Share

13 Tradisi Unik yang Dilakukan Masyarakat Indonesia Sambut Ramadan

Alyssa Nazira, Okezone · Jum'at 18 Maret 2022 14:21 WIB
https: img.okezone.com content 2022 03 18 337 2563876 13-tradisi-unik-yang-dilakukan-masyarakat-indonesia-sambut-ramadan-rOE5KhCF6A.jpg ilustrasi: freepik

BULAN Ramadan menjadi bulan yang paling ditunggu-tunggu oleh semua umat muslim di seluruh dunia. Bulan diturunkannya kitab suci Alquran tersebut, merupakan bulan dimana seluruh umat muslim wajib menjalankan ibadah puasa selama satu bulan penuh.

 (Baca juga: 5 Tradisi Ramadan Unik dari Seluruh Dunia, Ada yang dari Indonesia)

Indonesia sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia, tentunya sangat menyambut baik datangnya bulan Ramadan ini. Dengan keberagamannya, banyak tradisi-tradisi dalam menyambut bulan Ramadan yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia.

Berikut 13 tradisi unik yang dilakukan masyarakat Indonesia dalam menyambut bulan Ramadan dilansir dari Dinas Kebudayaan Jakarta, Jumat (18/32022).

1. Munggahan, Jawa Barat

Munggahan merupakan tradisi masyarakat Islam suku Sunda untuk menyambut datangnya bulan Ramadan. Acara ini biasanya dilakukan pada akhir bulan Sya’ban, yaitu satu atau dua hari menjelang Ramadan. Bentuk pelaksanaannya bervariasi, seperti berkumpul bersama keluarga dan kerabat, makan bersama dan saling bermaaf-maafan, serta mengadakan doa bersama. Selain itu, ada pula yang mengunjungi tempat wisata bersama keluarga, berziarah ke makam orang tua atau leluhur, serta mengamalkan sedekah munggah (sedekah pada sehari menjelang bulan puasa).

2. Nyorog, Betawi

Nyorog adalah tradisi masyarakat Betawi menyambut bulan suci Ramadan. Kegiatan yang dilakukan dalam tradisi Nyorog adalah berbagi bingkisan makanan ke sanak saudara dan keluarga yang tinggalnya berjauhan. Sebab, masyarakat Betawi pada zaman dulu memiliki tempat tinggal yang berjauhan antara satu dengan yang lainnya. Pada masa itu antara rumah satu dengan rumah lainnya dibatasi oleh hutan atau kebun yang luas.

Bingkisan makanan yang dikirimkan dalam tradisi Nyorog ini berupa kue-kue, atau bahan makanan mentah, yaitu gula, susu, kopi, sirup, beras, ikan bandeng dan daging kerbau. Terkadang bingkisan dari nyorog itu berupa makanan khas Betawi yang dimasukkan ke dalam rantang, misalnya saja sayur gabus pucung. Tradisi ini dilakukan sebagai tanda penghormatan dari orang yang lebih muda kepada orang yang lebih tua. Biasanya dilakukan oleh anak muda atau pasangan yang baru menikah ke orang tua mereka masing-masing.

3. Meugang, Aceh

Tradisi tahunan yang dilakukan oleh masyarakat Aceh sebelum memasuki bulan puasa dan Hari Raya Idul Fitri maupun Idul Adha. Tradisi ini lahir pada masa Kerajaan Aceh (tahun 1607-1636 Masehi). Kala itu, Sultan Iskandar Muda memotong hewan dalam jumlah besar dan membagikan dagingnya kepada seluruh rakyat  Aceh sebagai ungkapan rasa syukur dan tanda terima kasih kepada rakyatnya. Alhasil, tradisi ini pun mulai mengakar di antara masyarakat dan dilaksanakan dalam menyambut hari-hari besar umat Islam hingga saat ini.

Meugang dilakukan dengan memasak daging dalam jumlah besar dan menyantapnya bersama keluarga, kerabat, dan anak-anak yatim piatu. Daging yang sudah dimasak tersebut juga terkadang dibagikan ke masjid untuk dimakan oleh tetangga dan warga lain, sehingga semua orang dapat merasakan kebahagiaan melalui sedekah dan kebersamaan.

4. Malamang, Sumatra Barat

Malamang memiliki arti memasak lamang. Lamang merupakan sajian yang terbuat dari beras ketan putih dan santan yang dikukus di dalam batang bambu muda. Malamang sendiri merupakan salah satu tradisi turun-temurun masyarakat Sumatra Barat yang dilakukan oleh para ibu-ibu dalam menyambut datangnya bulan Ramadan.

5. Apeman, Yogyakarta

Tradisi ini dilakukan dengan cara membuat ratusan kue apem secara tradisional oleh anggota keluarga Keraton Yogyakarta Hadiningrat. Dimulai dari proses ngebluk jeladren (membuat adonan), kemudian dilanjutkan dengan proses ngapem (memasak apem).

Tradisi ini dipimpin langsung oleh permaisuri sultan dan diikuti bersama oleh para wanita dari keluarga keraton lainnya. Tradisi Apeman dilakukan sebagai ungkapan rasa terima kasih dan syukur kepada Yang Maha Kuasa.

Baca Juga: Salurkan BLT BBM kepada 20,65 Juta KPM, Ini Strategi Pos Indonesia

6. Dugderan, Semarang

Kegiatan Dugderan biasanya dibuka oleh walikota dan dimeriahkan dengan sejumlah mercon dan kembang api. Selain itu terdapat juga arak-arakan kirab budaya yang dimulai dari halaman kantor balai kota hingga Masjid Agung Semarang, yang kemudian nantinya akan dilanjutkan dengan pembacaan suhuf halaqah dan penabuhan bedug. Tujuan dari tradisi ini ialah untuk mengumumkan awal dimulainya bulan suci Ramadan.

7. Pacu Jalur, Riau

Tradisi Pacu Jalur ini digelar oleh masyarakat di Kabupaten Kuantan Singingi, Riau menjelang bulan Ramadan dengan perayaan berupa pesta rakyat. Tradisi ini dilakukan dalam bentuk perlombaan mendayung perahu yang terbuat dari kayu pohon. Istilah Pacu Jalur sendiri datang dari kata Jalur yang berarti perahu dalam bahasa penduduk setempat. Tradisi yang dilakukan tiap tahunnya di Sungai Batang Kuantan ini, dilakukan sebagai penghibur dari rutinitas sehari-sehari sebelum memasuki bulan Ramadan.

8. Balimau, Minangkabau

Tradisi ini dilakukan dengan cara melakukan pemandian dengan jeruk nipis, yang bertujuan untuk membersihkan diri secara lahir dan batin, sebelum memasuki bulan suci Ramadan. Tradisi ini dilakukan satu atau dua hari sebelum memasuki bulan Ramadan dan dilaksanakan di kawasan yang dialiri oleh sungai ataupun memiliki tempat pemandian.

9. Nyadran, Jawa Tengah

Tradisi yang dilakukan dengan serangkaian kegiatan, dari mulai membersihkan makam keluarga, membawa sadranan atau makanan hasil bumi, lalu makan bersama (kenduri) ini diadakan satu bulan sebelum dimulainya puasa. Tradisi Nyadran dipercaya oleh masyarakat sebagai ritual pembersihan diri menjelang bulan suci, serta bentuk bakti kepada anggota keluarga yang telah meninggal dengan memanjatkan doa dan membersihkan makam.

10. Megengan, Jawa Timur

Megengan memiliki arti menahan. Tradisi ini dilakukan dengan mengadakan selamatan di masjid maupun mushola, yang dihadiri oleh warga di sekitarnya. Dalam Megengan, seorang ustadz akan memimpin doa untuk memohon keselamatan dan kekuatan dalam menjalankan ibadah puasa. Warga yang hadir akan membawa nasi (sego berkat), yang berisi sayur, lauk pauk, dan kue khas Jawa Timur.

Setelah pembacaan doa, warga yang hadir dapat mengambil sego berkat milik siapa saja dan menyantapnya. Tradisi ini dipercaya membawa nilai-nilai kebaikan seperti membawa rezeki, menanamkan sifat ikhlas, dan memupuk kebersamaan antar sesama umat Muslim.

11. Ziarah Kubro, Palembang

Tradisi Ziarah Kubro memiliki arti ziarah kubur atau merupakan kegiatan mengunjungi makam para ulama dan pendiri Kesultanan Palembang Darussalam atau ‘waliyullah’ secara massal. Tradisi ini hanya dikhususkan bagi kaum laki-laki, yang mengenakan pakaian serba putih dan melakukan pawai menuju sejumlah titik ziarah di Palembang. Tradisi ini berlangsung selama 3 hari berturut-turut. Momen ini juga digunakan sebagai waktu bagi peziarah untuk melakukan silaturahmi dengan sanak saudara dan sesama umat Muslim lainnya.

12. Padusan, Boyolali

Tradisi ini dilakukan dengan cara mendekati sumber mata air yang dipercaya oleh warganya bisa mendatangkan berkat dan rejeki, lalu masyarakat membersihkan diri di mata air tersebut. Tradisi ini dilakukan untuk membersihkan diri dalam menyambut datangnya bulan penuh berkah.

13. Kirab Dandangan, Kudus

Kirab Dandangan merupakan kirab (festival) yang dilakukan oleh masyarakat Kudus untuk menandai dimulainya ibadah puasa. Selama kirab berlangsung, desa-desa yang ada di Kudus akan menampilkan kehebatan desa mereka dengan cara mengarak kerajinan yang mereka buat dari Jalan Kiai Telingsing menuju Masjid Menara Kudus. Puncak dari tradisi ini adalah pementasan teatrikal sejarah perayaan Dandangan yang diisi oleh warga Kudus.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini