Share

INMIND: Terkait Kebencian SARA, Sikap LPDP Harus Tegas

Tim Okezone, Okezone · Minggu 01 Mei 2022 04:52 WIB
https: img.okezone.com content 2022 05 01 337 2587923 inmind-terkait-kebencian-sara-sikap-lpdp-harus-tegas-SUbrmVCfYw.jfif Sekum INMIND Fachrudin Muchtar (Foto InMind)

JAKARTA - Pernyataan Budi Santosa Purwakartiko yang terkesan kurang senang jika mahasiswi berjilbab lolos seleksi beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) terus menuai kecaman. Kali ini dari Sekretaris Umum Institut Moderasi Indonesia (InMind), Fakhruddin Muchtar, Minggu (1/5/2022).

“Jika benar mengatakan demikian, tentu ini persoalan serius. Bagaimana bisa sebuah lembaga di bawah naungan negara, memilih tim yang justru berpotensi membelah bangsa?” ujarnya.

Fakhruddin memandang status di akun Facebook Rektor Institut Teknologi Kalimantan (ITK) yang telah dihapus tersebut jelas menjurus pada ujaran kebencian yang berbau suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

“Salah satu potensi pemecah bangsa ini adalah ekstrimisme, tapi jangan anggap ektrem itu hanya ada di kanan. Ia berada di manapun dan pada siapapun yang menebar kebencian berbau SARA. Moderasi itu di tengah sebagai penengah, bukan berat sebelah,” terangnya

Lebih lanjut Fakhruddin memandang langkah yang dilakukan ITS dengan mengatakan bahwa apa yang disampaikan Budi Santosa tidak ada hubungannya dengan sikap kampus sudah sangat tepat.

“LPDP juga mestinya melakukan hal yang sama. Menyatakan sikap bahwa LPDP sama sekali tidak memiliki pandangan yang sama dengan Prof. Budi. Jika tidak, reputasi LPDP bisa jadi buruk di mata publik. Pernyataan sikap lembaga ini harus tegas,” tandasnya.

Seperti diketahui pada akun Facebook Budi Santosa Purwatiko sempat menuliskan tentang pengalamannya mewawancarai mahasiswa yang mengikuti beasiswa LPDP.

“Saya berkesempatan mewawancara beberapa mahasiswa yang ikut mobilitas mahasiswa ke luar negeri. Program Dikti yang dibiayai LPDP ini banyak mendapat perhatian dari para mahasiswa. Mereka adalah anak-anak pinter yang punya kemampuan luar biasa. Jika diplot dalam distribusi normal, mereka mungkin termasuk 2,5 persen sisi kanan populasi mahasiswa.

Tidak satu pun saya mendapatkan mereka ini hobi demo. Yang ada adalah mahasiswa dengan IP yang luar biasa tinggi di atas 3.5 bahkan beberapa 3.8, dan 3.9. Bahasa Inggris mereka cas cis cus dengan nilai IELTS 8, 8.5, bahkan 9. Duolingo bisa mencapai 140, 145, bahkan ada yang 150 (padahal syarat minimum 100). Luar biasa. Mereka juga aktif di organisasi kemahasiswaan (profesional), sosial kemasyarakatan, dan asisten lab atau asisten dosen.

Mereka bicara tentang hal-hal yang membumi: apa cita-citanya, minatnya, usaha-usaha untuk mendukung cita-citanya, apa kontribusi untuk masyarakat dan bangsanya, nasionalisme dan sebagainya. Tidak bicara soal langit atau kehidupan sesudah mati. Pilihan kata-katanya juga jauh dari kata-kata langit: insaallah, barakallah, syiar, qadarullah, dan sebagaianya.

Generasi ini merupakan bonus demografi yang akan mengisi posisi-posisi di BUMN, lembaga pemerintah, dunia pendidikan, sektor swasta beberapa tahun mendatang. Dan kebetulan dari 16 yang saya harus wawancara, hanya ada dua cowok dan sisanya cewek. Dari 14, ada dua tidak hadir. Jadi 12 mahasiswi yang saya wawancarai, tidak satu pun menutup kepala ala manusia gurun. Otaknya benar-benar open mind. Mereka mencari Tuhan ke negara-negara maju, seperti Korea, Eropa Barat, dan US, bukan ke negara yang orang-orangnya pandai bercerita tanpa karya teknologi.”

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini