Share

2 Demonstrasi Ricuh yang Banyak Memakan Korban Jiwa pada 1998

Tim Litbang MPI, MNC Portal · Rabu 13 April 2022 06:08 WIB
https: img.okezone.com content 2022 04 12 337 2577782 2-demonstrasi-ricuh-yang-banyak-memakan-korban-jiwa-pada-1998-kWZRYaTpCq.jpg Demo mahasiswa 1998 (Foto : Istimewa)

DALAM menyuarakan aspirasi yang mewakili rakyat Indonesia, mahasiswa menjadi garda terdepan. Aksi ini biasanya dilakukan dengan cara unjuk rasa atau demonstrasi. Umumnya, mahasiswa melakukan aksi demonstrasi dilatari kebijakan pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada rakyat. Berikut aksi demonstrasi yang ricuh serta memakan banyak korban jiwa.

1. Tragedi Trisakti

Tragedi Trisakti merupakan peristiwa penembakan yang terjadi pada 12 Mei 1998. Sejumlah mahasiswa melakukan demonstrasi menuntut Presiden Soeharto turun dari jabatannya. Akibat kejadian ini, empat mahasiswa Universitas Trisakti tewas. Tragedi ini pun berbuntut panjang serta menyulut emosi. Pada 13 Mei 1998, Jakarta menjadi lautan aksi massa yang terjadi di beberapa titik.

Selain itu, penjarahan serta pembakaran tidak bisa dihindarkan. Kerusuhan di Jakarta pun mencapai puncaknya pada 14 Mei 1998.

Berdasarkan data dari Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Tragedi Mei 1998, para pelaku kerusuhan ketika itu terdiri dari dua golongan, yaitu massa pasif yang karena diprovokasi berubah menjadi massa aktif dan provakator yang bukan dari wilayah setempat. Akibat kerusuhan ini, sejumlah toko hingga rumah rusak serta terbakar. Selain itu, harta benda juga dijarah.

Sulit untuk mengetahui jumlah pasti korban jiwa hingga kerugian yang dialami. Polda Metro Jaya mencatat 451 orang tewas akibat kerusuhan ini. Namun data yang berbeda didapat dari Kodam Jaya yang mencatat 463 orang tewas.

Sementara itu Pemprov DKI Jakarta merilis 288 orang tewas. Kondisi yang semakin tidak terkendali akhirnya membuat Presiden Soeharto untuk meletakkan jabatannya pada 21 Mei 1998.

2. Tragedi Semanggi I

Tragedi Semanggi I terjadi pada 11-13 November 1998. Pada tanggal tersebut, terjadi unjuk rasa besar-besaran yang menentang pemerintah serta anggota DPR/MPR Orde Baru. Ketika itu, pemerintahan transisi Indonesia mengadakan Sidang Istimewa. Sidang tersebut untuk menentukan pemilu berikutnya serta membahas agenda pemerintahan.

Selama diadakan Sidang Istimewa tersebut, masyarakat bergabung dengan mahasiswa melakukan demo ke jalan-jalan di Jakarta serta kota-kota besar di Indonesia. Mereka melakukan aksi demo lantaran tidak percaya dengan anggota DPR/MPR Orde Baru. Selain itu, mereka juga mendesak untuk menyingkirkan militer dari politik dan pembersihan pemerintahan dari orang Orde Baru.

Puncak demonstrasi terjadi pada 13 November 1998, ratusan ribu mahasiswa dan masyarakat berkumpul di kawasan Semanggi dan sekitarnya bergabung di Universitas Atma Jaya Jakarta. Aksi massa diadang dari dua arah kendaraan lapis baja di sepanjang Jalan Sudirman. Kendaraan taktis digunakan untuk membubarkan masa, tetapi mahasiswa mencoba bertahan hingga terjadi penembakan secara membabi buta. Akibat demonstrasi ini, 17 orang meninggal dunia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini