Share

Kisah Raja Jawa Tanpa Mahkota, Orang Pertama yang Teriak Indonesia Merdeka

Tim Okezone, Okezone · Jum'at 06 Mei 2022 08:05 WIB
https: img.okezone.com content 2022 05 02 337 2588564 kisah-raja-jawa-tanpa-mahkota-orang-pertama-yang-teriak-indonesia-merdeka-aS9tQQt4x2.jpg HOS Tjokroaminoto (Foto: Wikipedia)

JAKARTA - Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto merupakan orang pertama yang meneriakkan Indonesia merdeka. Bahkan, dia dijuluki 'Raja Jawa Tanpa Mahkota' (De Ongekroonde van Java) saking ditakutinya oleh pemerintah Hindia Belanda.

Pria kelahiran Desa Bakur, Tegalsari, Ponorogo, Jawa Timur 1883 itu tak memiliki pendidikan formal. Putera dari Raden Mas Tjokroamiseno ini hanya lulusan akademi pamong praja Opleiding School Voor Inlandse Ambtenaren (OSVIA) di Magelang.

Tjokroaminoto otodidak memiliki pengaruh kuat di kalangan rakyat jelata. Bahkan, tidak sedikit rakyat yang menganggapnya sebagai Ratu Adil, karena gagasannya dianggap melebihi zaman serta selalu berpihak kepada rakyat dan tanah airnya.

Namun, Tjokroaminoto menolak sebutan tersebut, seperti ditulis sejarawan Ahmad Mansyur Suryanegara, dalam bukunya 'Menemukan Sejarah, Wacana Pergerakan Islam di Indonesia'. Dia justru mengingatkan bangsa Indonesia untuk bekerja keras menciptakan Indonesia merdeka.

Perjalanan karir Tjokroaminoto dimulai saat dirinya bertemu Haji Samanhudi, pendiri Sarekat Dagang Islam (SDI), di Surabaya pada 1912. Saat itu, Tjokro mengusulkan agar nama SDI diubah menjadi Sarekat Islam - tanpa meninggalkan misi dagangnya - agar lebih luas cakupannya.

Usul tersebut langsung diterima dan ia diminta menyusun anggaran dasar SI. Pada 10 September 1912, SI resmi berdiri dengan Samanhudi menjadi ketua dan Tjokroaminoto menjadi komisaris untuk Jawa Timur.

Follow Berita Okezone di Google News

Pada 1915, Tjokroaminoto menjadi ketua Central SI yang merupakan gabungan dari SI di daerah-daerah. Sejak saat itu, ia terus berjuang mengukuhkan eksistensi SI. Dalam naungan organisasi ini, Tjokroaminoto berjuang untuk menghapuskan diskriminasi usaha terhadap pedagang pribumi.

Dengan kata lain, SI berupaya menghilangkan dominasi ekonomi penjajah Belanda dan para pengusaha keturunan Cina. Maret 1916, SI diakui secara nasional oleh pemerintah Hindia Belanda. Memang, berbeda dengan pemuda keturunan bangsawan lainnya, HOS Tjokroaminoto merupakan tokoh yang berupaya keluar dari belenggu budaya Jawa.

Tak mengherankan, Tjokroaminoto tidak memilih organisasi Budi Utomo sebagai wadah perjuangannya. Padahal, Tjokroaminoto layak bergabung dalam organisasi eksklusif priyayi itu. Ayahnya, RM. Tjokroamiseno adalah Wedana di Kleco, Madiun; sedangkan kakeknya, RM Tjokronegoro adalah Bupati Ponorogo.

Selain kemerdekaan Indonesia, pokok gagasan Tjokroaminoto yang terkenal adalah pentingnya kebebasan berpolitik serta perlunya membangkitkan kesadaran akan hak-hak kaum pribumi. Gagasan patriotiknya bisa dilihat dalam berbagai ceramah dan tulisan di media massa seperti Bintang Surabaya, Utusan Hindia, Fajar Asia.

Tjokroaminoto juga melakukan gerakan penyadaran itu terhadap anak-anak muda yang indekos di rumahnya di Surabaya. Ia ingin bangsa Indonesia memiliki pemerintahan sendiri dan terbebas dari belenggu penjajahan.

Paling tidak, untuk tahap awal, bangsa Indonesia bisa menyalurkan suaranya dalam masalah politik, misalnya, lewat pembentukan sebuah parlemen sebagai perwujudan prinsip demokrasi. Dengan begitu, kehidupan bangsa Indonesia diatur oleh perundangan-undangan yang diputuskan oleh bangsa Indonesia sendiri di lembaga itu.

Gagasan Tjokroaminoto itu dilontarkannya di tengah-tengah Kongres Nasional Pertama Central Sarekat Islam pada 1916. Tentu saja, di masa itu pandangan tersebut dinilai sangat luar biasa berani dan progresif. Tak lama setelah ia mengusulkan pembentukan sebuah parlemen, tepatnya pada 1918, pemerintahan kolonial Belanda bersedia membentuk Dewan Rakyat 77 (Volksraad).

Tjokroaminoto dan tokoh SI lainnya, yaitu Abdul Muis dan Agus Salim terpilih sebagai anggota dewan itu. Mereka pun bertekad untuk membentuk parlemen sejati. Ketiganya sempat mengeluarkan mosi agar anggota parlemen dipilih dari dan oleh rakyat, serta membentuk pemerintahan yang bertanggung jawab kepada parlemen.

Sayang, mosi itu ditolak oleh pemerintah kolonial Belanda. Hal itu pulalah yang memaksa SI untuk mengambil alih sikap nonkooperasi dengan pemerintah.

Pada kongres 1923 yang diadakan di Madiun, SI akhirnya diu bah menjadi partai politik, dengan nama Partai Sarekat Islam (PSI). Partai itu bertekad untuk menentang pemerintah Belanda yang melindungi kapitalisme. 

Sebelum cita-citanya terkabul, pada 17 Desember 1934, Tjokro harus menghadap Sang Khalik. Tapi, ia meninggalkan seorang murid yang kelak akan meneruskan harapannya. Soekarno pun mengakuinya: "Tjokroaminoto adalah salah satu guru saya yang amat saya hormati. Kepribadian dan Islamismenya sangat menarik hati saya."

Tulisan ini dilansir dari 'Buku 100 Tokoh yang Mengubah Indonesia'

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini