Share

5 Fakta Tentang PKI yang Jarang Diketahui, Nomor 4 Gerak Cepat Kopassus Tumpas Komunis

Tim Okezone, Okezone · Jum'at 01 April 2022 13:19 WIB
https: img.okezone.com content 2022 04 01 337 2571533 5-fakta-tentang-pki-yang-jarang-diketahui-nomor-4-gerak-cepat-kopassus-tumpas-komunis-LqLqWwBEC6.jpg Monumen Pahlawan Revolusi/ Foto: Okezone

JAKARTA - Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa mengubah aturan seleksi penerimaan calon prajurit TNI dan membolehkan keturunan anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) untuk mendaftar sebagai calon prajurit TNI. Hal ini membuat pro dan kontra di tengah masyarakat.

Pemberontakan PKI melakukan gerakan dengan tujuan merebut kekuasaan dari pemerintah yang sah pada tanggal 30 September 1965.

(Baca juga: Komando Operasi Merapi, Aksi Sarwo Edhie Tumpas Perwira Pro PKI)

Okezone pun merangkum 5 fakta tentang PKI yang jarang diketahui dari beragam sumber, Jumat (1/4/2022).


1. Latar Belakang Peristiwa G30 SPKI

Penyebab terjadinya G30S PKI dilatarbelakangi oleh beberapa peristiwa. PKI pernah melakukan pemberontakan di Madiun pada tahun 1948 tetapi gagal. Pada tahun 1950, PKI muncul kembali dan ikut terlibat dalam politik Indonesia .

 DN Aidit dengan cepat membangun kembali PKI hingga pada Pemilu 1955, PKI termasuk dalam lima partai besar di Indonesia .

Saat itu, kondisi sosial-politik di masa Demokrasi Terpimpin memberikan peluang kepada PKI untuk memperkuat pengaruhnya. Berlakunya doktrin Nasakom (Nasionalisme, Agama dan Komunisme) turut mengangkat kedudukan PKI dalam percaturan politik.

2. Titah Aidit Menculik Jenderal

Gerakan ini dilakukan dengan menculik dan membunuh para perwira tinggi dan perwira pertama angkatan darat. Dalang G30S PKI adalah kelompok PKI. Sebagai informasi, kelompok ini diketuai oleh DN Aidit dan pada pagi hari tanggal 1 Oktober 1965, G30S PKI berhasil menguasai studio RRI dan kantor PN Telekomunikasi.

Letkol Untung menyiarkan pengumuman melalui RRI bahwa Gerakan 30 September ditujukan kepada Dewan Jenderal yang berencana melakukan kudeta terhadap Presiden Soekarno.

Letkol Untung menyiarkan pengumuman melalui RRI bahwa Gerakan 30 September ditujukan kepada Dewan Jenderal yang berencana melakukan kudeta terhadap Presiden Soekarno. Sebanyak 6 jenderal dan seorang perwira TNI AD gugur dalam serangan PKI yang terjadi pada 1965. Mereka yang gugur lantas ditetapkan sebagai pahlawan revolusi oleh presiden Soekarno.

(Baca juga: Keturunan PKI Boleh Daftar TNI, DPR Singgung Tragedi Berdarah 30 September 1965)

3. Pengaruh Luas PKI

Pengaruh PKI berkembang luas di kalangan seniman, wartawan, guru, mahasiswa, dosen, kaum cendekiawan, bahkan militer, yakni perwira TNI. Akhir Pemberontakan G30S PKI Penumpasan G30S PKI dipimpin oleh Mayjen Soeharto. Langkah pertama yang dilakukan adalah menetralisir dan menyadarkan kesatuan-kesatuan TNI yang dipengaruhi oleh PKI.

4. Gerak Cepat TNI Berantas PKI

Komandan RPKAD (Kopassus) Kolonel Sarwo Edhie mendapat titah oleh Mayjen Soeharto untuk menumpas PKI setelah peristiwa 30 September 1965.

Operasi penumpasan G30SPKI dimulai sejak tanggal 1 Oktober 1965 sore hari. Gedung RRI pusat dan Kantor Pusat Telekomunikasi dapat direbut kembali tanpa pertumpahan darah oleh satuan RPKAD di bawah pimpinan Kolonel Sarwo Edhi Wibowo, pasukan Para Kujang/328 Siliwangi, dan dibantu sejumlah pasukan kavaleri.

Sarwo kemudian melakukan tugasnya dengan sangat baik, diketahui ia begitu banyak dipuji hingga memiliki kedekatan dengan para mahasiwa anti-komunis.

Orang-orang yang terlibat dalam G30S PKI tersebut ditangkap dan ditahan. Bahkan, beberapa dibuang ke pulau Nusakambangan atau pulau Buru.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut bersama Lifebuoy x MNC Peduli Tengah Berlangsung!

 

5. Pencarian Jasad Jenderal Korban PKI

Lokasi tempat para perwira yang diculik dan dibunuh tersebut berhasil ditemukan pada 3 Oktober 1965. Mayat para perwira itu dimasukkan ke dalam sebuah sumur yang berdiameter ¾ meter dengan kedalaman kira-kira 12 meter, yang kemudian dikenal dengan nama Sumur Lubang Buaya.

Pada 4 Oktober, penggalian Sumur Lubang Buaya dilanjutkan kembali (karena ditunda pada tanggal 3 Oktober pukul 17.00 WIB hingga keesokan hari) yang diteruskan oleh pasukan Para Amfibi KKO–AL dan disaksikan pimpinan sementara TNI AD Mayjen Soeharto.

Jenazah para perwira setelah dapat diangkat dari sumur tua tersebut terlihat mengalami kerusakan fisik sedemikian rupa. Ini menjadi saksi bisu bagi bangsa Indonesia betapa kejamnya siksaan yang mereka alami para pahlawan revolusi itu sebelum wafat.

Jenazah para perwira TNI AD tersebut dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata yang sebelumnya disemayamkan di Markas Besar Angkatan Darat pada 5 Oktober 1965.

Selang sehari kemudian, dengan surat keputusan pemerintah yang diambil dalam Sidang Kabinet Dwikora, para perwira TNI–AD tersebut ditetapakan sebagai Pahlawan Revolusi.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini