Share

Ustadz Yusuf Mansur: Berdasar Kitab Sulamun Nayyirain, 1 Ramadan pada 2 April 2022

Tim Okezone, Okezone · Jum'at 01 April 2022 19:34 WIB
https: img.okezone.com content 2022 04 01 337 2571835 ustadz-yusuf-mansur-berdasar-kitab-sulamun-nayyirain-1-ramadan-pada-2-april-2022-08z8wTyIT1.jpg Ustadz Yusuf Mansur. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Kemenag RI menyatakan bahwa 1 Ramadan 1443 Hijriah jatuh pada 3 April 2022. Dengan begitu, terdapat perbedaan awal Ramadan antara Muhammadiyah dan Pemerintah. Muhammadiyah akan mulai melaksanakan puasa pada Sabtu 2 April 2022.

Terkait penetapan awal Ramadan tahun ini, Ustadz Yusuf Mansur (UYM) punya pandagan mengacu pada perhitungan kalender yang dibuat oleh KH Muhammad Mansur Kampung Sawah, Jembatan Lima, Jakarta Barat. Cara menghitung kalender tersebut tertuang dalam Kitab Sulamun Nayyirain tentang ilmu falaq.

“Kitab itu dipakai di banyak pesantren di tanah air, terima kasih kepada pesantren yang masih mempelajarinya dan menjadikan rujukan dan ilmu yang dijaga sebagai warisan para ulama,” ucap Yusuf Mansur dalam rekaman suara yang diterima Okezone, Jumat.

Baca juga:  Ramadan Jatuh pada Minggu 3 April 2022, Ini Kata Menag

UYM menjelaskan, Kitab Sulamun Nayyirain menjelaskan rumus-rumus cara menghitung tentang waktu. “Waktu masih hidupnya beliau ngitung gerhana bulan dan gerhana matahari dan presisi. Mulai dari menit detiknya, pagi atau siangnya itu aseli sangat presisi, padahal tanpa teknologi,” ucapnya.

Berdasar kitab tersebut, lanjut UYM malam ini tanggal 1 April 2022 sudah mulai tarawih dan besoknya tanggal 2 April mulai puasa Ramadan.

Follow Berita Okezone di Google News

Namun, UYM mengingatkan jika ada perbedaan penetapan 1 Ramadan maka jangan dijadikan masalah. “Karena memang metodenya ada dan semua bisa dipertanggungjawabkan. Tidak sekadar tebak menebak. Insya Allah semuanya demi kebaikan umat,” ucapnya.

“Buat sekedar ilmu, metode hisab yang berkembang ada 3 tata titik kordinat. Ada yang ekliptika, equator dan horison. Al Mansuriah dalam menetapkan 1 hijriah itu berdasar tata titik kordinat ekliptika. Artinya tinggal mengikuti konjungsinya saja,” ucapnya.

“Ini ucapan yang jangan terlalu dijadikan legal standing, jangan dianggap serius dan juga jangan dijadikan nyinyiran. Begini dah di Betawi guru ama santrinya becanda,” tutupnya.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini