Share

Naik Haji, Gus Dur Lebih Pilih Tidur di Karpet Ketimbang Kasur di Hotel Bintang 5

Tim Okezone, Okezone · Minggu 24 April 2022 04:05 WIB
https: img.okezone.com content 2022 04 23 337 2584056 naik-haji-gus-dur-lebih-pilih-tidur-di-karpet-ketimbang-kasur-di-hotel-bintang-5-6rR0IqmADa.jpg Gus Dur (Foto: Ist)

GUS DUR ternyata memiliki kebiasaan tidur di karpet. Hal itu pun dilakukannya sejak lama, termasuk ketika naik haji pada 1998.

Dalam tulisannya yang dimuat nu.or.id, Budayawan Ahmad Tohari menceritakan pengalamannya bersama Gus Dur. Saat tidur di hotel, Gus Dur memilih karpet daripada kelas satu kamar hotel bintang lima.

BACA JUGA:Humor Gus Dur: Ramalan Banjir Besar di Ibu Kota Tahun 2002 

Meski, karpetnya kualitas super. Berbeda dengan dirinya yang hanya bisa memili karpet murah yang kasar, dan debuhnya juga tak pernah disedot.

Pada 1995, Gus Dur sempat dua malam tidur di rumahnya di kampung. Malam pertama, Gus Dur tidur di dipan kayu. Namun, pada malam kedua, Gus Dur memilih tidur di karpet murahan yang menutup lantai ruang tengah.

Gus Dur tampa santai dan tidurnya lelap. Meski, kepalanya hanya tersangga bantal sandaran kursi. Kanjeng Nabi Muhammad SAW pernah tidur di lantai tanah dengan hanya beralas tikar daun kurma.

BACA JUGA:Daftar Penghargaan dan Doktor Kehormatan yang Pernah Diberikan kepada Gus Dur 

Maka, ada tanda-tanda guratan pada pipinya yang mulia ketika beliau bangun. Hal yang hampir sama ternyata juga diamalkan mantan Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

Baca Juga: Salurkan BLT BBM kepada 20,65 Juta KPM, Ini Strategi Pos Indonesia

Dirinya percaya, Gus Dur melakukan semua itu dengan enak, tanpa pretensi apa pun. Tapi, istrinya menjadi tak bisa tidur dan sepanjang malam sering mengusap air mata.

Dia pun merenung dalam kesadaran bahwa semua perilaku orang berilmu mengandung pelajaran. Maka, pelajaran apa yang sedang diberikan Gus Dur kepada dirinya?

Bertahun-tahun pertanyaan itu mengusik jiwanya hingga akhirnya mendapatkan jawaban yang mendekati kebenaran. Yakni, dengan rela tidur di lantai, Gus Dur sesungguhnya sedang mengajarkan dirinya untuk menyadari hakikat diri bahwa manusia sehebat apa pun sesungguhnya tidak ada apa-apanya.

Kemuliaan adalah hak Allah semata. Maka, manusia, siapa pun, tidak pantas merasa mulia, tak pantas minta, apalagi menuntut dimuliakan. Jadi, semua manusia sepantasnya rela tidur di lantai karena sesungguhnya tak ada kemuliaan baginya melainkan hak Allah.

Mungkin, jalan pikiran tersebut terlalu nyufi. Maka, dirinya mulai mencari jawaban di wilayah sarengat (syariat, Red). Rasanya, menemukan jawabannya pada rukun Islam yang pertama, syahadat.

Setelah syahadat (taukhid) diucapkan fasih dengan lisan, dibenarkan dengan akal yang dipercaya dengan hati. Lalu? Seperti rukun Islam yang lain, syahadat sebenarnya menuntut implemantasi dalam bentuk perilaku nyata sehari-hari. Kalau tidak syahadat, hanya akan mewujud dalam wilayah simbol yang tidak melahirkan ihsan.

Orang Islam mana yang tidak tahu bahwa syahadat adalah kesaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Allah? Semua tahu, mengerti, dan yakin. Tapi, siapa yang sudah mengimplementasikan itu dalam kehidupan nyata?

Kita memang sudah menjaga kebersihan syahadat dengan tidak menyembah berhala, tidak percaya dukun, bahkan mungkin tidak memberhalakan harta maupun kedudukan. Itu sudah hebat sekali. Namun, masih ada pertanyaan kritis yang menunggu dijawab: apakah karena sudah bersyahadat, kita tidak lagi memberhalakan diri dalam segala bentuk dan manifestasinya?

Merasa diri mulia, istimewa, atau lebih ini lebih itu daripada orang lain adalah manifestasi bentuk-bentuk awal pemujaan atau peng-ilah-an diri. Tentu saja hal itu menodai keikhlasan syahadat. Sebab, hanya Allah yang sejatinya mulia, sejatinya istimewa, dan serba lebih daripada makhluk mana pun.

Oleh karena itu, siapa pun yang ingin memelihara syahadatnya akan selalu bersikap tahu diri kapan dan di mana pun. Selama hampir 30 tahun bergaul dengan Gus Dur, sikap tahu diri itulah yang tampak dan terasa memancar dari kepribadiannya.

Dia hormat kepada yang tua, sayang kepada yang muda, dan amat bersahabat dengan teman seusia. Rasa setia kawannya yang mendalam menembus batas ras, agama, status sosial, bahkan batas kebangsaan.

Dalam satu kalimat, Gus Dur adalah orang yang sangat tahu diri dan merasa dirinya biasa, sama dengan orang lain. Itulah pelajaran dan keteladanan yang saya dapatkan. Itulah cara Gus Dur mengajarinya memelihara syahadat. Caranya, tidak menganggap diri mulia atau istimewa karena keduanya adalah hak Allah.

Dengan demikian, dirinya mengerti mengapa Gus Dur rela dan enak saja tidur di lantai rumahnya yang sederhana. Agaknya karena syahadat yang telah terhayati mencegah dirinya merasa istimewa atau merasa sebagai manusia mulia.

Sementara kebanyakan kita, karena tidak menghayati syahadat, sering merasa diri mulia atau terhormat, atau bahkan menuntut kehormatan. Padahal, sikap seperti itu jelas mengurangi mutu kesaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Allah.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini