Share

Sejarah Singkat Raden Ajeng Kartini, Pejuang Kesetaraan Hak Perempuan

Ajeng Wirachmi, Litbang Okezone · Rabu 20 April 2022 04:06 WIB
https: img.okezone.com content 2022 04 19 337 2581539 sejarah-singkat-raden-ajeng-kartini-pejuang-kesetaraan-hak-perempuan-7XV57fMtCt.jpg Ilustrasi Raden Ajeng Kartini (Foto: Okezone)

JAKARTA - Nama Raden Ajeng (RA) Kartini sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Perempuan kelahiran Mayong, Jepara, 21 April 1879 ini dikenal sebagai pahlawan nasional yang memperjuangkan kesetaraan hak bagi perempuan. Kartini adalah putri Bupati Jepara, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, dan Mas Ajeng Ngasirah. Ayahnya kemudian menikah lagi dengan Raden Ajeng Moeryam dan dikaruniai 3 orang anak.

Melansir buku Sisi Lain Kartini yang ditulis oleh Djoko Marhandono, dkk, keputusan sang ayah untuk melakukan poligami membuat Kartini mengalami pergolakan batin. Apalagi, saat ayahnya diangkat menjadi bupati Jepara yang membuat istri kedua ayahnya menjadi istri utama, sebab ia berasal dari keluarga bangsawan pula. Hal tersebut menjadikan Moeryam sebagai garwa padmi dan Ngasirah berkedudukan sebagai garwa ampil. Alhasil, Kartini dan saudara-saudara harus memanggil ibu kandung mereka dengan sebutan ‘Yu’. Sementara, ibu tirinya mereka panggil dengan ‘Ibu’. Yang lebih ironis, Ngasirah harus memanggil anak-anaknya dengan sebutan ‘Ndoro’.

Baca juga: RA Kartini, Pahlawan Kontroversial yang Meninggal di Usia 25 Tahun

Sejak kecil, Kartini memang terlihat lebih aktif dan lincah dibanding saudara-saudaranya. Ia juga berani dengan pemikirannya yang kritis. Hal itu ia utarakan kepada sahabat penanya di Belanda, Estelle Zeehandelaar pada 18 Agustus 1899. Kartini pun mengaku, sering tertawa terbahak-bahak dan menunjukkan banyak giginya. Tindakan itu sebenarnya dilarang dan mencerminkan ketidaksopanan. Karena tingkahnya yang aktif, ia dipanggil Trinil atau Nil oleh ayah dan saudaranya.

Baca juga: Putus Sekolah Umur 12 Tahun, RA Kartini Tidak Pernah Berhenti Belajar

Baca Juga: Dukung Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, Kabupaten Morowali Hibahkan Tanah ke KKP

Tak dapat dipungkiri, kecerdasan Kartini memang ia dapatkan secara turun-temurun. Dalam buku R.A. Kartini: Biografi Singkat 1879-1904 karya Imron Rosyadi, disebutkan bahwa kakek Kartini, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, sudah diangkat sebagai bupati di usianya yang baru menginjak 25 tahun. Dirinya juga mendidik semua anak-anaknya dengan ajaran Barat. Bahkan, mendatangkan guru khusus dari Belanda.

Kartini cukup beruntung karena mendapatkan pendidikan langsung di sekolah Belanda, yakni ELS (Europese Lagere School). Sekolah ini hanya diperuntukkan bagi masyarakat Belanda dan orang-orang penting dari masyarakat Jawa. Namun, ia mendapat tindakan kurang menyenangkan dari guru-gurunya di sekolah. Sebab, mereka yang rata-rata berasal dari Belanda memandang sebelah mata terhadap siswa-siswi pribumi. Oleh karena itu, Kartini berusaha sekuat tenaga untuk menonjol dan menjadi anak yang cerdas.

Kartini amat gemar membaca dan menulis. Ia rajin melakukan surat-menyurat dengan sahabat-sahabat penanya yang ada di negeri Belanda. Di tengah keasyikannya menjalankan pendidikan, ayahnya memaksa Kartini untuk berhenti. Menurut sang ayah, perempuan tidak perlu mengenyam pendidikan tinggi. Kartini dipingit dan akan dinikahkan oleh laki-laki pilihan ayahnya. Meskipun kecewa, Kartini tetap tidak patah arang. Ia terus belajar dan lebih rutin berkirim surat.

Bersamaan dengan itu, timbul keinginan dan gagasannya untuk menyuarakan kesetaraan hak terhadap kaum perempuan. Ia juga sangat ingin memajukan perempuan pribumi yang selama ini terkesan diremehkan. Sementara itu, pada 12 November 1903, Kartini resmi menjadi istri Bupati Rembang, K.R.M Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, yang sudah memiliki 3 istri.

Beruntung, sang suami tidak mengekang Kartini dan memberikan kebebasan baginya untuk bersuara. Ario Singgih juga mendukung Kartini untuk mendirikan sekolah khusus perempuan yang berada di samping timur pintu gerbang kompleks kantor Bupati Rembang. Kartini meninggal dunia empat hari usai melahirkan anak pertamanya, Soesalit Djojoadhiningrat, pada 17 September 1904.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini