Share

Kisah Laksamada Maeda, Perwira Angkatan Laut Jepang yang Bela Indonesia!

Tim Okezone, Okezone · Jum'at 15 April 2022 09:38 WIB
https: img.okezone.com content 2022 04 05 337 2573345 kisah-laksamada-maeda-perwira-angkatan-laut-jepang-yang-bela-indonesia-hkwVoRziBj.jpg Laksamana Maeda. (Foto: Museum Perumusan Naskah Proklamasi/BBC)

JAKARTA - Kisah tentang proklamasi kemerdekaan Indonesia tidak lepas dari peran Laksamada Maeda. Perwira tinggi Angkatan Laut Jepang itu menyediakan rumah dinasnya sebagai lokasi perumusan naskah proklamasi kemerdekaan.

Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945 tidak lepas dari sepenggal kisah bersejarah di sebuah rumah bercat putih bergaya art deco. Berdiri di atas lahan seluas 3.914 meter persegi (m2) dan luas bangunan 1.138 m2, bangunan dua lantai buatan tahun 1920 itu terletak di jantung Menteng, kawasan elite di Jakarta.

Dulu, alamat bangunan ini adalah Jl Miyako-Doori nomor 1 atau saat ini lebih dikenal sebagai Jl Imam Bonjol nomor 1.

Pemiliknya bernama Laksamana Muda Tadashi Maeda, seorang perwira tinggi Angkatan Laut (Kaigun) Kekaisaran Jepang yang ditugaskan di Indonesia. Jabatannya adalah kepala Kantor Penghubung (Kaigun Bukanfu) antara Kaigun dan Angkatan Darat (Rikugun) Kerajaan Jepang di Indonesia. Ia diangkat pada 15 Agustus 1942 ketika Jepang menaklukkan Asia Tenggara, salah satunya Indonesia.

Saat itu Rikugun berkuasa atas Pulau Jawa dan Sumatra, sementara Kaigun memerintah Indonesia timur. Maeda khawatir akan terjadi gesekan jika tidak ada yang mengawasi. Karena itu ia mengusulkan kepada Pemerintah Jepang dibentuknya sebuah badan koordinasi sebagai penghubung Rikugun dan Kaigun.

Ketika lampu hijau diberikan, ia bergegas ke Jakarta dan meminta Aratame Naohisa, mantan Konsul Jenderal Jepang di Batavia untuk mencari lokasi kantor.

Akhirnya Naohisa berhasil menguasai sebuah bangunan dengan pekarangan sangat luas untuk dijadikan kantor sekaligus kediaman Maeda. Kantor Penghubung itu resmi beroperasi pada Oktober 1942. Ada empat departemen yang dibentuk Maeda di Kantor Penghubung dengan mayoritas staf adalah warga sipil. Salah satunya adalah Ahmad Soebardjo, kepala kantor cabang departemen penelitian.

Soebardjo bukan orang baru bagi Maeda. Mereka sudah saling kenal sejak di Den Haag, Belanda dan Berlin, Jerman pada 1930. Saat itu Soebardjo diketahui aktif di organisasi Jong Java dan Persatuan Mahasiswa Indonesia saat di Belanda. Demikian dilansir dari Indonesia.go.id.

Ia menjadi wakil Indonesia bersama Mohammad Hatta dalam Liga Menentang Imperialisme dan Penindasan Penjajah di Brussels, Belgia dan Jerman. Saat itu Maeda sempat menjadi atase pertahanan Kedutaan Besar Kekaisaran Jepang di Belanda dan Jerman.

Maeda adalah salah satu dari sedikit perwira militer Jepang yang bersimpati dengan perjuangan pemuda-pemuda Indonesia untuk mewujudkan kemerdekaan.

Sejarawan Mestika Zed dalam Giyugun: Cikal-Bakal Tentara Nasional di Sumatra mengungkapkan bahwa kebijakan Maeda yang moderat itu bertolak belakang dengan sikap sinis militer Jepang, terutama Rikugun.

Laksamana Muda Maeda yang kelahiran 3 Maret 1898 di Kajiki, sebuah kota kecil di Perfektur Kagoshima itu, bahkan meminta Soebardjo agar lebih intens berkomunikasi dan menggelar beragam pertemuan untuk mewujudkan kemerdekaan.

Ia tidak keberatan kantornya digunakan Soebardjo dan kawan-kawan untuk melakukan berbagai pertemuan kecil, termasuk saat malam proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Di mana rumahnya dijadikan lokasi rapat penyusunan teks proklamasi dan pembahasan lainnya terkait kemerdekaan Indonesia.

Sukarni, Sudiro, dan Burhanuddin Mohammad Diah adalah sejumlah nama mewakili golongan muda yang ikut menunggu di luar ruang makan. Lalu ke mana Maeda? Rupanya ia mengaku tak kuasa menahan kantuk dan memilih pamit tidur ke lantai dua rumahnya. Apalagi saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 03.00 WIB. Ia meminta semua yang hadir untuk meneruskan rapat hingga selesai.

Tak lupa Maeda mengucapkan selamat kepada semua yang hadir. Mendiang wartawan senior Rosihan Anwar yang ikut menunggu hasil rapat menuturkan, ini sebetulnya cara Maeda agar ia tetap dinilai netral dan tidak dipenjara oleh negaranya karena ikut mendukung kemerdekaan Indonesia.

Maeda juga meminta penerjemah Sunkichiro Miyoshi, kemudian ajudannya, Shigetada Nishijima, dan Tomegoro Yoshizumi untuk menemani Soebardjo dan kawan-kawan rapat. Tak lupa Maeda berpesan kepada asisten rumah tangga dan satu-satunya perempuan malam itu, Satsuki Mishima, memasakkan santap sahur bagi peserta rapat. Saat itu seluruh umat Islam di Indonesia sedang menjalankan ibadah puasa hari ke-9 di Ramadan 1364 Hijriah.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini