Share

Deretan Pahlawan yang Dibuang dan Meninggal di Tempat Pembuangannya

Tim Litbang MPI, MNC Portal · Senin 18 April 2022 03:05 WIB
https: img.okezone.com content 2022 04 17 337 2580402 deretan-pahlawan-yang-dibuang-dan-meninggal-di-tempat-pembuangannya-TAKMsZUqxo.jpg Foto: MNC Portal

KEMERDEKAAN Indonesia tidak dicapai dengan mudah. Darah, keringat, dan air mata dari para pejuang dan rakyat dipertaruhkan. Bahkan beberapa dari pejuang kemerdekaan itu secara kejam dibuang ke suatu tempat hingga akhirnya mengembuskan napas di sana.

(Baca juga: Deretan Pahlawan dari Bogor, Dua Pejuang Diabadikan Jadi Nama Jalan)

Berikut ini adalah beberapa pahlawan yang dibuang dan meninggal di tempat pembuangannya dilansir beragam sumber, Minggu (17/4/2022).

1. Syekh Yusuf

Syekh Yusuf Tajul Khalwati adalah Pahlawan Nasional asal Makassar. Dikutip dari Kebudayaan Kemendikbud, Syekh Yusuf dibesarkan dalam keluarga bangsawan tinggi di kalangan suku bangsa Makkasar. Dia lahir pada 3 Juli 1626.

Sedari kecil, Syekh Yusuf tekun memperdalam agama Islam. Ia belajar bahasa Arab, ilmu fikih, dan berbagai ilmu syariat lainnya. Perjuangannya bermula ketika ia pulang dari Mekah dan mendarat di Banten. Kala itu Syekh Yusuf mendengar kabar bahwa Makassar sudah diduduki Belanda. Kedatangannya disambut oleh Sultan Ageng Tirtayasa dan dia tinggal di Banten selama 16 tahun hingga 1680.

Terjadi pecah perang antara Sultan Ageng dan anaknya, Sultan Haji yang membuat Syekh Yusuf berpihak pada Sultan Ageng dengan membawa pasukan Makassar. Namun, Sultan Ageng kalah dan melarikan diri bersama rombongannya, termasuk Syekh Yusuf.

Pada 1684, Syekh Yusuf berhasil ditangkap Belanda. Dia dipenjara di benteng Batavia. Tapi karena Belanda khawatir dia akan kembali melarikan diri, maka Syekh Yusuf bersama keluarganya diasingkan ke Srilanka pada 1684.

Rupanya, Belanda masih merasa terancam dengan kehadiran Yusuf yang memengaruhi pengikutnya untuk memberontak. Jadi, dia kembali dibuang ke Afrika Selatan bersama 49 pengikutnya pada 1693. Syekh Yusuf ditempatkan di pertanian Zandvliet, jauh dari Cape Town. Selama masa pembuangannya, Syekh Yusuf aktif menyebarkan agama Islam di Afrika Selatan, hingga akhirnya meninggal di sana pada 23 Mei 1699 di usia 73 tahun.

2. Sultan Mahmud Badaruddin II

Sultan Mahmud Badaruddin lahir di Palembang pada 23 November 1767 dengan nama asli Raden Hasan Pangeran Ratu. Dia adalah putra dari Raja Kesultanan Palembang Darussalam, Sultan Muhammad Bahauddin. Setelah ayahnya meninggal, Raden Hasan lalu diangkat menjadi sultan dengan gelar Sultan Mahmud Badaruddin II.

Di bawah kepemimpinannya, Kesultanan Palembang mencapai puncak kejayaan. Pada pertengahan abad ke-18, Palembang menjadi incaran Inggris dan Belanda sehingga kedua negara itu berniat melakukan kerja sama dengan Palembang. Sultan Mahmud Badaruddin menolak keduanya, tapi kemudian memutuskan untuk bekerja sama dengan Inggris.

Hal itu membuat Belanda murka. Terjadilah perang di loji Sungai Aur pada 14 September 1811. Konflik yang terjadi di antara Belanda-Inggris-Palembang ini kemudian berakhir dengan Inggris yang berhasil menguasai Palembang.

Kemudian, terjadi perang kedua bernama Perang Menteng pada 12 Juni 1819 antara Belanda dan Palembang. Setelah beberapa kali mengalami kekalahan (mulai dari Oktober 1819 – Juni 1821), Belanda berhasil menang atas Palembang pada 14 Juli 1821. Belanda menangkap dan membuang Sultan Mahmud Badaruddin beserta keluarganya ke Ternate. Beliau menghabiskan sisa hidupnya di sana hingga wafat pada 26 September 1852. Saat ini, wajah Sultan Mahmud Badaruddin II diabadikan dalam pecahan uang 10.000.

3. Cut Nyak Dien

Cut Nyak Dien adalah satu dari sekian pahlawan nasional Indonesia mewakili Aceh. Dia terlibat dalam perperangan melawan Belanda pada masa Perang Aceh. Cut Nyak lahir pada tahun 1848 dan berasal dari keluarga bangsawan yang taat beragama. Ketika menginjak usia 12 tahun, dia menikah dengan Teuku Cek Ibrahim Lamnga yang juga merupakan keturunan bangsawan. Mereka dikaruniai satu anak laki-laki.

Ketika Perang Aceh meletus pada 26 Maret 1873, Teuku Ibrahim ikut dalam perperangan tersebut. Dia berusaha memperjuangkan daerah IV Mukim yang berhasil diduduki Belanda. Sayangnya, Ibrahim meninggal dalam pertempuran tersebut. Kematian suaminya itu menyulut kemarahan Cut Nyak Dien untuk benar-benar menyingkirkan Belanda dari tanah Aceh.

Cut Nyak Dien kemudian menikah dengan Teuku Umar pada 1880. Dia dan suaminya bersama pejuang Aceh lainnya semakin bersemangat melawan serangan Belanda. Namun, Teuku Umar meninggal dalam pertempuran Meulaboh di tahun 1899. Cut Nyak Dien kemudian ditangkap pada 1905 oleh kolonial Belanda. Dia diasingkan ke Sumedang dan tinggal di tempat pengasingannya itu hingga mengembuskan napas pada 6 November 1908.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini