Share

Silsilah Kerajaan Kediri, Raja-rajanya Keturunan Raja Airlangga

Tim Okezone, Okezone · Senin 07 Maret 2022 11:28 WIB
https: img.okezone.com content 2022 03 07 337 2557435 silsilah-kerajaan-kediri-raja-rajanya-keturunan-raja-airlangga-MxKE6iRpMf.jpg Silsilah Kerajaan Kediri. (Foto: Candi Singasari yang jadi tempat pendermaan Raja Kertanegara/Sindonews)Sindonews

JAKARTA - Para raja di Kerajaan Kediri merupakan keturunan dari Raja Airlangga. Kerajaan Kediri merupakan salah satu kerajaan besar di nusantara.

Raja Airlangga merupakan raja yang berkuasa di kerajaan Medangkamulan. Di tengah kejayaannya, Airlangga kemudian memindahkan pemerintahan ke wilayah Kahuripan.

Kerajaan ini disebut dengan Panjalu dengan pusat pemerintahan berada di Daha. Kisah ini tertuang dalam kitab Negarakertagama.

Airlangga memiliki dua putra yakni, Sri Samarawijaya dan Mapanji Garasakan. Kedua putra Airlangga ini ternyata saling berebut kekuasaan. Demikian dilansir dari laman Pemkot Kediri.

Selanjutnya, untuk menghindari bentrokan pada tahun 1041, Airlangga membagi kerajaannya menjadi dua. Kerajaan tersebut adalah Jenggala (Kahuripan) dan Panjalu (Kediri). Kedua kerajaan ini dipisahkan oleh Gunung Kawi dan sungai Brantas.

Sri Samarawijaya mendapatkan kerajaan wilayah barat yakni Kerajaan Panjalu dengan pusat pemerintahan di kota Daha. Sementara Mapanji Garasakan mendapatkan kerajaan wilayah timur yang bernama Janggala dengan pusat pemerintahan di Kahuripan.

Pembagian dua kerajaan ini dikisahkan dalam prasasti Mahasukbya, serat Calon Arang dan kitab Negarakertagama.

Kerajaan Panjalu akhirnya dikenal dengan nama Kediri, memiliki wilayah kekuasaan diantaranya Kediri dan Madiun. Sementara wilayah kekuasaan kerajaan Janggala meliputi daerah Malang dan delta sungai Brantas dengan pelabuhannya Surabaya, Rembang dan Pasuruhan.

Meski kerajaan sudah terbagi dua, namun kedua anak Airlangga merasa berhak atas seluruh tahta Airlangga. Sehingga peperangan terus terjadi diantara kedua kerajaan.

Peperangan antara Panjalu dan Jenggala terus terjadi selama 60 tahun lamanya. Meski di awal peperangan Jenggala menang, namun Panjalu lah yang mampu menguasai seluruh tahta Airlangga.

Dengan kemenangan Panjalu ini, akhirnya ibukota kerajaan dipindahkan dari Daha ke Kediri. Akhirnya Panjalu lebih dikenal dengan nama Kediri.

Kisah awal kerajaan Kediri ini banyak tertuang dalam kitab sastra. Hasil kitab sastra ini salah satunya kitab Kakawin Bharatayudha yang ditulis Mpu Sedah dan Mpu Panuluh. Sastra ini menceritakan tentang kemenangan Kediri atau Panjalu atas Jenggala.

Kerajaan Kediri berdiri sejak tahun 1045 M. Kerajaan besar ini runtuh pada tahun 1222 M. Selama 177 tahun berdiri, ada 8 raja yang berkuasa.

Salah satunya adalah Sri Aji Jayabaya yang membawa Kediri pada jaman keemasan. Bahkan beberapa ramalan Jayabaya terbukti kebenarannya di masa sekarang ini.

Baca Juga: Dukung Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, Kabupaten Morowali Hibahkan Tanah ke KKP

Berikut ini adalah para raja dari Kerajaan Kediri yang tercatat dalam berbagai prasasti dan kitab kuno.

1. Sri Samarawijaya

Sri Samarawijaya adalah raja pertama dari Kerajaan Kadiri. Pemerintahannya dimulai dari tahun 1042. Sri Samarawijaya memiliki gelar lengkap Sri Samarawijaya Dharmasuparnawahana Teguh Uttunggadewa.

Dalam prasasti Pucangan (tahun 1041) Samarawijaya memiliki jabatan sebagai Rakryan Mahamantri. Pada masa kekuasan Raja Airlangga dan raja-raja sebelum Airlangga, jabatan ini yang paling tinggi setelah raja. Jabatan ini mirip dengan status putra mahkota, pada umumnya dijabat oleh putra atau menantu raja.

Pemerintahan Raja Samarawijaya dikenal sebagai masa kegelapan karena pada masa ini tidak ada bukti prasasti sama sekali. Berdasarkan cerita dalam prasasti Pamwatan dan prasasti Gandhakuti, Raja Samarawijaya naik takhta di saat Airlangga turun takhta menjadi seorang pendeta.

Akhir pemerintahan dari Raja Samarawijaya tidak diketahui dengan pasti. Prasasti yang menceritakan nama raja Kadiri selanjutnya adalah prasasti Sirah Keting tahun 1104 M. Prasasti ini dibuat oleh Raja Sri Jayawarsa. Tidak diketahui apakah Raja Sri Jayawarsa merupakan pengganti dari Raja Sri Samarawijaya, ataukah masih ada raja lainnya di antara keduanya.

2. Sri Jayawarsa

Sri Jayawarsa memerintah di tahun 1104 M. Sri Jayawarsa bergelar Sri Maharaja Jayawarsa Digjaya Sastraprabhu. Tidak diketahui kapan pastinya Raja Jayawarsa naik takhta sebagai raja Kerajaan Kediri.

Kisah Raja Jayawarsa tercatat dalam prasasti Sirah Keting tahun 1104 M. Dalam prasasti ini dikisahkan jika Sri Jayawarsa sangat mencintai semua rakyatanya. Bahkan dirinya selalu berusaha untuk meningkatkan kesejahteraan seluruh rakyat. Prasasti Sirah Keting berisi tentang pengesahan desa Marjaya sebagai tanah perdikan atau sima swatantra.

Tidak diketahui secara pasti kapan Raja Jayawarsa turun takhta. Dari prasasti Panumbangan (tahun 1120 M) hanya menyebut makamnya yakni di daerah Gajapada.

3. Raja Bameswara

Raja Bameswara disebut sebagai raja yang berkuasa selanjutnya di Kerajaan Kediri. Hal ini diketahui dari isi prasasti Pikatan tahun 1117 M. Masa pemerintahan Raja Bameswara banyak catatan yang ditemukan. Prasasti-prasasti ini ditemukan di wilayah Tulungagung dan Kertosono.

Dalam prasasti tersebut banyak memuat masalah keagamaan. Dari kondisi ini bisa diketahui kondisi pemerintahan yang sangat baik.

Tidak diketahui, kapan raja Brameswara turun takhta. Berdasarkan Prasasti Ngantang, raja selanjutnya yang berkuasa adalah Raja Sri Jayabaya.

4. Sri Jayabaya

Dari catatan yang ada, Sri Jayabaya berkuasa sekitar tahun 1135 M hingga 1157 M. Raja ini bergelar Sri Maharaja Sang Mapanji Jayabhaya Sri Warmeswara Madhusudana Awataranindita Suhtrisingha Parakrama Uttunggadewa.

Pada masa pemerintahan Jayabaya, Kerajaan Kediri mencapai puncaknya. Pada masa tersebut, Panjalu mampu mengalahkan Jenggala dan menguasai seluruh takhta Airlangga. Dalam pemerintahan Jayabaya, seluruh wilayah Kediri bisa bersatu.

Banyak catatan prasasti yang ditinggalkan pada masa ini. Catatan prasasti yang ditemukan yakni prasasti Hantang (tahun 1135 M), prasasti Talan (tahun 1136 M), dan prasasti Jepun (tahun 1144 M). Tidak hanya itu, terdapat juga karya sastra berupa kakawin Bharatayuddha (tahun 1157 M).

Dalam babad Tanah Jawi dan Serat Aji Pamasa disebut jika Raja Jayabaya merupaka titisan Dewa Wisnu. Raja ini memimpin negara yang bernama Widarba dengan ibu kota di Mamenang.

Ayah Jayabaya adalah Gendrayana. Gendrayana merupakan putra dari Yudayana, putra dari Parikesit, putra dari Abimanyu, putra dari Arjuna dari keluarga Pandawa.

Permaisuri Raja Jayabaya bernama Dewi Sara. Jayabaya diketahui memiliki 4 anak yakni Jayaamijaya, Dewi Pramesti, Dewi Pramuni dan Dewi Sasanti.

Jayaamijaya menurunkan raja-raja di tanah Jawa, bahkan sampai Kerajaan Majapahit dan juga Kerajaan Mataram Islam. Sedangkan Pramesti menikah dengan Astradarma raja dari Yawastina, melahirkan seorang anak bernama Anglingdarma raja dari Malawapati.

Dalam pemerintahannya Jayabaya menerapkan strategi untuk mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran bagi seluruh rakyatnya. Kerajaan pada masa ini sangat makmur, baik dari pertanian maupun perdagangan. Secara ekonomi rakyat Kediri kehidupannya terjamin. Kekuasaan kerajaan juga meluas hingga seluruh pulau Jawa dan Sumatera.

Jayabaya turun takhta dengan cara muksa atau hilang tanpa meninggalkan jasad. Sebelum menghilang, Jayabaya bertapa terlebih dahulu di Desa Menang Kecamatan Pagu Kabupaten Kediri. Setelahnya, mahkota (kuluk) dan juga pakaian kebesarannya (ageman) dilepas, kemudian raja Jayabaya menghilang.

Jayabaya terkenal dengan ramalannya, Jangka Jayabaya. Ramalan ini beberapa sudah terbukti kebenarannya di era peradaban modern saat ini.

5. Sri Sarweswara

Raja Sri Sarweswara memerintah pada tahun 1159 – 1161. Raja ini bergelar Sri Maharaja Rakai Sirikan Sri Sarweswara Janardanawatara Wijaya Agrajasama Singhadani Waryawirya Parakrama Digjaya Uttunggadewa.

Sri Sarwaswera adalah salah satu raja Kediri yang terkenal sebagai raja yang sangat religius dan juga berbudaya. Hal ini dikisahkan dalan Prasasti Padelegan II tahun 1159 M dan Prasasti Kahyunan tahun 1161 M.

Sebagai raja yang taat agama dan budaya, prabu Sarwaswera memegang teguh dengan prinsip tat wam asi yang artinya Dikaulah itu.

Pemikiran ini berarti dikaulah (semuanya) itu, semua makhluk ialah engkau. Tujuan hidup manusia menurut dari prabu Sarwaswera yang terakhir ialah moksa, yaitu pemanunggalan jiwatma dengan paramatma. Jalan menuju benar ialah sesuatu yang menuju kearah kesatuan dan segala sesuatu yang menghalangi kesatuan ialah tidak benar.

Tidak diketahui secara pasti kapan Raja Sri Sarweswara turun takhta. Berdasarkan isi prasasti Angin tahun 1171 M, raja selanjutnya yang memimpin Kerajaan Kediri adalah Raja Sri Aryeswara.

6. Sri Aryeswara

Sri Aryeswara adalah raja Kediri yang berkuasa pada tahun 1171 M. Raja ini bergelar Sri Maharaja Rake Hino Sri Aryeswara Madhusudanawatara Arijamuka. Pemerintahan Sri Aryeswara diketahui dari prasasti Angin, tanggal 23 Maret 1171.

Prasasti tersebut menyebut bahwa raja yang kelima dari Kerajaan Kediri adalah Sri Aryeswara yang bergelar Sri Maharaja Rake Hino Sri Aryeswara Madhusudanawatara Arijamuka. Sementara lambang dari pemerintahannya adalah Ganesha.

Hanya sedikit catatan yang bisa diketahui tentang raja ini. Dari prasasti Jaring disebut, kekuasaan Sri Aryeswara dilanjutkan oleh raja Sri Gandra.

7. Sri Gandra

Raja Sri Gandra berkuasa pada 1811 M. Gelar yang dipangkunya adalah Sri Maharaja Koncaryadipa Handabhuwanapadalaka Parakrama Anindita Digjaya Uttunggadewa Sri Gandra.

Masa kepemimpinan raja Sri Gandra terkutip dalam prasasti Jaring (1181 M). Prasasti tersebut menceritakan sang raja yang mengabulkan keinginan rakyat Desa Jaring tentang anugerah raja sebelumnya yang belum terwujud. Pengabulan permohonan ini disampaikan melalui senapati Sarwajala.

Di prasasti tersebut juga diceritakan adanya nama hewan yang digunakan untuk menunjukkan tinggi rendahnya kepangkatan dalam istana. Nama yang tersebut misalnya Menjangan Puguh, Lembu Agra dan Macan Kuning. Tidak diketahui kapan pastinya berakhirnya pemerintahan Raja Sri Gandra. Raja dari Kadiri ini selanjutnya berdasarkan isi dari prasasti Semanding pada tahun 1182 adalah Raja Sri Kameswara.

8. Sri Kameswara

Sri Kameswara adalah raja ketujuh dari Kerajaan Kediri, hal ini tercantum dalam Prasasti Ceker tahun 1182 M serta Prasasti Kakawin Smaradhan. Masa pemerintahan raja Sri Kameswara sekitar tahun 1180 M – 1190 M. Raja ini bergelar Sri Maharaja Sri Kameswara Triwikramawatara Aniwariwirya Anindhita Digjaya Uttunggadewa.

Di masa pemerintahan Sri Kameswara seni sastra berkembang sangat pesat. Salah satunya adanya Kitab Smaradhana karangan dari Mpu Dharmaja. Kitab ini berkisah tentang cerita rakyat seperti cerita Panji Semirang. Mpu Dharmaja juga menuliskan kisah tentang kelahiran dari Dewa Ganesha, yaitu dewa berkepala gajah yang merupakan anak dari Dewa Siwa. Ganesha menjadi lambang dari Kerajaan Kadiri sebagaimana yang tercatat dalam prasasti-prasasti.

Beberapa peninggalan sejarah pada masa pemerintahan ini diantaranya, prasasti Semanding (1182 M) dan prasasti Ceker (1185 M).

9. Sri Kertajaya

Sri Maharaja Kertajaya adalah raja terakhir dari Kerajaan Kediri. Raja ini berkuasa pada tahun 1194 M – 1222 M. Di masa raja Kertajaya, Kediri jatuh karena serangan kerajaan Tumapel atau Singashari.

Raja Kertajaya memiliki gelar Sri Maharaja Sri Sarweswara Triwikramawatara Anindita Srenggalancana Digjaya Uttunggadewa.

Nama Raja Kertajaya tercatat dalam teks Nagarakertagama (tahun 1365) yang ditulis setelah zaman Kerajaan Kadiri. Sementara dalam teks Pararaton Raja Kertajaya disebut dengan nama Prabu Dandhang Gendis.

Bukti sejarah masa pemerintahan Raja Kertajaya diantaranya tertuang dalam prasasti Galunggung (tahun 1194), prasasti Kamulan (tahun 1194), prasasti Palah (tahun 1197), dan prasasti Wates Kulon (tahun 1205).

Kestabilan pemerintahan Kerajaan Kediri pada pemerintahan raja Kertajaya mulai menurun. Kondisi ini karena raja bermaksud mengurangi hak-hak kaum Brahmana. Sang prabu ingin disembah sebagai dewa, kaum Brahmana menentang keputusan tersebut. Mereka memilih lari dan meminta bantuan dari kerajaan Tumapel dibawah kepemimpinan Ken Arok.

Mengetahui hal ini, Raja Kertajaya lalu mempersiapkan pasukan untuk menyerang Tumapel. Sementara itu. Ken Arok dan dukungan kaum Brahmana melakukan serangan balik ke Kerajaan Kediri. Kedua pasukan itu telah bertemu di dekat Ganter (1222 M).

Dalam pertempuran tersebut pasukan Kediri berhasil dikalahkan. Raja Kertajaya berhasil meloloskan diri , namun sayang nasibnya tidak diketahui. Sejak saat itu kekuasaan Kerajaan Kediri berakhir dan menjadi kekuasaan Tumapel.

1
5

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini