Share

Diundang Megawati Ceramah di Markas Banteng, Cak Nun: Tak Ada Urusan Jilat Menjilat!

Arie Dwi Satrio, Okezone · Senin 11 April 2022 05:48 WIB
https: img.okezone.com content 2022 04 11 337 2576645 diundang-megawati-ceramah-di-markas-banteng-cak-nun-tak-ada-urusan-jilat-menjilat-RzxBBsm52X.jpg Megawati/ Foto: Okezone

JAKARTA - Tokoh Intelektual Muslim Indonesia, Emha Ainun Nadjib diminta Megawati untuk memberi ceramah di Sekolah Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) daerah Lenteng Agung, Jakarta Selatan.

 (Baca juga: Dituding Tak Bisa Masak, Megawati: Saya Buktikan Biar Kalian Sendiri yang Nilai!)

Pria yang akrab disapa Cak Nun ini sempat merasa bingung ketika hendak mengisi ceramah di markas PDI Perjuangan. Sebab, banyak orang yang tak suka Cak Nun mengisi ceramah di markas PDI Perjuangan. Cak Nun mendapat kritik keras di media sosial ketika hendak mengisi ceramah di markas PDI-Perjuangan.

"Teman-teman sekalian saya tuh kan bingung, diminta kesini sama Kiai Kanjeng kan bingung, kan dimarahi banyak orang, tadi aja di medsos saya dimarahi, 'Oh Cak Nun menjilat Mbak Mega', gitu kan. Loh yang ngundang Mbak Mega kan. Berarti Mbak Mega yang jilat saya," kata Cak Nun dilansir dari akun YouTube BKN PDI Perjuangan, Senin (11/4/2022).

"Ini ndak ada urusan jilat menjilat, ini urusan cinta Tanah Air, cinta bangsa, cinta rakyat," imbuhnya.

Cak Nun menjelaskan, sebenarnya ia diundang langsung oleh Ketua Umum (Ketum) PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri untuk memberikan ceramah di markas partai berlambang banteng tersebut. Megawati, kata Cak Nun, memintanya untuk mengisi ceramah sudah sejak tiga tahun lalu.

"Saya sampai kebingungan, karena Bu Mega tuh sekitar tiga tahun yang lalu, apa namanya, dawui saya untuk datang kesini, baru tercapai malam ini," ungkap Cak Nun.

Cak Nun mengaku baru bisa mendatangi markas PDI-Perjuangan pada momen bulan Ramadan tahun ini. Diungkapkan dia, ada proses yang panjang untuk memutuskan mengisi ceramah di markas PDI-Perjuangan.

"Kan saya itu melewati perjuangan batin yang luar biasa dan akhirnya saya istikharah, saya wiridan serius, dan saya kemudian, bermimpi, kira-kira seminggu yang lalu, bahwa saya pergi keliling dunia, kemudian pulang ke Indonesia, saya ketemu dengan cakrawala di senja hari," papar Cak Nun.

"Di cakrawala itu, terhampar kain yang sangat panjang tulisannya PDI pengayoman, bukan perjuangan. Karena PDI-Perjuangan sudah dulu, sekarang sudah jaya, sudah lega hatinya, sudah menang berkali-kali. Sekarang, saatnya adalah PDI pengayoman. Semua rakyat Indonesia diayomi oleh PDIP. Level-level masyarakat, orang wong cilik, semua diayomi oleh PDIP," sambungnya.

Dalam kesempatan itu, Cak Nun juga sempat mengajak masyarakat untuk sama-sama punya rasa pengayoman dan toleransi satu sama lain. Ia pun menegaskan bahwa kedatangannya di markas PDI-Perjuangan, bukan berarti dalam rangka mendukung partai besutan Megawati Soekarnoputri.

"Nah tadi kan saya sudah bilang, kalau saya masuk kandang banteng, apakah saya menjadi banteng? Apakah bantengnya menjadi saya? Tidak juga kan ya? Gitu ya Bu ya? Masa mbak Puan jadi banteng, ngawur ae," kelakar Cak Nun ke Puan Maharani yang duduk disampingnya.

"Jadi kalau saya masuk PDIP, meskipun yang mengundang itu Bu Megawati pribadi dan juga sebagai tokoh nasional, apakah saya pro PDI? Pro saya itu adalah pro kesejahteraan rakyat Indonesia. Saya mau menemani PDIP atau siapapun kelompok lain sepanjang mereka berjuang untuk seluruh rakyat Indonesia. Jelas ya," tekannya.

Follow Berita Okezone di Google News

Cak Nun meminta agar jangan sampai ada kesalahan berpikir ketika ia mengisi ceramah di markas PDI Perjuangan. Dia berharap agar ceramahnya tersebut bukan untuk dengki atau saingan dengan siapapun.

"Saya tidak bersaing dengan siapapun, bahkan saya bersedia kalah oleh siapapun. Ndak apa. Saya juga tidak tega untuk menang melawan siapapun karena Ndak tega daripada menang. Tapi ya aku gamau kalah dan saya juga gamau menang,"pungkasnya.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini