Share

Kisah Masyarakat Jakarta Dilarang Belanda Sholat Idul Fitri

Tim Okezone, Okezone · Senin 02 Mei 2022 12:02 WIB
https: img.okezone.com content 2022 05 02 337 2588360 kisah-masyarakat-jakarta-dilarang-belanda-sholat-idul-fitri-CXaP6kaDJ3.jpg Sholat Idul Fitri (Foto: Dok Sindo)

JAKARTA - Hari Raya Idul Fitri merupakan hari kemenangan bagi umat Muslim yang tandai dengan takbir dan Sholat Idul Fitri. Dahulu kala semasa zaman penjajahan Belanda, titik Sholat Idul Fitri di pekarangan bekas rumah Soekarno di Pegangsaan Timur Nomor 56.

Sejak Agresi Militer 1 Belanda 1947 dan perjanjian Renville 17 Januari 1948, Jakarta menjadi milik Belanda. Sementara wilayah Indonesia hanya tersisa Banten, Jawa Tengah dan Sumatera. 

Namun, puluhan ribu warga tetap menggelar Sholat Idul Fitri skala besar di pusat kota, dan yang menjadi titiknya itu di rumah bekas Bung Karno.

Dikutip buku ‘Kronik Revolusi Indonesia: Jilid IV (1948)’ karya Pramoedya Ananta Toer dkk, Belanda menganjurkan agar masyarakat Sholat Idul Fitri di Lapangan Gambir. Namun, anjuran tersebut enggan dituruti Panitia Sholat Idul Fitri 1367 H.

"Sebagai diketahui, Pegangsaan Timur 56 oleh rakyat Jakarta dianggap simbol Republik (Indonesia). Lapangan Gambir Simbol Kekuatan Asing,” tulis Pramoedya Ananta Toer dkk.

Anjuran tersebut disampaikan dua hari jelang Hari H, yakni 4 Agustus 1948. Pemerintah Belanda memang menentukan 1 Syawal 1367 H, bukan pada 6 Agustus, melainkan 7 Agustus.

Sementara menukil dari Kantor Berita Antara, panitia dan masyarakat tetap kukuh untuk melaksanakan Sholat Idul Fitri pada 6 Agustus, sesuai ketentuan pemerintah republik di Yogyakarta.

Baca Juga: Lifebuoy x MNC Peduli Ajak Masyarakat Berbagi Kebaikan dengan Donasi Rambut, Catat Tanggalnya!

Panitia akhirnya menemui Pokrol Jenderal (Jaksa Agung) pada 5 Agustus, yang awalnya juga keberatan soal Sholat Idul Fitri di Pegangsaan Timur 56. Namun, negosiasi tersebut menghasilkan perizinan dari Pokrol Jenderal dengan syarat, tidak lebih dihadiri 100 orang.

Saat fajar menyingsing pada 6 Agustus, ternyata tidak hanya 100 orang yang datang. Namun, ribuan masyarakat Jakarta berduyun-duyun ke lokasi Sholat Idul Fitri di pekarangan bekas rumah Bung Karno itu.

Banyaknya jumlah jamaah membuat PID dan aparat Belanda pun seolah tak bisa membendung aliran umat muslim yang membanjiri lokasi. Mereka pun hanya bisa memperketat pengamanan.

Sejumlah tank dan jip Polisi Militer Belanda disiagakan di dekat lokasi Sholat Idul Fitri. Alhasil, Sholat Idul Fitri berjalan kondusif dimulai pada pukul 09.15 -10.00 WIB. Meski menegangkan.

Moh Ali al-Hamidi bertindak sebagai imam dan khatib. Dia menggantikan Moh Natsir yang batal jadi imam dan khatib.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini