. Ia tampak sedih dan terkejut pasca Perang Bubat.

Pasca Perang Bubat, sebagaimana dikutip dari "Tafsir Sejarah Nagarakretagama" dari Prof. Slamet Muljana, Hayam Wuruk memang terlihat sedih. Ia merasa bersalah karena niatan menikahnya gagal terealisasi hingga membuat Dyah Pitaloka Citraresmi memilih bunuh diri.

Tetapi dikisahkan pada Pararaton sebagaimana tercantum pada buku tersebut, Hayam Wuruk akhirnya menikah dengan seorang perempuan cantik. Perempuan cantik itu bernama Paduka Sori, putri Wijayarajasa dari Wengker.

Bahkan Pararaton mengisahkan Hayam Wuruk konon masih hidup selama 32 tahun pasca Perang Bubat, hingga akhirnya mangkat atau meninggal dunia pada 1389. Menariknya konon hubungan antara Hayam Wuruk dan Gajah Mada tidak langsung renggang pasca Perang Bubat.

Mahapatih Gajah Mada konon masih ikut mengiringi sang prabu Hayam Wuruk dalam perjalanannya keliling ke Lumajang pada tahun 1359, sebagaimana terdapat di pupuh 18 / 2 Kakawin Pararaton. Bahkan Gajah Mada dan Hayam Wuruk juga masih sama-sama ikut dalam perayaan serada tahun 1362 untuk memperingati wafatnya Sri Rajapatni atau Gayatri, yang merupakan nenek Hayam Wuruk.

Pada tahun 1364 Pararaton menyinggung mangkatnya Gajah Mada sebagaimana pada pupuh 71 / 1. Kakawin Pararaton pulalah yang mengisahkan Gajah Mada melakukan mukti palapa atau bisa dikatakan pemberhentian dari jabatannya.

Pemberhentian Gajah Mada dari patih amangkubhumi ini konon terjadi sesudah Perang Bubat. Karena sang prabu Hayam Wuruk tidak menyetujui politik Gajah Mada terhadap Sunda. Peristiwa ini yang disebut sejarawan Slamet Muljana sama sekali tidak disinggung pada Nagarakretagama.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini