Share

Di Hadapan Ulama Thoriqah, Mahfud MD Sampaikan Bahaya Radikalisme

Riezky Maulana, iNews · Senin 14 Maret 2022 08:49 WIB
https: img.okezone.com content 2022 03 14 337 2561097 di-hadapan-ulama-thoriqah-mahfud-md-sampaikan-bahaya-radikalisme-KVGJ3DZwJL.jpg Menko Polhukam Mahfud MD (Foto : Istimewa)

JAKARTA - Menko Polhukam Mahfud MD menegaskan salah satu ancaman dalam merawat kebersatuan hidup berbangsa dan bernegara adalah radikalisme. Karena itu, setiap individu berhak untuk merawat NKRI.

Hal ini ditegaskan Mahfud di hadapan pimpinan thoriqah yang tergabung dalam Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh Al Mu’tabaroh An Nahdliyyah (Jatman) saya Musyawarah Nasional di Bengkulu, Minggu 13 Maret 2022.

"Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai anugrah Allah yang kita miliki, harus kita rawat. Salah satu yang mengancam dalam merawat NKRI ini adalah radikalisme, yaitu satu gerakan yang ingin membongkar kesepakatan-kesepakatan dalam hidup bernegara sebagai Darul Mitsaq," ujar Mahfud.

Mahfud menjelaskan, bagaimana membumikan nilai-nilai luhur thoriqoh untuk memperkokoh NKRI. Menurut dia, negara yang dibangun dengan kesempatan tidak boleh dibongkar dengan cara melanggar hukum.

"Kita membangun NKRI berdasarkan ijtihad para ulama. Ulama thoriqoh memberikan sumbangan besar bagi berdirinya negara ini," imbuhnya.

Mahfud berharap, para pengamal thoriqoh yang tergabung di Jatman senantiasa mendukung pemerintahan yang sah. Selain itu dia meminta agar selalu berikhtiar meningkatkan kualitas sumber daya manusia, dzikir, serta pengembangan di bidang mental dan spiritual melalui amalan thoriqiah.

"Jatman sebagai organisasi yang menghimpun dan menjadi payung besar bagi para pengamal berbagai ajaran thoriqoh di Indonesia, semoga senantiasa menegaskan kecintaannya kepada bangsa dan negara Indonesia," tuturnya.

Dia menjelaskan tiga tingkatan radikalisme, yaitu jihadis, takfiri, dan radikalisme ideologi. Menurut Mahfud, Jihadis adalah paling ekstrim yang meyakini melakukan pembunuhan kepada orang lain yang tidak sepaham, atau bahkan membunuh orang dan kelompok tertentu yang dianggap menghalang-halangi terwujudnya paham mereka.

Mahfud mencontohkan gerakan yang dilakukan ISIS dan beberapa kelompok terorisme lainnya di Indonesia.

"Mereka tidak hanya menyerang kelompok yang dianggap sebagai lawan, tetapi juga pihak yang dipandang menghalangi tujuan mereka, misalnya Polri," jelasnya.

Sedangkan Takfiri menurut Mahfud, yaitu paham yang menganggap paham lain, walaupun satu agama, adalah paham yang sesat, kafir, yang tidak saja harus dijauhi tetapi harus dimusuhi.

"Selanjutnya tingkatan radikalisme terakhir yang lunak namun tetap berbahaya adalah radikalisme ideologis. Mereka memiliki paham tertentu yang dianggap paling benar dan menyalahkan paham yang dianut orang lain, bahkan paham nasional seperti Pancasila pun disebut sesat," ungkapnya.

"Masuk ke sekolah-sekolah, bilang negara kita ini salah. Murid, santri diracuni, menganggap negara bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh Islam," katanya melanjutkan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini