Share

Hari Kartini 21 April, Begini Kisah Gadis Asal Jepara yang Dibatasi Adat Istiadat

Tim Okezone, Okezone · Jum'at 15 April 2022 03:43 WIB
https: img.okezone.com content 2022 04 13 337 2578549 hari-kartini-21-april-begini-kisah-gadis-asal-jepara-yang-dibatasi-adat-istiadat-6H0K1uYbYF.jpg RA Kartini. (Foto: Perpusnas)

JAKARTA - Hari Kartini diperingati setiap 21 April. Hari ini mengenang RA Kartini, pahlawan nasional yang lahir di Mayong pada hari Senin Pahing, tanggal 21 April 1879 sebagai anak ke-4 dari 8 bersaudara.

Sang ayah merupakan Wedono Mayong bernama RMAA Sosroningrat dan Ibunya bernama MA Ngasirah (Garwo Ampil). Nama RA Kartini baru diberikan bertepatan dengan upacara pupak pusar (saat tali pusar putus).

Awal Tahun 1881,  Sosroningrat diangkat menjadi Bupati Jepara. Saat RA Kartini berumur 2 tahun,  kemudian pindah dari Mayong ke Rumah Dinas Bupati Jepara. Demikian dilansir dari laman resmi Jepara.

Sifat serba ingin tahu dari Kartini menjadikan orang tuanya semakin memperhatikan perkembangan jiwanya, kemudian Kartini dimasukkan ke Sekolah Europenes Lagare School atas asuhan Guru Ny.Ovink Soer dengan sesekali bermain ke Pantai Bandengan 7 Km ke arah utara kota Jepara.

Setelah lulus dari Europenes Lagare School, Kartini ingin ke sekolah yang lebih tinggi, namun timbul keraguan karena terbentur aturan adat, apalagi bagi kaum ningrat bahwa wanita seperti dia harus menjalani pingitan

Usia 12 tahun, Kartini memasuki masa pingitan. Ini semua demi keprihatinan dan kepatuhan pada tradisi, ia harus berpisah pada dunia luar dan terkurung oleh tembok kabupaten.

Dengan semangat dan keinginannya yang tak kenal putus asa, Kartini berupaya menambah pengetahuan tanpa sekolah dengan tekun membaca apa saja yang di dapat dari kakak maupun ayahnya.

Kartini pernah mengajukan beasiswa melanjutkan sekolah ke negeri Belanda dan dikabulkan permohonan itu. Namun dengan berbagai pertimbangan maka beasiswa tersebut ia batalkan dan diserahkan kepada putra Indonesia lainnya yang namanya kemudian sangat dikenal yaitu H Agus Salim.

Walaupun RA Kartini tidak berkesempatan melanjutkan Sekolahnya, namun himpunan murid-murid pertama Kartini yaitu Sekolah Pertama Gadis-gadis Priyayi Bumi Putera telah dibina di Serambi belakang Pendopo Kabupaten Jepara, Ketika itu Sekolah Kartini memasuki pelajaran apa yang kini dikenal dengan istilah Krida.

Pada saat Kartini sedang mengajar murid-muridnya, datanglah tamu utusan yang membawa Surat Lamaran dari Bupati Rembang Adipati Djoyohadiningrat yang sudah dikenal sebagai Bupati yang berpandangan maju. Kemudian tepat tanggal 12 November 1903 Kartini melangsungkan pernikahannya pada usia 24 tahun dengan Bupati Rembang Adipati Djoyohadingrat dengan cara sederhana dan kemudian diboyong ke Rembang.

Pada saat kehamilan Kartini berusia 7 bulan, dirinya merasa kerinduan yang amat sangat pada Ibunya di Jepara. Suaminya telah berusaha menghibur dengan musik gamelan dan tembang-tembang yang menjadi kesayangannya, tapi ia tetap lesu.

Pada 13 September 1904, Kartini melahirkan seorang bayi laki-laki yg diberi nama Singgih atau RM Soesalit. Tetapi keadaan Kartini setelah melahirkan putera pertamanya itu semakin memburuk, meskipun sudah dilakukan perawatan khusus.

Dan akhirnya pada 17 September 1904, Kartini menghembuskan nafasnya yang terakhir pada usia 25 tahun.

Meskipun kini Kartini telah tiada, namun cita-cita dan perjuangannya telah dapat kita nikmati, kemajuan yang telah dicapai kaum wanita Indonesia sekarang ini adalah berkat goresan penanya semasa hidup yang kita kenal dengan buku “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini