Share

Misteri Kutukan Pemberontakan di Mataram Kuno yang Berujung Terkena Letusan Gunung Merapi

Avirista Midaada, Okezone · Rabu 30 Maret 2022 06:17 WIB
https: img.okezone.com content 2022 03 30 337 2570046 misteri-kutukan-pemberontakan-di-mataram-kuno-yang-berujung-terkena-letusan-gunung-merapi-49zGi5f2G1.jpg Gunung Merapi erupsi (foto: dok PVMBG)

KERAJAAN Mataram Kuno konon hancur pasca bencana alam erupsi Gunung Merapi. Erupsi gunung pulalah yang menyebabkan ibu kota kerajaan terpaksa dipindahkan oleh Mpu Sindok pada 928 M. Saat letusan Gunung Merapi terjadi raja Dyah Wawa tengah memerintah.

Sayang kebesaran Kerajaan Mataram tak mampu melawan kehendak Tuhan melalui letusan maha dashyat Gunung Merapi. Bahkan karena dahsyatnya letusan membuat Candi Bhumisambhara atau Candi Borobudur yang dibangun Samaratungga terkubur lahar dingin.

BACA JUGA:Kiprah Sanjaya, Raja Sunda yang Dirikan Kerajaan Mataram Kuno hingga Digulingkan 

Dikutip dari buku "13 Raja Paling Berpengaruh Sepanjang Sejarah Kerajaan di Tanah Jawa" tulisan Sri Wintala Achmad. Van Bammelen sampai mencetuskan teori letusan Gunung Merapi membuat puncaknya hancur. Lapisan tanahnya konon bergeser ke barat daya hingga membentuk Gunung Gendol dan lempengan Pegunungan Menoreh.

Dari sanalah akhirnya Mpu Sindok melakukan langkah cepat dengan memindahkan pusat pemerintahan dari Mataram dari Jawa Tengah ke Tamwlang, Jawa Timur. Perpindahan ibu kota ini juga disebut Sejarawan Boechari sebagai, bagian dari hukuman akibat adanya perebutan tahta kekuasaan yang sering terjadi di antara keluarga istana semenjak pemerintahan Rakai Pikatan atau Mpu Manuku.

 BACA JUGA:Raja-Raja yang Memerintah Kerajaan Mataram, Ada yang Membangun Candi Borobudur

Fakta sejarah memang mencatat adanya perebutan kekuasaan dari kalangan Dinasti Sanjaya, yang diawali dari pemberontakan yang dilakukan Mpu Kumbhayoni yang ingin merebut tahta Medang dari Rakai Mamrati Mpu Manuku menjadi raja. Pemberontakan itu berhasil ditumpas oleh anak Rakai Pikatan bernama Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala.

Pemberontakan selanjutnya terjadi saat Dyah Lokapala naik menjadi raja. Kali ini aktornya adalah Rakai Gurungwangi Dyah Saladu dan Rakai Panumwangan Dyah Dewendra. Pemberontakan ini memang membawa hasil gemilang, namun sesudah menggulingkan Dyah Lokapala dari tahta kekuasaannya, Dyah Saladu dan Dyah Dewendra justru mendapat serangan dari Rakai Watukura Dyah Balitung yang merupakan menantu Rakai Watuhumalang Mpu Teguh. Alhasil Dyah Balitung lah yang akhirnya naik tahta menjadi raja.

Semasa Raja Dyah Balitung bertahta pun pemberontakan juga terjadi di internal Kerajaan Mataram, kali ini aktornya Rakai Hino Mpu Daksa yang mendapat dukungan dari Rakai Gurungwangi Dyah Saladu. Akibat pemberontakan ini Dyah Balitung pun berhasil digulingkan dan tak lama kemudian Mpu Daksa naik tahta menjadi raja Medang.

Pemberontakan juga mewarnai jalannya pemerintahan Rakai Layang Dyah Tulodong yang merupakan menantu Rakai Hino Mpu Daksa saat naik tahta menjadi raja. Rakai Sumba Dyah Wawa-lah yang menjadi pencetus pemberontakan ini.

Ia merupakan putra Rakai Landheyan saudara Rakai Kayuwangi Dyah Saladu. Dimana pemberontakan ini diakhiri dengan gemilang berkat dukungan dari Mpu Sindok, yang membuat Dyah Wawa naik tahta jadi Raja Medang.

Terlepas dari benar atau tidaknya teori yang dicetuskan Van Bammelen dan Boechari, sejarah telah menggoreskan adanya pemindahan pusat pemerintahan Kerajaan Mataram yang diduga kuat karena adanya letusan Gunung Merapi. Peristiwa ini sekaligus menandai munculnya dinasti baru yakni Wangsa Isana yang diciptakan oleh Mpu Sindok, menantu Dyah Wawa sendiri.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini