Share

Kisah Jenderal Nasution, Sosok Penentang Sukarno yang Lolos dari Pembantaian PKI

Aulia Oktavia Rengganis, Okezone · Rabu 20 April 2022 16:08 WIB
https: img.okezone.com content 2022 04 20 337 2582291 kisah-jenderal-nasution-sosok-penentang-sukarno-yang-lolos-dari-pembantaian-pki-1H9lHCirja.jpg Jenderal Nasution/Tangkapan layar media sosial

MALAM tanggal 30 September 1965 hingga 1 Oktober 1965 merupakan peristiwa yang kelam bagi Bangsa Indonesia. Pada malam itu enam jenderal Angkatan Darat serta satu ajudan diculik dan dibunuh oleh kelompok Gerakan 30 September PKI.

(Baca juga: Kisah Jenderal Nasution Belanja Senjata Mematikan Milik Uni Soviet)

Para jenderal itu adalah Jenderal Ahmad Yani, Letjen Suprapto, Mayjen S Parman, Mayjen MT Haryono, Mayjen D I Pandjaitan, Mayjen Sutoyo Siswomiharjo, dan Pierre Tendean.

Hanya satu jenderal yang selamat dari peristiwa subuh berdarah itu. Dia adalah Abdul Haris Nasution atau dikenal dengan AH Nasution. AH Nasution selamat berkat peran dari sang istri Johanna Suniarti dan juga ajudannya, Pierre Tendean.

Dilansir beragam sumber, Rabu (20/4/2022) Jenderal Besar TNI Abdul Haris (AH) Nasution, lahir di Kotanopan, Sumatera Utara, 3 Desember 1918. Dia merupakan seorang pahlawan nasional Indonesia yang menjadi sasaran dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S/PKI).

Johanna Suniarti, Istri Jenderal AH Nasution merupakan salah satu yang berperan dalam menyelamatkan suaminya dari penculikan kelompok Gerakan 30 September. Eksekutor Gerakan 30 September dikenali Johanna sebagai pasukan Cakrabirawa berdasarkan seragam yang dipakai. Pasukan Cakrabirawa adalah pasukan khusus pengamanan presiden.

Ketika Cakrabirawa sampai di rumah Nasution di Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat, Johanna menahan pintu kamarnya yang saat itu didatangi oleh Cakrabirawa dan menyuruh Nasution untuk pergi menyelamatkan diri. Meski Cakrabirawa menyerang dengan tembakan, Johanna bertahan dengan menutup pintu dan menahannya, agar suaminya, AH Nasution punya waktu untuk menyelamatkan diri. Hingga akhirnya Nasution berhasil lolos dengan melompati tembok rumahnya.

Selain itu, sosok lain yang berperan dalam selamatnya Nasution dari penculikan adalah ajudannya yang bernama Pierre Tendean. Dalam peristiwa itu, Pierre Tendean menghadapi Cakrabirawa dan mengaku sebagai AH Nasution. Akibatnya, Pierre gugur dan di bawa ke Lubang Buaya bersama dengan jenderal lainnya.

Sementara itu, AH Nasution juga menceritakan bagaimana dia bisa lolos dari penculikan itu. Nasution menyelamatkan diri dengan memanjat tembok samping rumahnya. Namun, sebelumnya ia berusaha untuk kembali masuk ke rumah karena putrinya Ade Irma Nasution tertembak. Usaha itu dicegah oleh istrinya dan memohon agar Nasution menyelamatkan diri.

Baca Juga: Salurkan BLT BBM kepada 20,65 Juta KPM, Ini Strategi Pos Indonesia

Nasution berhasil lolos meski saat itu rumah telah dikepung oleh Cakrabirawa berkat tumbuhan yang lebat di dekat dinding rumahnya. Saat memanjat tembok samping rumahnya, Nasution berusaha ditembaki oleh Cakrabirawa, namun ia berhasil selamat.

Setelah itu, Nasution berpindah bersembunyi di belakang tong air yang berada di rumah duta besar Irak. Di persembunyiannya, ia tak habis pikir mengapa Cakrabirawa mencoba untuk membunuhnya. Kemudian Nasution mencoba untuk pergi ke rumah Wakil Menteri Leimena karena berdekatan dengannya.

Nasution percaya bahwa Wakil Menteri Leimena tidak akan mengkhianatinya jika ia meminta bantuan untuk menghubungi Presiden Soekarno dan menanyakan mengapa Cakrabirawa berusaha untuk menculiknya.

Ia berasumsi bahwa usaha penculikannya saat itu akibat dari fitnah yang didengar presiden sehingga ia didatangi oleh Cakrabirawa. Nasution memutuskan untuk tetap bersembunyi hingga menunggu pasukannya datang membantu.

Hingga pagi 1 Oktober 1965, Nasution berhasil selamat dan belum menerima laporan terkait peristiwa yang terjadi padanya. Nasution mengaku bersyukur kepada Tuhan dan kepada istrinya yang telah membantunya lolos dari penculikan.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini