Share

Cerita Pemakaman Gus Dur, Sang Putri Negoisasi dengan Panglima TNI Agar Kiai Dapat Sholat Jenazah

Tim Okezone, Okezone · Senin 04 April 2022 03:30 WIB
https: img.okezone.com content 2022 04 04 337 2573181 cerita-pemakaman-gus-dur-sang-putri-negoisasi-dengan-panglima-tni-agar-kiai-dapat-sholat-jenazah-emhPfccL1h.jpg Gus Dur (Foto: Ist)

GUS DUR wafat sejak 12 tahun lalu. Prosesi pemakaman Presiden ke-5 RI itu masih membekas di ingatan sang putri, Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahid. 

Alissa menceritakan, pemilik nama Abdurrahman Wahid itu dimakamkan sehari setelah wafat, atau pada 31 Desember 2009 silam. Tanggal tersebut menjadi hari yang paling berat dalam hidup Alissa.

“Sedikit pun tak menduga, justru bakti besar saya baru dimulai. Ibu dan adik-adik saya tergugu sejak malam sebelumnya. Jadi, saya ambil alih semua keputusan,” katanya dalam cuitan di akun @AlissaWahid, seperti dilansir dari NU Online.

Alissa ingin para kiai, nyai, dan jamaah masuk serta mengumandangkan tahlil Ciganjur, Jakarta Selatan, dan Tebuireng, Jombang. Dia pun sempat mengancam para pejabat negara untuk menolak upacara pemakaman kenegaraan bagi jenazah Gus Dur jika mereka dilarang mengumandangkan tahlil.

Baca Juga:  Gus Dur Mengaku Orang Muhammadiyah yang Ada di NU, Ini Latar Belakangnya!

Negosiasi dilakukan Alissa kepada Panglima TNI agar para kiai dapat sholat jenazah di Maqbarah Tebuireng, Jombang. Bahkan, dirinya melihat sangat banyak orang yang berada di atas atap dan pohon di sekitar makam. Terpancar kesedihan dari wajah mereka.

"Anak-anak saya masih balita. Mereka trauma berdesak-desakan hari itu. Tetapi kami ajarkan, ‘semuanya orang baik yang sayang Yangkung (kakek)’. Sekitar setahun kemudian, saat antri keluar pesawat, Ragil (anak bungsu) saya berujar ‘ini orang-orangnya sayang Yangkung ya bu?’” kata Alissa.

Hari itu membuat Alissa harus meninggalkan zona nyaman. Dia harus bisa berbakti sepenuhnya kepada sang ayah yang telah menjadi pilar kehidupan. Selain itu, untuk meneruskan laku perjuangan mewujudkan kemaslahatan, terutama bagi mereka yang lemah dan dilemahkan.

"Untuk Gus Dur yang hatinya penuh cinta dan keberanian, dan untuk semua yang mendoakannya, Al-Fatihah,” ujar Alissa.

Baca Juga: Humor Gus Dur: Mau Tahu Alasan Saya Sekolah di Yogya? Biasa, Karena Tidak Naik Kelas!

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut bersama Lifebuoy x MNC Peduli Tengah Berlangsung!

Kisah lainnya diceritakan KH Husein Muhammad atau Buya Husein. Sahabat Gus Dur itu menceritakan detik-detik Gus Dur dimakamkan. 

Catatan berjudul 'Langit Desember yang Murung' yang diunggah di akun Dacebook dan Instagram pribadinya. Kemudian, diunggah ulang akun Instagram resmi Jaringan Gusdurian mengisahkan prosesi pemakaman Gus Dur.

"Dini hari yang sejuk, jam 03.00, ketika saya tiba, di jalan Warung Sila sampai rumah duka, karangan bunga berwarna-warni, tanda duka cita, berjejer tak berjarak, berserak dan bertumpuk, bagi Presiden ke-4, bukan Mantan Presiden. Saya tak bisa menghitung jumlahnya," tulis Buya Husein.

Beberapa jam sebelumnya, lanjut Buya Husein, jalan menuju rumah duka di Ciganjur, macet total. Ratusan kendaraan dan pejalan kaki seakan tak bergerak, stagnan.

Mereka sengaja datang ke rumah Gus Dur untuk menyambut kedatangan sekaligus takziah ke keluarga Gus Dur. Ketika Buya Husein tiba di sana, ia menyaksikan ribuan orang masih berjaga di ruang-ruang di sekitar rumah duka.

Masjid Al-Munawwaroh, tempat Gus Dur mengaji kitab Al-Hikam karya Ibnu Athaillah seorang sufi besar, dan kitab-kitab lain, masih gemuruh dengan bacaan ayat-ayat suci Alquran.

"Saya segera masuk rumah. Jenazah sudah dibaringkan. Wajah Gus Dur yang tertutup kelambu putih yang tipis, terlihat jelas, seakan-akan sengaja dibiarkan agar para pelayat bisa melihatnya," ujarnya.

"Saya segera mendapat giliran entah untuk yang ke berapa puluh kali, memimpin shalat janazah, tahlil dan berdoa,” imbuh Pengasuh Pesantren Dar Al-Tauhid Arjawinangun, Cirebon, Jawa Barat itu.

Buya Husein di hadapan jenazah Gus Dur, teringat kata-kata dalam sebuah buku tasawuf. “Ketika jiwa pergi dalam keadaan bersih, tanpa membawa serta bersamanya hasrat-hasrat rendah duniawi yang menciptakan ketergantungan, yang selama hidupnya selalu dihindari dan tak pernah dibiarkan menguasai diri; menjadi diri sendiri dan menempatkan perpisahan jiwa dari badan sebagai tujuan dan bahan permenungan, maka jiwa itu telah siap untuk memasuki wilayah kasat mata (Alam Al-Musyahadah) di mana para bijak-bestari tinggal,” demikian kalimat tasawuf yang ditulis Buya Husein. 

Buya Husein memaknai jenazah yang ada di hadapannya itulah bersemayam jiwa yang telah matang. Hati Gus Dur telah menjadi hati orang-orang yang ditinggalkan dan dicintainya.

Gus Dur telah membagi cinta kepada mereka yang hatinya remuk-redam, tak berdaya dan tanpa gantungan. “Ia (Gus Dur) yang bicara begitu bebas, tanpa beban, polos, karena tak punya hasrat rendah apa pun dan tak tergantung pada siapa pun, kecuali kepada Tuhan. Ia yang tak pernah peduli dengan gelar-gelar kehormatan yang dianugerahkan dunia kepadanya,” kata Buya Husein.

Buya Husein juga memandang Gus Dur sebagai sosok yang pikirannya mampu menjangkau masa depan dan melampaui zaman. Namun, Gus Dur bisa tetap bertahan dengan kokoh menjalani tradisinya.

"Ia (Gus Dur) yang tak pernah gentar untuk melawan setiap tangan tirani dan korup. Ia yang tak mau kompromi terhadapnya dan tak peduli pada cibiran orang kepadanya,” kata Buya Husein.

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini