Share

Densus 88: Pelaku Terorisme Tak Terkait dengan Agama

Kiswondari, Sindonews · Senin 21 Maret 2022 17:32 WIB
https: img.okezone.com content 2022 03 21 337 2565355 densus-88-pelaku-terorisme-tak-terkait-dengan-agama-FaeKC55pMk.jpg Ilustrasi (Foto: istimewa)

JAKARTA - Aksi terorisme selama ini selalu dikaitkan oleh satu agama yakni Islam, Kepala Dentasemen Khusus 88 Antiteror Polri (Ka Densus 88 AT) Irjen Pol Marthinus Hukom membantah anggatan tersebut.

Dia menyatakan bahwa aksi terorisme tidak terikat dengan ajaran agama apapun.

"Terorisme itu tidak terikat dengan atau terhubung dengan agama apa, itu prinsip buat kami, sehingga siapapun yang melakukan terorisme tanpa melihat latar belakang agama," kata Marthinus dalam konferensi pers seusai Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi III DPR yang berlangsung tertutup di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (21/3/2022).

Bahkan, Marthinus mengungkap bahwa pelaku terorisme tidak hanya umat muslim, tapi juga ada yang berasal dari pemeluk agama lainnya.

Baca juga: Densus 88 Antiteror Ungkap Informasi Intelijen yang Mengejutkan ke DPR

Dia menambahkan, pihaknya sudah pernah mengungkap adanya pelaku terorisme dari agama lain seperti Kristen.

"Kita saat ini juga menangani kasus terorisme yang yang bukan beragama muslim juga kita tangkap, seperti yang kemarin terakhir menyerang seperti Alam Sutera itu namanya Leopard orang Kristen, kita tangkap, proses. Kemudian yang baru-baru ini menyerang pos polisi yang dilakukan oleh kelompok yang menamakan dirinya Anarko kita proses dengan undang-undang," bebernya.

Baca juga: Banyak Info Intelijen, Rapat DPR dan Densus 88 Tertutup

Marthinus menegaskan bahwa pihaknya tidak pandang bulu dalam melakukan penindakan aksi terorisme. "Artinya kita tidak pandang bulu dalam menangani," tegasnya.

Sementara untuk masalah Papua, kata Marthinus, dalam hal ini semua harus melihat dari sisi yang lebih luas lagi dan masalah Papua harus diselesaikan bersama-sama, bukan hanya Polri, tapi semua elemen harus melihat ini dan menyelesaikannya.

Baca Juga: Salurkan BLT BBM kepada 20,65 Juta KPM, Ini Strategi Pos Indonesia

Menurut dia, saat ini kepentingan yang terpenting adalah bagaimana menjaga Papua itu tidak boleh lepas dari Indonesia.

"Kita punya model-model penanganan orang-orang yang punya keinginan untuk separatis contohnya Aceh, apakah Aceh ditangani dengan Undang-Udang Terorisme? Enggak. Kita punya kepentingan untuk tetap mempertahankan Papua sebagai bagian dari Indonesia. Jadi bukan masalah penyelesaian terornya tapi yang terpenting adalah bagaimana menyelesaikan mereka tidak punya keinginan untuk merdeka itu lebih penting," terang Marthinus.

"Artinya pendekatan yang dilakukan terhadap Papua itu lebih harus lebih komprehensif, tidak sekedar sekedar menyelesaikan. Kekerasan-kekerasan itu ekses dari para keinginan daripada kehendak kita harus menyelesaikan kehendaknya bukan perbuatan aktualnya itu lebih penting," tandasnya.

Baca juga: Bahas Penanganan Terorisme, Komisi III DPR Rapat dengan Densus 88 Hari Ini

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini