Share

Idul Fitri: Modal Multidimensi untuk Kemajuan yang Berkeadilan

Opini, Okezone · Senin 02 Mei 2022 18:01 WIB
https: img.okezone.com content 2022 05 02 337 2588524 idul-fitri-modal-multidimensi-untuk-kemajuan-yang-berkeadilan-IMzf8vwba5.JPG Rektor IPB Arif Satria (Foto Dokumentasi Pribadi)

Marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah Swt atas karuniaNya berupa kesempatan kepada kita untuk menuntaskan ibadah Ramadhan sebulan penuh. Yakni sebuah kesempatan untuk menempa diri dengan meningkatkan intensitas ibadah, meningkatkan kemampuan pengendalian diri, dan meningkatkan solidaritas sosial.

Ramadhan adalah sekolah spiritual, sekolah kepribadian dan sekaligus sekolah sosial. Semoga kita semua bisa lulus sekolah multidimensi ini dengan nilai sempurna, yaitu nilai yang berasal dari Allah swt yang nanti akan kita ketahui saat kita berjumpa Al Khalik kelak.

Nilai yang baik dari Allah hampir pasti memberikan impact besar pada perubahan dan memberi manfaat untuk kehidupan kita di dunia. Mari kita rayakan idul fitri sebagai hari kemenangan.

Idul fitri adalah momentum kembalinya kepada fitrah: kesucian diri. Kesucian diri adalah modal untuk kita bergerak ke depan menjalani kehidupan. Kesucian bukanlah status yang statis, melainkan status yang dinamis karena kita kembali akan berdialektika dengan kehidupan nyata pasca Ramadhan.

Oleh karena itu, kita akan berharap bahwa dengan modal kesucian ini kita semakin jernih membedakan yang benar dan yang salah, memetakan keadaan dan terus proaktif memberikan solusi sehingga kita terus berada dalam rel kemajuan.

Kita harus hidup dalam rel kemajuan. Lebih-lebih hari ini kita dihadapkan pada dinamika perubahan yang cepat akibat disrupsi revolusi Industri 4.0. Dunia telah disulap dengan cepat dan semua menjadi mudah terkoneksi. Telah terjadi perubahan teknologi 4.0 yang sangat revolusioner dan membawa perubahan cara komunikasi, cara kerja, cara belajar, cara bisnis, cara berdakwah, dan cara hidup lainnya. Akibatnya, perlu kemampuan adaptasi terhadap perkembangan baru ini.

Ada ribuan pekerjaan hilang, namun muncul ribuan pekerjaan baru. Artinya, yang tidak bisa adaptif akan tertinggal zaman. Kita juga baru saja diuji adanya pandemi covid-19 yang hingga hari ini belum tuntas 100 persen, dan kini kita dituntut untuk bangkit melakukan pemulihan dan kembali fokus untuk terus membangun dengan cara-cara baru.

Situasi perubahan ini harus kita respons secara proaktif. Gerak perubahan ini harus kita cermati dan kita siapkan langkah untuk tidak sekedar beradaptasi tetapi kita juga harus hadir ikut merancang arah perubahan masa depan. Karena itu fokus pada kemajuan sudah menjadi keniscayaan.

Hidup harus terus bergerak. Allah berfirman dalam QS Al-Insyirah Ayat 7, “Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain)”. Artinya, kita diperintahkan untuk senantiasa dinamis menjalani kehidupan dengan terus bergerak ke depan dalam rel kemajuan.

Orientasi untuk bergerak maju tersebut didasari pada dua hal. Pertama, menjalankan fungsi manusia sebagai khalifah di muka bumi yang harus memakmurkan dan sekaligus menjaga kehidupan dunia dari kerusakan (QS Hud: 61; QS Al Anbiya: 107; QS Al Baqarah: 30; QS Al Baqarah:11). Orientasi maju adalah konsekuensi dari tanggung jawab manusia yang memang diciptakan untuk menjaga bumi, karena manusia adalah makhluk yang paling sempurna yang dikaruniai kelebihan daripada makhluk lainnya (QS Attiin:4; QS Al-Isra’: 70).

Kedua, sebagai bentuk syukur kita atas nikmat yang tak terhingga dari Allah Swt (QS An-Nahl ayat 4), baik nikmat kehidupan, nikmat akal, nikmat kemerdekaan, dan nikmat iman. Nikmat Allah kepada kita akan secara akumulatif membesar dan membesar manakala kita selalu mensyukurinya dengan jiwa dan tindakan nyata yang impactful.

Apabila kita bersyukur akan bertambah nikmatnya, sebagaimana QS Ibrahim ayat 7.Artinya: Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".

Jamaah Idul Fitri yang berbahagia.

Islam adalah agama yang berisi nilai-nilai kemajuan. Hal ini tercermin dari beberapa orientasi yang diajarkan oleh Al-Quran dan Sunah Nabi.Pertama, orientasi sebagai pembelajar. Ayat yang pertama kali turun adalah "iqra" yang artinya membaca. Penguatan literasi ternyata menjadi fondasi dalam membangun masyarakat.

Namun demikian, membaca bisa dimaknai lebih luas tidak saja membaca teks tetapi juga membaca konteks. Text yang tertulis dalam Al-Qur’an adalah sesuatu yang fix, sebagaimana Allah berfirman: "Dan Kami turunkan (Al-Qur'an) itu dengan sebenarnya dan (Al-Qur'an) itu turun dengan (membawa) kebenaran. Dan Kami mengutus engkau (Muhammad), hanya sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan." (QS Al-Isra: 105).

Dalam Al-Qur’an surat Al Hijr (15) ayat 9, Allah berfirman: ''Sesungguhnya, Kami-lah yang menurunkan Alquran dan Kami pula yang menjaganya.'' Ayat ini memberikan jaminan tentang kesucian dan kemurnian Al-Qur’an.”

Namun kehidupan bersifat dinamis karena dunia selalu mengalami perubahan, sehingga kita ditugaskan untuk terus menggali nilai-nilai yang terkandung dalam teks untuk diterapkan dalam berbagai konteks sesuai dengan dimensi ruang dan waktu.

Mempelajari teks dan mengamati konteks adalah aktivitas pembelajaran yang luar biasa. Allah berkali-kali menyinggung dalam sejumlah ayat, "apakah kamu tidak berpikir?"

Apakah kamu tidak berakal? Dalam QS Ali Imran ayat 190-191 ditegaskan bahwa “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi Ulil Albab (orang yang berakal), (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.”

Sosok ulul albab adalah sosok pembelajar sejati, baik pembelajar atas fenomena alam, fenomena sosial, bahkan pembelajar atas wahyu yang diturunkan Allah Swt. Banyak kisah dalam Al-Qur’an yang harus menjadi bahan pelajaran untuk peringatan ke depan, dan hanya Ulul Albab yang mampu belajar dari Kisah-kisah tersebut.

Allah berfirman dalam QS Yusuf ayat 111, yang artinya:

"Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal. (Al-Qur'an) itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu, dan (sebagai) petunjuk dan rahmat bagi

orang-orang yang beriman".

Sosok Ulul Albab adalah sosok pembelajar sejati karena terus berpikir dan berpikir, sehingga mengakumulasi ilmu yang didapatkan untuk diamalkan. Itulah mengapa Allah meningkatkan derajat orang-orang yang berilmu. Tidak lain karena orang-orang yang berilmu inilah yang diharapkan bisa terus menebar rahmat di muka bumi. Orang-orang

yang berilmu lah yang bisa merancang arah perubahan sosial. Sebagaimana firman Allah yang artinya: “…Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS. Al-Mujadalah: 11).

Namun yang membedakan antara Ulul Albab dengan pembelajar biasa adalah keseimbangannya pada pikir dan zikir. Intensitas zikir tersebut membuat seorang Ulul Albab menyadari bahwa ilmunya sangat terbatas ibarat setetes air di antara lautan samudera. Sikap rendah hati inilah yang akan terus mendorong Ulul Albab untuk belajar

dan belajar, serta berpikir-berpikir.

Sikap rendah hati ini adalah buah dari kesadaran penuh bahwa ilmu Allah maha luas, dan kesadaran ini tertanam sebagai hasil dari proses zikir yang berkualitas.

Kemahaluasan ilmu Allah tersebut tertulis dalam QS At-Talaq ayat 12 bahwa “ Allah yang menciptakan tujuh langit dan dari (penciptaan) bumi juga serupa. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, dan ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu”.

Sosok Ulul Albab yang pembelajar ini semakin diharapkan perannya dalam transformasi bangsa. Oleh karena itu di era yang serba cepat ini, maka sosok ulul albab juga harus dimaknai sebagai sosok yang adaptif dengan pola pikir tumbuh (growth mindset), yang terus memacu skill dan kompetensi baru dengan learning agility yang tinggi.

Kemampuan kecepatan belajar ini sangat penting agar bisa berperan menjadi trend setter perubahan. Kedua, orientasi pada masa depan. Ada dua dimensi masa depan, yaitu masa depan di dunia dan di akhirat.

Allah berfirman dalam Alquran surat Al-Hasyr ayat 18, yang

artinya, “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok, dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha teliti terhadap apa yang kamu kerjakan."

Ayat ini merupakan fondasi tentang visi masa depan. Visi besar seorang mukmin adalah menjadi hamba yang berbahagia di dunia dan akhirat. Hal ini karena kesadaran bahwa akhirat lebih abadi dari pada dunia. Namun, untuk menuju akhirat kita juga harus lewati jembatan dunia. Marilah kita cermati ayat-ayat berikut ini:

Artinya: "Apabila telah ditunaikan shalat maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyaknya supaya kamu beruntung." (QS Al-Jumu’ah: 10).

Artinya: "..Maka carilah rezeki di sisi Allah, kemudian beribadah dan bersyukurlah kepada

Allah. Hanya kepada Allah kamu akan dikembalikan." (QS Al-Ankabut: 17). Artinya: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi.” (QS AlQasas: 77)

QS Al-Qasas ayat 77 di atas turun untuk mengingatkan kisah Qarun yang berlimpah harta namun akhirnya binasa.

Qarun adalah orang saleh miskin yang kemudian minta tolong Nabi Musa agar didoakan kaya. Namun setelah kaya raya dia menjadi sombong dan

meninggalkan ibadah serta tidak lagi peduli sesama. Jadi ayat tersebut mengingatkan kita perlunya keseimbangan dunia dan akhirat.

Akhirat menjadi titik ujung masa depan yang abadi, namun kita harus melewati titik-titik antara yang ada di dunia.

Kehidupan dunia pun punya rentang waktu, yakni masa lalu, hari ini, dan masa depan. Ketika kita menjalani kehidupan di dunia maka kita pun dituntut untuk mengkombinasikan titik masa depan akhirat dan masa depan dunia. Sehingga doa kita pun lalu menjadi doa agar bahagia dunia dan akhirat, yang hampir setiap saat kita lafaskan.

Sementara itu, dalam QS Yasin ayat 12 Allah berfirman: Artinya: “Sungguh, Kamilah yang menghidupkan orang-orang yang mati, dan Kamilah yang mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka (tinggalkan). Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab yang jelas (Lauh Mahfuzh).”

Ayat ini semakin menegaskan bahwa apa yang kita kerjakan di dunia adalah investasi untuk akhirat. Artinya, kehidupan akhirat kita akan sangat tergantung dari apa yang kita kerjakan dan investasikan di dunia ini.

Ketiga, orientasi tentang waktu dan kualitas kerja. Kualitas kerja adalah orientasi bagi seorang yang beriman. Hal ini tercermin dari melekatnya dua kata yaitu beriman dan beramal soleh dalam sejumlah ayat. Ini adalah konsekuensi dari dalil bahwa dunia adalah jembatan menuju akhirat. Orang menuju akhirat perlu kehidupan yang baik di dunia.

Kehidupan yang baik di dunia memerlukan kualitas kerja yang baik pula. Kualitas kerja yang baik adalah hasil pemanfaatan waktu yang baik pula. Artinya setiap waktu akan dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk berbuat baik. Tidak ada waktu yang terbuang sia-sia. Nabi Muhammad saw bersabda: Artinya: "Dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalam keduanya, yaitu nikmat sehat dan waktu luang." (HR. Bukhari, Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Allah mengingatkan kepada kita dalam QS Al-Ashr ayat 1-3 yang artinya, "Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian,kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran".

Lebih jauh kualitas kerja tidak saja tercermin dari kata amal soleh, tetapi juga ahsanu amala, yang berarti kerja yang lebih baik. Kualitas kerja atau amal soleh ini menjadi modal kita menjadi orang yang bermanfaat. Bukankah sebaik-baik manusia adalah orang bermanfaat untuk orang lain? Kerja yang berkualitas adalah kerja yang memiliki manfaat. Tentu level manfaat bermacam-macam tergantung dari kualitas kerja kita.

Ada orang yang hanya mampu memberi manfaat spontan yang berdimensi jangka sangat pendek. Namun ada juga orang yang bisa memberi manfaat kepada lingkungan sekitar dengan dimensi jangka panjang.

Bila orang memberi ilmu kepada orang lain dan ilmunya bermanfaat untuk kemaslahatan manusia, artinya manfaat yang dia ciptakan berdimensi luas, baik cakupan penerima manfaat yang sangat banyak maupun durasi manfaat yang lebih lama.

Begitu pula bila seseorang hadir dengan inovasi unggul yang mampu memberi solusi atas masalah kehidupan, tentu ini juga dapat dikategorikan sebagai manfaat yang berkelanjutan.

Inilah barangkali yang juga bisa dimasukkan ke dalam terminologi “wa atsarohum” (peninggalan-peninggalan mereka). Artinya kita mampu menciptakan peninggalan atau legacy yang bermanfaat untuk kehidupan. Allah juga berjanji dalam QS An-Nahl ayat 97, yang artinya: “Barangsiapa mengerjakan amal soleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”

Oleh karena itu, marilah kita terus perkuat kulitas kerja kita agar kita mampu menghasilkan legacy-legacy yang menyejarah dan bermanfaat untuk kemajuan kehidupan manusia dan alam semesta. Hal ini karena sebaik-baik manusia adalah yang mampu memberi manfaat yang paling berkualitas untuk orang lain.

Keempat, orientasi untuk saling menginspirasi dan kolaborasi. Al-Qur’an surat AlAshr 1-3 di atas sekaligus menegaskan bahwa orang yang beriman dan beramal soleh adalah orang yang saling menasihati tentang kebenaran dan kesabaran.

Tentu ayat ini penting bagi kita di tengah masalah dan tantangan kehidupan yang berbeda dari waktu ke waktu.U ntuk menghadapi masalah dan tantangan perlu ide dan pemikiran, serta pada saat yang

sama juga memerlukan semangat dan motivasi baru.

Disinilah inspirasi tentang kebenaran dan kebaikan sangat diperlukan untuk menjadi modal dalam memperkuat kualitas kerja. Begitu pula masalah dan tantangan yang selalu ada menuntut kita untuk

lebih sabar.

Kesabaran begitu ditekankan oleh Allah karena ujian dan cobaan tidak akan pernah berhenti, sebagaimana dialami oleh seluruh Nabi.

Begitu pula dalam QS Al-Ma’idah ayat 2 ditegaskan oleh Allah: Artinya: "…Saling Menolonglah kamu dalam melakukan kebajikan dan taqwa. Dan jangan saling menolong pada perbuatan yang dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah SWT. Sebenarnya siksaan Allh SWT sangatlah pedih.”

Ayat ini sekaligus menggambarkan bahwa manusia adalah makhluk sosial yang memerlukan sikap saling tergantung. Interdependensi adalah kebutuhan. Lebih-lebih hari ini kita makin merasakan sebuah era yang penuh dengan kecepatan, ketidakpastian, dan kompleksitas.

Di era seperti ini memerlukan skill kolaborasi yang kuat. Kolaborasi ini adalah modal penting untuk lahirnya sebuah inovasi. Hampir semua inovasi yang disruptif adalah inovasi hasil kolaborasi. Saat ini kita tidak bisa lagi hidup sendirian.

Kelima, integritas. Kolaborasi yang akan bertahan dalam waktu lama adalah kolaborasi yang berbasis pada sikap saling percaya (trust). Inilah yang membuat negara-negara maju sangat produktif berinovasi karena kuatnya kolaborasi antar ilmuwan dan antar-lembaga.

Kelanggengan kolaborasi mereka tercipta karena basis hubungannya adalah kepercayaan. Hal ini bisa terwujud karena masyarakat mereka sudah tergolong apa yang disebut Fukuyama sebagai high trust society, yaitu masyarakat dengan rasa saling percaya yang tinggi.

Mereka bisa saling percaya karena mereka memiliki integritas yang

kuat yang berpegang pada prinsip kejujuran. Ada beberapa ayat Al-Qur’an dan Hadits Nabi yang merintahkan kita untuk berbuat jujur,

antara lain: Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar (jujur)." (QS At-Taubah: 119)

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS. Al Ahzab: 70-

71).

Artinya: “Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan mengantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk

berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Muslim no. 2607).

Artinya: “Tinggalkanlah yang meragukanmu pada apa yang tidak meragukanmu. Sesungguhnya kejujuran lebih menenangkan jiwa, sedangkan dusta (menipu) akan menggelisahkan jiwa.” (HR. Tirmidzi no. 2518 dan Ahmad 1/200)

Thomas Stanley mengatakan bahwa dari 100 Faktor sukses ternyata nomor satu adalah kejujuran, bukan kepintaran, bukan dimana kita sekolah, dan bukan berapa nilai sekolah kita. Jelas, bahwa Islam mengajarkan kepada kita tentang kejujuran. Hal ini juga tertlihat jelas dari keteladanan Nabi Muhammad Saw yang sangat terkenal dengan julukan “Al

Amien”.

Status ini diberikan oleh suku Quraisy kepada Nabi karena kejujurannya. Keenam, berpikir positif. Seorang mukmin selalu mengambil hikmah dari setiap peristiwa. Bahkan dalam QS Al-Insyirah Ayat 5 ditegaskan," setelah ada kesulitan pasti ada kemudahan".

Kita dilatih untuk bersikap positif atas kejadian apapun. Juga ayat

berikut ini juga mengingatkan kita keharusan berprasangka baik: "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui." (QS Al-Baqarah: 216).

Nabi menganjurkan kepada kita semua untuk terus berpikir positif (husnuzan), sebagaimana sabdanya:

Artinya: “Allah Ta’ala berfiman: Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku. Aku bersamanya apabila ia memohon kepada- Ku." (HR Muslim).

Hadist Nabi ini menegaskan pentingnya mindset baru yang harus selalu positif. Sikap positif ini akan berdampak pada menguatnya optimisme dalam berbagai hal, dan optimisme adalah modal untuk kemajuan.

Ketujuh, proaktif dan penuh inisiatif. Nilai ini muncul sebagai pemahaman atas QS ArRa’d Ayat 11 yang menegaskan bahwa Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang akan mengubahnya. Disinilah masa depan kita akan ditentukan oleh kita sendiri.

Maju mundurnya kehidupan kita sangat tergantung dari sikap

proaktif dan daya inisiatif melalui visi, strategi, dan eksekusi yang kita lakukan. Telah ditegaskan bahwa “Seorang Manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya” (QS An-Najm Ayat 39).

Artinya, upaya mewujudkan visi hidup kita diperlukan sebuah langkah proaktif. Tidak ada yang datang tiba-tiba. Semua memerlukan

usaha dan melewati tahapan proses. Oleh karena itu, penguatan kualitas sikap proaktif dan daya inisiatif sangat diperlukan untuk transformasi kita ke depan.

Ketujuh nilai tersebut bisa menjadi pilar budaya kemajuan. Budaya kemajuan ini diperlukan untuk merespons perubahan. Kemajuan secara kultural sangatlah penting bagi konstruksi kemajuan secara material, seperti teknologi, infrastruktur, ekonomi, dan bangunan fisik lainnya. Tentu yang kita inginkan adalah kemajuan bangsa dengan kekuatan kombinasi keduanya yakni adanya kemajuan secara kultural dan kemajuan material sekaligus.

Selanjutnya seluruh dimensi kemajuan tersebut didasari kerangka spiritualitas yang kuat, sehingga iman dan taqwa tetap menjadi fondasi pokoknya. Jamaah idul Fitri yang dirahmati Allah Swt.

Kemajuan yang hendak kita capai juga sudah seharusnya bisa dirasakan oleh semua orang.

Ketika nilai budaya kemajuan tersebut di atas penting untuk mendorong pertumbuhan dan kemakmuran, maka nilai-nilai kemanusiaan dan solidaritas sosial mendorong terciptanya pemerataan dan keadilan. Inilah kita sebut dengan kemajuan inklusif atau kemajuan yang berkeadilan.

Salah satu hikmah idul fitri adalah kesucian hati, yang menjadi modal untuk memperkuat nilai kemanusiaan. Kuatnya nilai kemanusiaan ini kemudian menjadi pendorong kepedulian dan solidaritas sosial. Di bulan Ramadhan juga diperintahkan untuk mengasah kepedulian sosial melalui instrumen zakat, infak dan sodaqoh.

Allah selalu menyebut bahwa salah satu ciri orang bertaqwa adalah yang beriman dan beramal soleh, serta yang mendirikan sholat dan menunaikan zakat. Sholat dan zakat adalah dua kata yang selalu ditempatkan secara bersama dalam sejumlah ayat.

Setelah sholat jangan lupa menafkahkan hartanya di jalan Allah, termasuk di dalamnya dalam membantu orang fakir dan miskin. Artinya, selalu ada dimensi hablum minallah dan hablum minannas dalam kriteria ketaqwaan.

Secara gamblang ciri tersebut kita dapatkan di QS Al-Baqarah ayat 3 yang artinya: “(yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib,

melaksanakan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” Bahkan dalam QS Al-Balad ayat 13-16 ditegaskan pula kalau kita harus memerdekakan budak, memberi makan anak yatim, dan fakir miskin. Artinya kelompok masyarakat bawah atau Kaum mustadzafin harus diperhatikan sehingga kemajuan yang

kita capai adalah kemajuan yang humanistik.

Kemanusiaan, kepedulian sosial dan keadilan adalah nilai-nilai yang harus terus kita perjuangkan. Allah sangat tegas memerintahkan kita untuk berbuat adil, sebagaimana ayat berikut ini:

Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS An-Nahl: 90)

Bahkan lebih jauh Allah Swt meminta kita berbuat adil termasuk kepada orang-orang yang kita benci, sebagaimana QS Al-Maidah ayat 8, yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, (ketika) menjadi saksi dengan adil.

Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adilah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”

Jamaah idul fitri yang Kami muliakan, Kemajuan harus berbagi. Kita tidak bisa maju sendirian. Kemajuan yang kita raih harus memperhatikan hak-hak orang lain. Karena itu gagasan kemajuan yang berkeadilan adalah prinsip pokok dalam membangun bangsa ini. Hal ini mengingat kita masih menghadapi keragaman kelas ekonomi.

Ada masyarakat kita yang sudah masuk 5.0, ada juga yang masih 3.0, 2.0, bahkan 1.0. Di kala kecepatan perubahan ini terjadi, maka tidak ada cara lain selain kita harus maju bersama. Jangan sampai ada satu kelompok masyarakat pun yang tertinggal dalam perjalanan meraih kemajuan.

Kita adalah bangsa yang merdeka secara bersama-sama, dan maju pun harus bersama-sama. Marilah kita jadikan momentum Idul Fitri ini untuk memperkuat semangat kita mewujudkan kemajuan yang berkeadilan.

Yakni memperkuat nilai-nilai kemajuan (pembelajar, orientasi masa depan, kualitas kerja, integritas, kolaborasi dan inspirasi, berpikir positif, dan proaktif) serta nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan. Semoga Allah meridhoi setiap langkah kita.

oleh:

Arif Satria

Ketua Umum ICMI/Rektor IPB

Khutbah Idul Fitri 2022 M/1443 H Masjid Al-Markaz Makassar

1
5

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini