Share

4 Tokoh Perempuan Hebat Asal Aceh, dari Sulthanah Shafiatuddin hingga Cut Nyak Dien

Tim Litbang MPI, MNC Portal · Selasa 15 Maret 2022 06:34 WIB
https: img.okezone.com content 2022 03 14 337 2561422 4-tokoh-perempuan-hebat-asal-aceh-dari-sulthanah-shafiatuddin-hingga-cut-nyak-dien-1gCwjwvAju.jpg Cut Nyak Dien (Ist)

INDONESIA tak kekurangan tokoh perempuan hebat yang berjuang pada masa sebelum kemerdekaan. Mereka berasal dari banyak daerah di Nusantara, termasuk dari Aceh. Berikut adalah 4 tokoh perempuan hebat dari tanah Aceh, sebagaimana dirangkum pada Selasa (15/3/2022) :

Sulthanah Shafiatuddin

Kerajaan Aceh pernah dipimpin oleh seorang perempuan hebat di tahun 1641 – 1675. Ia adalah Sulthanah Shafiatuddin. Perempuan yang lahir pada tahun 1612 ini naik takhta usai suaminya, Sultan Iskandar Tsani, wafat. Ketika itu, sangat sulit mencari pengganti pemimpin bagi Aceh. Terlebih, sang Sultan tidak memiliki keturunan atau kerabat laki-laki. Jadi, istrinya yang harus menggantikannya. Penobatan Shafiatuddin bukan tanpa protes. Banyak pihak yang enggan menerima, sebab keberadaan pemimpin perempuan sangat tidak lazim pada masa itu.

Menepis semua keraguan, Shafiatuddin justru berperan besar bagi Aceh. Ia membentuk barisan perempuan pengawal kerajaan yang turut andil dalam Perang Malaka tahun 1639. Aceh mengalami lonjakan ekonomi pesat di bawah komando Shafiatuddin. Disebutkan, pelabuhan Aceh sangat sibuk melayani kapal-kapal dagang luar negeri.

Shafiatuddin wafat pada 1975. Setelahnya, banyak perempuan-perempuan Aceh lain yang juga turut menjadi sultanah. Contohnya adalah Sultanah Kamalat Syah Zinat al-Din dan Sultanah Zaqi al-Din Inayat Syah.

Laksamana Malahayati

Tanah Aceh patut bangga lantaran laksamana perempuan pertama berasal dari negeri tersebut. Tidak hanya di Indonesia, Malahayati bahkan menjadi laksamana perempuan pertama di dunia. Perempuan kelahiran Aceh Besar tahun 1550 ini merupakan pejuang perempuan tangguh dan keturunan Sultan Aceh. Laman Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional Indonesia (IKPNI) menyebut, Malahayati berperan dalam perlawanan bangsa penjajah, terutama Portugis dan Belanda.

Malahayati merupakan cicit dari Sultan Aceh, Sultan Salahuddin Syah, yang memerintah sepanjang tahun 1530 hingga 1539. Kecintaannya terhadap Angkatan Laut sudah ia tunjukkan sejak kecil. Bagaimana tidak, ayahnya, Mahmud Syah, adalah seorang Laksamana Angkatan Laut. Malahayati menempuh pendidikan militer di Akademi Militer Mahad Baitul Maqdis.

Satu kisah yang sangat terkenal dari Malahayati adalah ketika ia meminta kepada Sultan Aceh untuk membentuk pasukan perang yang terdiri dari para janda prajurit Aceh yang gugur di medan perang. Permintaan tersebut dikabulkan dan Malahayati menjadi pemimpinnya. Pasukan itu dikenal dengan nama Inong Balee.

Pasukan tersebut berhasil mengantam pasukan Cornelis de Houtman, tahun 1599. Malahayati akhirnya gugur pada 1606 saat pertempuran dengan pasukan Portugis di Selat Malaka. Nama Malahayati kemudian abadi sebagai tokoh perempuan dari Tanah Rencong. Ia diangkat sebagai pahlawan nasional berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 115/TK/Tahun 2017 tertanggal 6 November 2017.

Cut Nyak Dien

Nama Cut Nyak Dien juga dipastikan tidak akan absen dari deretan tokoh perempuan hebat asal Aceh. Ia ikut berperan dalam perang melawan penjajah Belanda. Perempuan bangsawan Aceh kelahiran tahun 1848 ini sudah mendapat pendidikan agama dari orang-orang di sekelilingnya. Cut Nyak Dien menikah dengan Teuku Ibrahim.

Namun, sang suami gugur dalam pertempuran dengan Belanda. Setelahnya, ia menikah lagi dengan panglima perangnya, Teuku Umar. Lagi-lagi, suaminya tewas di tangan Belanda. Setelah suaminya gugur, Cut Nyak Dien tetap melanjutkan perjuangannya melawan Belanda. Ia kemudian ditangkap Belanda dan diasingkan ke Sumedang pada 1905. Cut Nyak Dien meninggal dunia 3 tahun setelahnya, masih dalam kondisi diasingkan.

Cut Nyak Meutia

Tokoh perempuan hebat dari Aceh selanjutnya adalah Cut Nyak Meutia. Ia dikenal sebagai sosok perempuan cantik jelita dengan keberanian tinggi. Ia lahir di Aceh Utara, 15 Februari 1870 dan wafat dalam usia 40 tahun.

Kecantikan yang dimiliki Cut Nyak Meutia membuat ia digandrungi oleh banyak pria. Bahkan, penampilan dan sosok Cut Nyak Meutia dikatakan sama indahnya dengan mutiara. Ia akhirnya menikah saat usianya baru menginjak 20 tahun dengan Teuku Syamsarif. Namun, pernikahan keduanya tidak begitu bahagia. Sebab, Syamsarif sangat tunduk terhadap Belanda. Keduanya pun berpisah.

Cut Nyak Meutia kembali membangun rumah tangga bersama Teuku Cik Tunong. Bersama sang suami, Cut Nyak Meutia ikut memberikan perlawanan kepada Belanda yang kala itu sudah mulai menyerang Aceh. Ia tak segan keluar masuk hutan untuk melawan Belanda. Namun, Teuku Cik Tunong tertangkap Belanda dan dijatuhi hukuman mati.

Cut Nyak Meutia kemudian menikah lagi dengan seorang pejuang bernama Cik Pang Nangru. Keduanya sangat semangat dalam melakukan penyergapan patroli-patroli Belanda. Sudah banyak tentara yang tewas di tangan Cut Nyak Meutia. Sayangnya, ia gugur pada 1910 setelah 3 timah panas menembus tubuhnya. (diolah dari berbagai sumber/Ajeng Wirachmi/Litbang MPI)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini