Share

Terpojoknya Situasi Singasari Usai Rajanya Terbunuh oleh Pasukan Kediri

Alyssa Nazira, Okezone · Kamis 12 Mei 2022 06:02 WIB
https: img.okezone.com content 2022 05 11 337 2592503 terpojoknya-situasi-singasari-usai-rajanya-terbunuh-oleh-pasukan-kediri-STD5k5aHdH.jpg Ilustrasi (Foto: Ist)

TAK ADA satupun yang menyangka jika suara gong pertama yang terdengar, ternyata berasal dari para penduduk dan kepala desa, penduduk di utara kota, yang berbondong-bondong mengungsi ke ibu kota. Para penduduk tersebut melaporkan bahwa pasukan Kediri melaju dengan membunyikan gong dan genderang serta mengibarkan ratusan umbul-umbul. 

Peristiwa penyerbuan oleh pasukan Kediri itu rupanya dikarenakan pihak Kerajaan Kediri yang murka karena jatuhnya korban di pihak mereka di tangan para pengawal Kertanegara yang berani meski tak berpanglima. Pasukan Kediri pun langsung merangsek ke keraton.

Secepat kilat mereka menyerbu ke dalam ruangan demi ruangan, dan akhirnya mereka mendobrak pintu ruang rahasia di bangsal perempuan yang khusus digunakan untuk ritual Tantra.

Para penyerbu yang beringas ini kemudian dikejutkan oleh pemandangan yang menurut mereka memalukan bagi raja, ratu dan sejumlah warga keraton yang sedang berada dalam berbagai pose yang ganjil dan awut-awutan, menenggak bergelas-gelas tuak dan asyik bersama para yoginis, alih-alih berperang layaknya ksatria.

Para penyerbu pun masuk, kemudian mengamuk dan tanpa ampun membantai seisi ruangan. Setelah itu, mereka memporak-porandakan seisi kota, memburu tawanan-tawanan penting dan melakukan penjarahan. Kertanegara yang merupakan raja di Kerajaan Singasari, beserta sang istri yang sedang berada di dalam ruangan tersebut ikut dibantai hingga tewas.

Sepeninggalan sang raja dan ratu, keadaan Singasari cukup kacau. Situasi medan perang ternyata lebih mencekam. Rombongan pasukan Singasari yang telah diberangkatkan ke kerajaan Malayu di Sumatra untuk melindungi putri bungsu sang raja, Gayatri, dari serangan Mongol, ternyata tidak bisa kembali ke Jawa lantaran arah angin yang bertiup berlawanan arah selama berminggu-minggu.

Pasukan Pengawal Raja yang bertahan di Singasari Selatan pun tercerai-berai sejak komandan mereka, Pangeran Ardaraja, membelot ke pasukan ayahnya yang menyerbu dari selatan. 

Yang tersisa hanyalah Pangeran Wijaya beserta 600 pengawal raja yang masih bertempur di bagian Utara kota. Dengan sengitnya ia bertarung demi merebut kembali ibu kota. Tetapi, pasukan musuh yang jumlahnya lebih besar mengepung desa Kambang Sri dan memaksanya mundur ke seberang Sungai Brantas yang deras.

Di sanalah, ia mendapati dirinya dalam situasi bahaya, dengan jumlah pendukung yang tak seberapa. Sebagian besar pasukannya tenggelam, sebagian lagi tertangkap, dan sisanya yang berhasil menyeberangi sungai, yang kemudian mereka tercerai-berai. Akhirnya, ia berhasil mencapai Desa Kudadu dalam kondisi letih, lapar dan sedih.

Kepala desa menyambutnya dengan tulus, serta menyuguhkan makanan dan minuman. la pun memberikan tempat berlindung, menyembunyikan sang pangeran dari musuh yang tengah mencari-cari dirinya.

Karena tak melihat adanya harapan untuk menang kali ini, Pangeran Wijaya pun memutuskan kabur ke pulau terdekat, yaitu Madura. la berharap agar Bupati Madura, Arya Wiraraja, yang sulit ditebak jalan pikirannya itu, tetap setia kepada Kerajaan Singasari, walaupun sang raja telah gugur.

Sumber: Buku Gayatri Rajapatni: Perempuan di Balik Kejayaan Majapahit karya Earl Drake

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini