Share

BMKG Prediksi Puncak Musim Kemarau Akan Terjadi pada Agustus 2022

Binti Mufarida, Sindonews · Jum'at 18 Maret 2022 10:37 WIB
https: img.okezone.com content 2022 03 18 337 2563711 bmkg-prediksi-puncak-musim-kemarau-akan-terjadi-pada-agustus-2022-kWXbCIxQla.jpg Illustrasi (foto: dok Okezone)

JAKARTA - Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati melaporkan BMKG memprakirakan puncak musim kemarau akan terjadi pada bulan Agustus 2022 mendatang.

“Kapan puncak musim kemarau tahun ini terjadi? Puncak musim kemarau tahun 2022 di wilayah Indonesia diperkirakan umumnya terjadi pada bulan Agustus 2022 yaitu sebanyak 52,9% zona musim,” ungkap Dwikorita saat Jumpa Pers: Prakiraan Musim Kemarau 2022, Jumat (18/3/2022).

BACA JUGA:Dampak Musim Kemarau, Warga Ngawi Kesulitan Air Bersih 

Dwikorita pun menjelaskan, kedatangan musim kemarau umumnya berkaitan erat dengan peralihan peralihan angin baratan atau Monsun Asia menjadi angin Timuran atau Monsun Australia. Hingga Februari 2022, angin Monsun Asia masih cukup kuat sesuai dengan normalnya dan diperkirakan masih berlangsung hingga Maret 2022.

Dwikorita mengungkapkan, bahwa BMKG memprediksi peralihan angin monsun terjadi seiring aktifnya Monsun Australia pada akhir April 2022.

 BACA JUGA:NTT Alami Kemarau Panjang, Waspada Kekeringan dan Kebakaran Hutan!

“Dan mulai mendominasi wilayah Indonesia pada bulan Mei hingga Agustus 2022,” paparnya.

“Kemudian kami simpulkan bahwa dalam prakiraan musim kemarau Tahun 2022, musim kemarau pada tahun ini akan datang lebih lambat dibandingkan normalnya dengan intensitas yang mirip dengan kondisi musim kemarau biasanya,” ungkap Dwikorita.

Baca Juga: Salurkan BLT BBM kepada 20,65 Juta KPM, Ini Strategi Pos Indonesia

BMKG, kata Dwikrita telah merekomendasikan dalam menghadapi musim kemarau tahun 2022 menghimbau seluruh mitra Kementerian Lembaga Pemerintah Daerah dan berbagai pihak terkait serta masyarakat, dimohon untuk tetap mewaspadai wilayah-wilayah yang akan memasuki musim kemarau lebih awal dibanding normalnya.

“Kurang lebih sebanyak 26% zona musim di sebagian Sumatera, sebagian Jawa, juga Kalimantan bagian Selatan, sebagian Bali, sebagian Nusa Tenggara, di Maluku dan Papua bagian timur,” katanya.

Kemudian, Dwikorita juga menyampaikan perlu adanya peningkatan kewaspadaan dan antisipasi dini untuk wilayah-wilayah yang diprediksi akan mengalami musim kemarau lebih kering dari normalnya sebanyak 12% zona musim yaitu di Sumatera Utara bagian utara, sebagian Jawa Barat, Jawa Tengah bagian utara, sebagian Jawa Timur, sebagian Bali, sebagian Nusa Tenggara, sebagian Kalimantan, sebagian sulawesi dan Maluku.

“Kementerian lembaga pemerintah daerah serta institusi terkait dan seluruh masyarakat dimohon untuk lebih siap dan antisipatif terhadap kemungkinan dampak musim kemarau terutama di wilayah yang rentan terhadap bencana kekeringan meteorologis, kebakaran hutan dan lahan, dan ketersediaan air bersih,” kata Dwikorita.

Selain itu, Dwikorita meminta agar pemerintah daerah dapat lebih optimal melakukan penyimpanan air sebelum memasuki puncak musim kemarau yang diprediksi di bulan Agustus sebagian besar wilayah Indonesia.

“Penyimpanan Air ini diharapkan dapat ditampung untuk memenuhi danau, waduk, embung, kolam retensi dan penyimpanan air buatan lainnya di masyarakat melalui gerakan memanen air hujan," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini