Share

Kisah Jenderal Kopassus Taklukan Atap Dunia, Nyaris Tewas Kehabisan Oksigen di Ketinggian 8.500 Mdpl

Fahmi Firdaus , Okezone · Senin 25 April 2022 07:44 WIB
https: img.okezone.com content 2022 04 25 337 2584612 kisah-jenderal-kopassus-taklukan-atap-dunia-nyaris-tewas-kehabisan-oksigen-di-ketinggian-8-500-mdpl-b3MVHI9crk.jpg Tim Nasional Ekspedisi Everest/ channel TNI AD

JAKARTA – Gunung Everest merupakan puncak tertinggi di dunia, dan juga merupakan gunung tertinggi di dunia berada di perbatasan Nepal-Tibet yang masuk dalam barisan pengunungan Himalaya.

(Baca juga: Kisah Prabowo Tidur Sambil Jalan saat di Pasukan Baret Merah Kopassus)

Ada kisah menarik prajurit Korps Baret Merah Kopassus menaklukan gunung yang berjuluk atap dunia untuk menancapkan Bendera Merah Putih di puncak Everest pada 1997.

Saat itu, Kopassus masih dipimpin oleh Prabowo Subianto. Mereka adalah Pratu Asmujiono, Sersan Misirin dan Lettu Iwan Setiawan. Mereka tergabung dalam Tim Nasional Ekspedisi Everest (TNEE) yang beranggotakan 43 orang dari Kopassus, Wanadri, FPTI, Rakata, dan Mapala UI.

(Baca juga: Demo 21 April di Istana, Jenderal Kopassus Turun Tangan Kerahkan Ribuan Prajurit)

Saat ini, Iwan Setiawan berpangkat Mayjen dan menjabat Danjen Kopassus. Iwan mengenang perjalanan menaklukan puncak tertinggi di dunia tersebut. Diketahui, mendaki Gunung Everest adalah impian setiap pendaki di dunia.

“Saat itu saya belum tahu, apa itu Mount Everest. Bayangkan, naik gunung saja belum pernah, terutama gunung es,” ujar Iwan dilansir akun resmi Youtube TNI AD, Senin (25/4/2022).

Saat itu Iwan baru lulus pendidikan komando. Dia mendapat informasi adanya seleksi Tim Ekspedisi Everest 97. Ekspedisi ini untuk menyambut HUT ke-45 Kopassus. Bagi prajurit Kopassus, kata Iwan, tugas merupakan segala-galanya.

Tugas merupakan kehormatan. Begitu pula Ekspedisi Everest tersebut. Dia mengikuti seleksi. Menurutnya, bergabung dengan Tim Ekspedisi Everest sama dengan bertaruh nyawa.

“Alhamdulillah, saya menjadi salah satu perwira akmil (akademi militer) yang lolos dan lulus untuk ikut ekspedisi pendakian ini,” ucapnya.

Ada kisah menarik sebelum dia berangkat mengikuti ekspedisi tersebut. Dia menghadap Danjen Kopassus Prabowo Subianto, untuk izin menikahi pujaan hatinya Betty Siti Supartini.

Setelah itu, Ekspedisi Kopassus akhirnya menginjak Nepal untuk memulai pendakian. Iwan mengenang bagaimana beratnya masa-masa awal berhadapan langsung dengan gunung es. Dia sempat jatuh sakit karena cuaca ekstrem.

“Saya baru berjalan 100 meter muntah-muntah, kaget, karena memang tidak siap dengan cuaca dingin. Rupanya istri ikut merasakan (kalau saya sakit),” kenangnya.

Namun sebagai prajurit komando yang ditempa dengan sangat berat, tentu saja tidak membuat Iwan mundur.

 Sebagai satu-satunya perwira Akmil yang memimpin tim sekaligus tumpun harapan Kopassus dan bangsa Indonesia untuk mengibarkan Bendera Merah Putih di puncak Everest, dia terus menguatkan semangat.

Mantan Danrem 173/Praja Vira Braja ini meyakini, doa istri yang rajin puasa senin-kamis, juga doa seluruh bangsa, dirinya sembuh. Iwan pun melanjutkan perjalanan mengarungi medan berat dengan suhu minus 50 derajat Celcius.

Baca Juga: Peringati Hari Lahir Pancasila, Pengawas KKP Lakukan Upacara Bawah Laut

Dalam ekspedisi maha berat ini Tim Kopassus terbagi dalam dua kelompok pendakian, yakni jalur utara dan selatan. Iwan memimpin tim di jalur selatan.

“Bayangkan suhu minus 50 derajat Celcius. Sepanjang jalan banyak orang-orang meninggal,” ucapnya. Mendaki Everest ibarat pertaruhan hidup dan mati. Di ketinggian 8.500 meter dari permukaan laut, Iwan terjatuh kehabisan oksigen. Momen itu menjadi saat-saat kritis dan menegangkan.

“Bayangkan, bagaimana bisa enggak orang hidup di ketinggian 8.500 (mdpl) dengan suhu minus 50. Saya kehabisan oksigen, tanpa matras, tanpa sleeping bag, antara hidup dan tidak,” tuturnya.

Iwan berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar diberikan keselamatan, dapat menyelesaikan tugas dan kembali ke Tanah Air untuk bertemu keluarga. Pada saat-saat terberat itu, dia pun terbayang istrinya yang sedang hamil.

Perjuangan berbulan-bulan sejak masa persiapan di Indonesia hingga di Kathmandu, Nepal akhirnya terbayar lunas. Iwan bersama Musirin dan Asmujiono menorehkan sejarah orang Indonesia pertama mengibarkan Merah Putih di puncak tertinggi dunia.

Ekspedisi ini disebut pula sebagai orang Asia Tenggara pertama yang berhasil menapakkan kaki di puncak Himalaya itu.

“Itu sangat-sangat mengharukan, dan saya sangat-sangat, betul-betul…. Saya betul-betul bersyukur. Bisa selamat di sana dan bisa kembali,” kenangnya.

Setelah berhasil menancapkan merah putih di puncak tertinggi dunia, Iwan pun kembali ke Tanah Air. Dia disambut 20 jenderal dan dipanggil Presiden Soeharto.

“Begitu kembali saya dijemput 20 jenderal waktu itu. Kita dipanggil presiden, mendapatkan penghargaan, diberi bintang. Saya disuruh sujud ke Tanah Suci. Saya bersyukur di situ bisa berhasil mengharumkan nama Indonesia dan bisa selamat kembali ke Indonesia dan bertemu istri,” ujarnya.

Pengalaman menaklukan puncak Everest itu tak akan pernah dilupakan Iwan. Rekam jejak itu akan selalu melekat dalam ingatannya, juga mengalir dalam darah dagingnya. Atas kesuksesan dalam ekspedisi bersejarah ini, dia pun memberikan nama putranya Arya Everest Setiawan.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini