Share

5.402 Bencana Alam Berlangsung Sepanjang 2021, BNPB Minta 7 Provinsi Ini Waspada

Dimas Choirul, MNC Media · Jum'at 01 April 2022 16:06 WIB
https: img.okezone.com content 2022 04 01 337 2571688 5-402-bencana-alam-berlangsung-sepanjang-2021-bnpb-minta-7-provinsi-ini-waspada-kF7UGpQ3Ri.jpg Banjir bandang Flores Timur (Foto: BBC)

JAKARTA - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan sebanyak 5.402 kejadian bencana alam sepanjang tahun 2021. Dari ribuan kejadian bencana itu, 90 persen didominasi bencana hidrometeorologi.

"Hampir 90% itu didominasi oleh bencana hidrometeorologi. baik itu hidrometeorologi basah seperti banjir, tanah longsor dan cuaca ekstrem maupun kebakaran hutan," ujar Plt Kepala Pusat Data, Informasi, Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari dalam konferensi pers, Jumat (1/4/2022).

Aam, sapaan akrabnya mengatakan, hal tersebut tentunya menjadi perhatian semua pihak. Sebab, kata dia jenis bencana alam hidrometeorologi basah terjadi hampir di seluruh pulau yang ada Indonesia.

"Dominannya di 2021 kita hidrometeorologi basah sehingga ini menjadi perhatian kita karena tren ini juga kemudian terjadi di 2022," jelasnya.

Aam menjabarkan, pihaknya telah memetakan tujuh provinsi yang paling sering terjadi bencana alam hidrometeorologi basah. Ketujuh provinsi itu yakni, Aceh, Sumatera Barat, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Selatan

Baca juga: BNPB: Progres Hunian Tetap Korban Erupsi Semeru Sudah Capai 48%

"Nah dari tujuh provinsi ini dari data yang dimiliki oleh BNPB ini setiap tahun selalu menjadi Hotspot dalam artian provinsi-provinsi dengan tingkat kejadian bencana paling tinggi di Indonesia," ungkapnya.

Baca juga: BNPB: 163 Kejadian Banjir Terjadi di 27 Provinsi pada Maret 2022

Untuk itu, BNPB mengimbau bagi pemerintah daerah di tujuh provinsi tersebut agar benar-benar memerhatikan kondisi lingkungannya untuk dibenahi secara kolektif.

"Kami meminta untuk melihat kembali kondisi lingkungan, kondisi sungai, kondisi alam pegunungan yang selama ini menjadi daerah tangkapan air daerah resapan air, kondisi daerah sepanjang aliran sungai yang mungkin selama ini terjadi penyempitan terjadi pendangkalan itu harus benar-benar kita benahi bersama selanjutnya," pungkasnya.

Baca juga: Sebelum Lebaran, Penyintas Erupsi Semeru Bisa Tinggal di Huntap dan Huntara

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini