Share

Pengeroyokan Ade Armando, Pakar Komunikasi UB: Dilandasi Politik Kebencian

Avirista Midaada, Okezone · Selasa 12 April 2022 16:18 WIB
https: img.okezone.com content 2022 04 12 337 2577799 pengeroyokan-ade-armando-pakar-komunikasi-ub-dilandasi-politik-kebencian-8CdVojxn9w.jpg Ade Armando di depan Gedung DPR RI saat Aksi 11 April (Foto : MPI)

MALANG - Pengeroyokan terhadap Dosen Universitas Indonesia (UI) Ade Armando saat aksi demonstrasi di Jakarta disebut sebagai cermin komunikasi politik kebencian.

Pakar Komunikasi Universitas Brawijaya (UB) Rachmat Krisyantono mengungkapkan, politik kebencian itu muncul sejak kontestasi Pilihan Presiden (Pilpres) 2014 dan terus memuncak pada Pilkada DKI Jakarta 2017 dan Pilpres 2019.

"Anak bangsa saling serang bukan pada gagasan, tetapi pada aspek SARA yang cenderung negatif dalam suatu kampanye politik identitas yang negatif,” ucap Rachmat melalui keterangan tertulisnya, pada Selasa siang (12/4/2022).

Pria yang juga Ketua Departemen Ilmu Komunikasi UB mengungkapkan, apa yang dialami Ade Armando sebagai tindakan yang tidak manusiawi, terlebih tidak hanya dipukuli saja bahkan sampai ditelanjangi di depan umum.

“Apapun alasannya, tindakan pemukulan, pengeroyokan hingga melakukan tindakan menelanjangi Ade Armando adalah perilaku di luar batas manusiawi. Tidak pantas dilakukan siapa pun. Apalagi kejadian dilakukan di bulan suci Ramadan ini,” ucap dia.

Pria yang akrab disapa cak RK ini menyatakan demonstrasi telah dilindungi sebagai hak kebebasan berpendapat sebagai ruh demokrasi. Tetapi, cara menyampaikan pendapat dan apa saja isu yang bisa disampaikan juga ada koridor aturannya.

“Demokrasi itu bukan hanya kebebasan individu tetapi juga tentang menghormati hak orang lain,” tegasnya.

Infografis pengeroyokan Ade Armando (Foto : Okezone.com)

Ade Armando kata Rachmat, sebenarnya konsisten menentang wacana tiga periode presiden dan pemilu ditunda. Artinya, dia satu pihak dengan demonstran. “Berarti, ini merupakan cermin komunikasi politik kebencian,” sesalnya.

Alumni S3 University of Western Australia ini menilai jika motif pengeroyokan itu karena pemikiran Ade di channel youtubenya yang cenderung berbeda pendapat dengan oposisi, mestinya perbedaan itu esensi demokrasi yang harus saling dihormati.

“Perbedaan itu mestinya dilawan dengan menyampaikan konter informasi. Ada prinsip demokrasi yang penting, yakni lawanlah informasi dengan informasi, tentu Data based information bukan hoaks,” tegas Cak RK.

Setelah kejadian pengeroyokan tersebut, Rachmat berharap mahasiswa menyampaikan aspirasi dengan ilmu. Demonstrasi merupakan hak, tetapi, dalam era demokrasi modern ini, akan lebih baik jika menjadikan demonstrasi sebagai alternatif terakhir.

“Menurut saya mahasiswa lebih baik menggelar semacam simposium antar mahasiswa. Para pimpinan BEM bisa berkumpul untuk mengevaluasi situasi bangsa. Outputnya bisa berupa pernyataan sikap yang bisa disebarkan ke media massa, DPR maupun pemerintah,” usulnya.

“Apakah ini sudah dilakukan, jika sudah dilakukan, apakah tidak ada respon dari pemerintah atau DPR. Jika tidak ada maka bisa disebut muncul ketersumbatan channel komunikasi politik. Jika tersumbat maka demonstrasi menjadi pilihan akhir,” sambungnya.

Pria yang juga dosen di Ilmu Komunikasi UB ini mengingatkan, dalam perspektif komunikasi massa bahwa kerumunan atau crow dikenal konsep Contagion Mentale.

“Dalam kerumunan, individu mudah kehilangan kesadaran personalnya dan mudah mengikuti perilaku massa. Di sinilah peran seorang provokator. Jadi mahasiswa saat melakukan demonstrasi harus waspada terhadap provokator karena sangat rentan disusupi,” pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini