Share

Kisah Pesawat Tempur Perang Dunia II Warisan Dai Nippon Pengawal Kemerdekaan RI

Fahmi Firdaus , Okezone · Kamis 17 Maret 2022 14:03 WIB
https: img.okezone.com content 2022 03 17 337 2563221 kisah-pesawat-tempur-perang-dunia-ii-warisan-dai-nippon-pengawal-kemerdekaan-ri-lF2cQrEEjk.jpg Pesawat Hayabusha. TNI AU/ist

KEKUATAN udara Indonesia semakin diperhitungkan setelah membeli jet tempur multi-peran asal Prancis, Dassault Rafale. TNI AU resmi mempunyai 6 unit pesawat tempur canggih tersebut. Secara keseluruhan, jumlah jet tempur Rafale yang akan diakuisisi mencapai 42 pesawat.

(Baca juga: Spesifikasi dan Misi Tempur Rafale, Jet Tempur Canggih Calon Penjaga Langit Nusantara)

Dengan akan datangnya jet tempur Rafale, maka Indonesia mengukuhkan sebagai negara yang memiliki militer terkuat di ASEAN dan peringkat 15 negara seluruh dunia. Hal tersebut berdasarkan situs pemeringkat militer dunia, Global Firepower (GFP) yang menempatkan kekuatan militer Indonesia di peringkat ke-15 dari 140 negara di dunia pada 2022.

Sebelumnya, TNI AU juga memiliki beberapa jenis pesawat tempur, yaitu Sukhoi Su-27, Su-30 dan F-16 Fighting Falcons dari Amerika Serikat.

Pesawat Peninggalan Jepang

Namun Tahukah Anda, Indonesia memiliki sejumlah pesawat peninggalan Tentara Jepang Dai Nippon usai kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945.

(Baca juga: Aksi Memukau Pasukan Elite Baret Jingga Terjun Tempur Free Fall)

Saat itu, Pangkalan Udara Maguwo di Yogyakarta, merupakan satu pusat kekuatan udara republik yang diserang Belanda. Akibatnya, dari 40 sisa pesawat peninggalan Jepang di Maguwo, tersisa empat unit saja, yakni dua unit pesawat latih Cureng (Yokosuka K5Y), satu unit Pesawat Guntai (Ki-51), dan satu lagi Pembom Hayabusha (Nakajima Ki-43) yang diberi nama Pangeran Diponegoro I.

Serangan militer Belanda ke sejumlah wilayah semakin masif dan membuat para kombatan republik mesti menyingkir ke pedalaman untuk bergerilya.

Namun di satu sisi perlu ada shock therapy (terapi kejut), untuk membuktikan kekuatan republik tak serta-merta habis, akibat agresi militer Belanda berkode “Operatie Product”.

Serangan revans pun mulai mucul di benak para kadet yang kemudian, disampaikan ke Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Komodor Udara Soerjadi Soerjadarma oleh perwakilan kadet, Suharnoko Harbani.

Melansir buku ‘Awal Kedirgantaraan di Indonesia: Perjuangan AURI 1945-1950’, awalnya gagasan itu ditentang KSAU lantaran menganggap para kadet masih terlalu muda. Namun para kadet keukeuh ingin unjuk gigi seperti para kombatan republik lainnya yang bergerilya di pedalaman.

“Saya tidak memerintahkan, tapi juga tidak melarang,” jawab KSAU kala itu dengan menatap tajam mata Kadet Suharnoko.

Seolah mendapat lampu hijau, dua pesawat Cureng, satu Guntei dan satu Pembom Hayabusa pun dipersiapkan dengan tingkat kerahasiaan tinggi. Para teknisi pun tak tahu alasan mereka memodifikasi sejumlah pesawat agar bisa dipasangi sejumlah bom di bawah sayap pesawat, hingga hari H serangan, 29 Juli.

Tapi sayangnya, Pesawat Hayabusa “Pangeran Diponegoro I” hingga beberapa jam pemberangkatan serangan, belum juga bisa diperbaiki. Oleh sebab itu, hanya diterbangkan dua Pesawat Cureng dan satu Guntai dengan sasaran militer Belanda di Semarang dan Salatiga, Jawa Tengah, sebagaimana rancangan Wakil KSAU Urusan Operasi, Komodor Udara Abdul Halim Perdanakusuma.

Salah satu pesawat yang tersisa saat itu adalahNakajima Ki-43 Hayabusa "Alap-alap kawah",. Pesawat ini merupakan pesawat tempur yang digunakan Pasukan Udara Angkatan Darat Kekaisaran Jepang saat Perang Dunia II.

Kala itu, Jepang awalnya memposisikan sebagai saudara tua bagi Indonesia dengan membawa semangat 3A, yaitu Nippon Cahaya Asia, Nippon Pelindung Asia, dan Nippon Pemimpin Asia. Namun sama halnya dengan Belanda, penjajahan Jepang malah banyak memberikan kerugian terhadap rakyat Indonesia.

Baca Juga: Peringati Hari Lahir Pancasila, Pengawas KKP Lakukan Upacara Bawah Laut

Melansir TNI AU, Komodor Muda Udara Prof. Dr. Abdulrachman Saleh dan Opsir Muda III Hanandjoeddin terbang menggunakan pesawat pemburu Hayabusa dari Pangkalan Udara Bugis, Malang ke Pangkalan Udara Maguwo Yogyakarta pada 17 Maret 1947 atau tepat 75 tahun silam.

Pesawat tersebut diterbangkan setelah berhasil diperbaiki oleh OMU III Hanandjoeddin dan terbang ke PU Maguwo untuk menambah kekuatan udara di Pangkalan Udara Maguwo.

Setelah tiba di Yogjakarta, Pesawat Hayabusha diberi registrasi HN 201, dan Abdulrachman Saleh dan Hananjoeddin kemudian menghadap Komodor Udara Soerjadi Soejadarma di Markas Tinggi AURI untuk meminta petunjuk.

Komodor Udara Soerjadi Soejadarma mengajak Abdukrachman Saleh dan Hananjoeddin untuk menghadap Presiden RI Soekarno di Gedung Agung yang merupakan Istana Presiden.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini