Share

Ali Sadikin, Gubernur Kontroversial Bolehkan Judi demi Jakarta Jadi Kota Metropolitan

Tim Okezone, Okezone · Rabu 04 Mei 2022 10:04 WIB
https: img.okezone.com content 2022 05 02 337 2588556 ali-sadikin-gubernur-kontroversial-bolehkan-judi-demi-jakarta-jadi-kota-metropolitan-foEqBiJfJn.jpg Ali Sadikin (Foto: Ilustrasi Sindo)

JAKARTA - Ali Sadikin, Gubernur DKI Jakarta paling legendaris. Sosok pemimpin Ibu Kota yang dikenal berwatak keras dan kontroversial.

Bahkan, dalam bahasa Belanda pernah ada yang berkata di "a koppige vent, koppig," begitu Soekarno pernah berkata, seperti dikutip dari Buku '100 Tokoh yang mengubah Indonesia'

Ali merupakan kelahiran Sumedang, Jawa Barat 7 Juli 1927 silam. Ia pernah belajar di Sekolah Tinggi Pelayaran di zaman Jepang, karena memang sewaktu kecil bercita-cita ingin menjadi pelaut.

Kemudian, bergabung dengan BKR Laut, cikal bakal TNI AL melawan penjajah. Ali dikenal sebagai yang gagah berani maju ke garis depan sambil memberondong senapan mesin. Teman-temannya pun menamakan 'gaya Hollywood'. 

Singkat cerita, Ali didapuk sebagai Menteri Perhubungan Laut sekaligus Menteri Koordinator Urusan-urusan Maritim pada 1963-1966. Setelahnya, mendapat tugas dari Presiden Soekarno menjadi Gubernur DKI Jakarta dan dilantik pada 28 April 1966.

Baca Juga: Salurkan BLT BBM kepada 20,65 Juta KPM, Ini Strategi Pos Indonesia

Selama 11 tahun atau hingga 1977, Ali bekerja keras memoles Jakarta menjadi lebih baik. Ali secara intensif keluyuran ke semua penjuru kota, menjelajahi jalanan dan gang-gang kumuh.

Dia juga mendatangi pedagang di pinggir jalan, pengemis, dan penghuni gubuk-gubuk liar. "Saya merasakan kehinaan jutaan orang yang terpaksa mandi, cuci mulut, dan cuci pakaian di sungai-sungai terbuka," kata Bang Ali, begitu sapaan akrabnya.

Saat itu, pemandangan Ibu Kota sangat kumuh, pasar yang becek, jalanan berlubang setinggi lutut, serta timbunan sampah ada di mana-mana. Sistem angkutan kota runyam, gedung sekolah bobrok, dan fasilitas mandi-cui-kakus tanpa air tersebar di mana-mana.

Bahkan, para diplomat asing menyebutnya sebagai sarang wabah disentri. Ditambah, rasa saling curiga di antara lapisan masyarakat juga belum surut menyusul tragedi 30 September 1965.

Birokrasi seolah lumpuh di segala lini. Sementara itu, inflasi mencapai 600%, urbanisasi tak terbendung, dan penganggur membanjir diiringi tingkat kriminalitas yang merajalela.

Pemerintah hanya punya dana Rp66 juta untuk mengelola kota yang saat itu berpenduduk 4,6 juta jiwa. Namun, Ali tidak putus asa. Dia menggebrak, berteriak, dan membentak aparat pajak agar mengerahkan pendapatan pajak.

Ia menuntut kerja keras dari jajaran birokrat yang melayani kepentingan publik. Dengan sikap keras, ia mendisiplinkan sedikitnya 30 ribu pegawai kotapraja. Kerja kerasnya sedikit demi sedikit membuahkan hasil.

Masalah kriminalitas juga menjadi perhatiannya. Ali juga tak segan turun dalam operasi penggerebekan pencopet di terminal bus. "Saya suruh mereka (pencopet) berbaris. Tampar beberapa muka, lalu kami bertemu di Balai Kota," kata Ali. 

Tindakan kongkret semacam inilah yang secara signifikan menurunkan tingkat kriminalitas. Simpati untuk Ali pun mulai meluas. Lantaran terus dibelit masalah minimnya dana, Ali berpikir keras untuk mencari tambahan pendapatan bagi Pemda DKI.

Ali pun melirik sumber dana alternatif yang sangat subur, yakni perjudian - suatu langkah yang memicu kontroversi berkepanjangan. Sebetulnya UU No 11/1957 memungkinkan pemerintah daerah memungut pajak atas izin perjudian yang diberikan bagi pengusaha Cina.

Sebab, judi dianggap bagian dari budaya Cina. Namun, tak ada pejabat yang berani ambil risiko mengizinkan perjudian, yang haram bagi kaum muslim. Karena terpaksa, Ali tak gentar menantang arus.

"Untuk keperluan rakyat Jakarta, saya berani," katanya. 

Sebagai permulaan izin perjudian pun diberikan pada pengusaha bemama Apyang dan Yo Putshong. Judi Lotto (lotere totalisator), petak sembilan, dan hwa-hwe, yang tadinya sembunyi-sembunyi, mulai dilakukan secara terang-terangan. Aneka jenis judi itu pun mulai diramaikan warga non-Cina.

Meski tak berjalan mulus, tetap ada protes, terutama dari kaum muslim. Sementara dampak finansialnya tak terbantahkan, limpahan uang perjudian ini memang berdampak positif bagi Jakarta.

Gedung sekolah dibangun, rumah sakit didirikan, puskesmas diperbanyak, dan jalan-jalan diperbaiki. Dengan Proyek Mohammad Husni Thamrin, Ali gencar membenahi pemukiman kumuh. 

Ia juga merenovasi Taman Monumen Nasional (Monas) serta membangun Taman Ismail Marzuki, Gedung Arsip Nasional, Gelanggang Remaja Kuningan, Pasar Seni Ancol, Sekolah Atlet Ragunan, Planet Senen, sampai lokalisasi pelacuran Kramat Tunggak. Di akhir masa jabatannya (tahun 1977), Pemda DKI masih memiliki saldo kas Rp17 miliar.

Peran Ali Sadikin sangat signifikan dalam menciptakan Jakarta sebagai kota metropolitan dengan fasilitas modern, tidak lagi bercitra sebagai sarang disentri. Karakter kepemimpinan Ali yang tegas, bermoral, bersih, dan berwibawa, dinilai sebagai teladan yang langka. Ia sukses membangkitkan solidaritas, semangat, dan motivasi rakyat. 

Di kalangan rakyat kecil, popularitasnya cukup tinggi, walau ia mengizinkan berbagai penggusuran. Ia mendapat anugerah Ramon Magsaysay pada 1971. Setelah pensiun dati kemiliteran (dengan pangkat terakhir Letjen KKO) dan tidak lagi menjabat Gubernur DKI.

Namun, Ali masih menjalin kontak dengan tokoh-tokoh nasional yang memiliki komitmen tinggi terhadap masa depan bangsa. Keterlibatannya dalam Petisi 50 membuat rezim Orde Baru memberangus hak-hak politiknya.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini