Share

3 Fokus Raja Singasari Prabu Kertanegara, Salah Satunya Serbuan Mongol

Alyssa Nazira, Okezone · Jum'at 15 April 2022 07:03 WIB
https: img.okezone.com content 2022 04 14 337 2579171 3-fokus-raja-singasari-prabu-kertanegara-salah-satunya-serbuan-mongol-VHdZJsgxMh.jpg Ilustrasi (Foto Istimewa)

RAJA Singasari Prabu Kertanegara pernah memberitahu sebuah berita mengejutkan kepada putri bungsunya, Gayatri. Saat itu dalam pertemuan rutin mereka, Kertanegara sedang mengajari Gayatri soal-soal kenegaraan. Kertanegara menuliskan tiga hal utama yang menjadi perhatiannya selama ini. Gayatri yang mendengarnya tentunya hafal ketiga hal tersebut.

Pertama, bagaimana Kertanegara dapat menjembatani perbedaan antara dua agama negara Jawa, yakni Buddhisme dan Hindu Syiwa? Dalam hal ini, ia telah mengambil sejumlah langkah yang kreatif.

Kedua, bagaimana Kertanegara dapat mengobati persengketaan tajam antara kerajaannya Singasari dan negeri jirannya Kediri? Kedua wilayah sempat bersatu, tetapi sudah sejak lama Singasari dan Kediri terlibat dalam sengketa berdarah terkait garis keluarga mana yang berhak naik takhta.

Ketiga dan yang paling mengkhawatirkan, bagaimana Kertanegara dapat menangkal serbuan Mongol yang telah menaklukkan dataran Rusia dan Cina, dan kini tengah mengganggu negeri-negeri tetangga Cina?

Walaupun Jawa dan Cina dipisahkan oleh luasnya samudera, Raja Kertanegara sudah mengantisipasinya dengan berupaya membentuk sebuah konfederasi negeri-negeri Hindu-Buddhis terdekat untuk bersatu melawan musuh bersama ini. Tergerak oleh kegelisahan dan pikirannya yang tak pernah diam demi menjaga kesejahteraan rakyat, Kertanegara tak henti hentinya menyusun dan memperbaiki rencana-rencana kreatifnya untuk memecahkan tiga persoalan tersebut.

Rencana yang paling mendesak dan menyesaki pikirannya saat itu ialah menggabungkan Hindu dan Buddhisme sebagai dua agama berbeda tapi yang sama sama berupaya mencapai realitas tertinggi dalam keseluruhan bangun sistem kepercayaan masing-masing. Menurutnya, manifestasi Buddha yang berbeda-beda dapat disejajarkan dengan perwujudan Syiwa, Brahma, Wisnu dalam keyakinan Hindu.

la menggagas pendirian sebuah komplek kuil yang berisi kuil-kuil kecil untuk pemujaan Syiwa dan Buddha, atau bahkan mungkin, satu kuil untuk kedua penyembahan. Sang raja berharap agar kata kata kesukaannya, "Bersatu dalam perbedaan" dapat diterapkan pada Syiwa maupun Buddha, serta pada Singasari dan Kediri, dan akhirnya pada seluruh kepulauan di Nusantara.

(aky)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini