Share

BMKG Sebut Tidak Ada Fenomena Ekstrem saat Musim Kemarau di 2022

Binti Mufarida, Sindonews · Jum'at 25 Maret 2022 13:53 WIB
https: img.okezone.com content 2022 03 25 337 2567733 bmkg-sebut-tidak-ada-fenomena-ekstrem-saat-musim-kemarau-di-2022-Sz37BvDj9V.jpg Illustrasi (foto: dok Okezone)

JAKARTA - Kepala Pusat Informasi Perubahan Iklim Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dodo Gunawan mengungkapkan, musim kemarau pada tahun 2022 mendatang tidak ada fenomena ekstrem baik La Nina ataupun El Nino. Sebelumnya, BMKG memprakirakan puncak musim kemarau akan terjadi pada bulan Agustus 2022 mendatang.

“Secara umum kabar baiknya, memang musim kemarau di tahun 2022 ini secara umum ini bagus ya. Artinya, dalam rentang musim kemarau nanti 2022 ini tidak ada fenomena yang ekstrem baik itu La Nina ataupun El Nino,” kata Dodo saat Konferensi Pers secara virtual terkait Prakiraan Musim Kemarau Provinsi Banten dan DKI Jakarta 2022, Jumat (25/3/2022).

 BACA JUGA:Efek La Nina, BMKG: Awal Kemarau di 163 Wilayah Akan Mundur

Dodo pun mengungkapkan, dibandingkan dengan tahun 2021 lalu, pada tahun ini fenomena La Nina dalam kondisi melemah.

“Memang tahun kemarin tahun 2021, di saat musim hujan kita disertai dengan fenomena La Nina dan saat ini pun fenomena saat ini ada dalam level lemah. Dan perkiraannya sepanjang nanti kemarau 2022 ini akan berada pada kondisi netral atau normal sehingga itu artinya kondusif bagi aktivitas kita, tidak akan terjadi kondisi kemarau yang ekstrem,” katanya.

BACA JUGA:BMKG: 85,1% Wilayah Indonesia Masih Musim Kemarau 

“Namun ini tentu kita terus pantau. Sepanjang 2022 sampai dengan Oktober prakiraan terkait fenomena tersebut. Insya Allah aman, dalam artian itu akan menuju kondisi netral normal,” tegas Dodo.

Baca Juga: Dukung Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, Kabupaten Morowali Hibahkan Tanah ke KKP

Oleh karena itu, Dodo meminta semua pihak untuk memanfaatkan kondisi kemarau yang kondusif ini untuk mengantisipasi dampak bencana hidrometeorologi kering seperti kebakaran hutan dan lahan hingga kekeringan ekstrem.

“Sehingga barangkali dari kondisi tersebut kita manfaatkan kondisi kemarau yang kondusif ini misalnya untuk yang lebih lambat musim kemarau bisa diatur strategi memanfaatkan, artinya kalau kemarau lambat masih ada hujan di wilayah tersebut yang musimnya terlambat,” bebernya.

“Begitu juga yang misalnya sifat hujannya atas normal tentu dapat dimanfaatkan. Tapi tentu sebaliknya antisipasi dampak musim kemarau yang diprakirakan dibawah normal atau tibanya lebih awal itu strateginya untuk mengantisipasi dampak yang akan terjadi,” pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini